TAKE DOWN NOVEL INI

TAKE DOWN NOVEL INI
Semakin Penasaran


__ADS_3

"Apa jangan-jangan orang yang berpapasan dengan Gue di depan tadi---" batin Evan bertanya-tanya.


"Dan orang yang tadi diatas motor itu Nathan. Iya, benar dia Nathan," ucapnya masih di dalam hati.


"Kok dia bisa tahu rumah Stella ya? Padahal Gue saja baru tahu kali ini."


"Pakai kirim-kirim makanan segala."


"Lumayan juga sih Gue jadi bisa makan makanan mahal."


"Tetapi makanan tadi aman kan ya? Enggak beracun kan?"


"Sebenarnya apa maunya bocah itu?"


Pikiran Evan terus bergejolak, memikirkan ada hubungan apa Nathan. Rasa-rasanya dia selalu mengikuti kemanapun Stella berada. Dan saat ini sudah mulai mengirimkan makanan langsung ke rumah Stella. Ya, walaupun tanpa membuka identitas pengirimnya.


"Ini aneh. Benar-benar aneh. Sekarang Gue percaya seratus persen dengan kecurigaan Elva terhadap Nathan."


"Gue harus segara bicarakan hal ini pada Elva," pikirnya sembari mengusap dagunya yang gundul alias tak berewokan.


Dua sahabatnya perempuannya yang sedang membereskan meja makan. Kemudian mereka menatap aneh Evan yang tiba-tiba melamun. Sebelum akhirnya Stella mengangetkan dia.


"Sudah kenyang ngelamun ya!" bentak Stella sembari melambaikan tangannya dihadapan Evan.

__ADS_1


"Iya ni Evan," timpal Elva.


"Tumben melamun gitu," tambahnya.


Evan yang tersentak langsung membuyarkan pikirannya. Menggaruk kepalanya yang tidak gatal sembari memberikan senyum terpaksa.


"Biasalah kalau sudah kenyang jadi b390," ucap Evan beralasan.


Beres makan siang, mereka langsung menuju ruang keluarga. Masing-masing menghadap laptopnya dan mulai mengerjakan tugas. Sesekali diselingi canda dan tawa mereka yang renyah.


Tidak lupa mulut mereka juga tak berhenti mengunyah makanan yang tersedia. Berbagai makanan dengan berbagai rasa ada disana. Dan semuanya boleh dihabiskan kata si empunya rumah.


"Enak ya jadi orang kaya. Mau makan apa aja bisa," celetuk Evan.


"Iya beruntungnya sahabat kita, dilirik sama orang kaya. Mana langsung dinikahin lagi," sahut Elva.


"Kalau Elva semangat mengejar Pak Arthur ya," imbuhnya.


Setelah perkataan Stella itu, tawa mereka kembali terdengar memenuhi seisi ruang keluarga. Persahabatan mereka yang apa adanya membuat satu sama lain saling merasa memiliki dan nyaman. Itulah resep persahabatan tanpa pandang bulu ala mereka bertiga.


*


*

__ADS_1


Malam harinya.


Karena merasa kesepian, Stella mengajak Elva menginap di rumahnya. Langsung saja diiyakan oleh Elva. Pikirnya kapan lagi bisa menginap di rumah mewah bak istana ini. Sebenarnya Evan juga diajak menginap dan tidur di kamar tamu, namun dia menolak dengan alasan tidak dapat izin dari orang tuanya.


"Gue mau telepon suami Gue dulu ya El. Mau tanya siapa yang kirim bunga dan makanan tadi siang," ucap Stella seraya mengutak-atik ponselnya.


"Iya deh iya yang sudah punya laki. LDR bentar aja sudah kangen. Alasannya mau tanya kiriman makanan," goda Elva.


"Ya sudah Gue turun dulu mau ke taman samping rumah. Cari angin malam," pamit Elva yang langsung beranjak keluar dari kamar Stella.


Perempuan berambut pendek itu mondar-mandir dipinggir kolam renang. Pikirannya berputar-putar mengenai cerita yang disampaikan Evan tadi siang. Ya, saat Stella pergi ke toilet. Evan menceritakan kejadian saat dirinya bertemu Nathan di depan gerbang rumah Stella.


"Selamat malam Nona," sapaan seseorang dari belakang Elva mengangetkan dia.


"Astaga!" ucap Elva memegangi dadanya.


Setelah Elva membalikkan badan dan melihat siapa orang yang baru saja tiba itu. Dia pun merasa lega dan tersenyum bahagia. Karena orang itu merupakan orang yang ditunggu-tunggu oleh Elva.


##


Siapakah orang yang ditunggu-tunggu oleh Elva? Lalu kenapa orang itu ada di rumah Stella?


Dan bagaimana respon Andrew saat mengetahui Stella dapat kiriman misterius.

__ADS_1


⚠️Warning ⚠️


Sebelum ke bab selanjutnya, minta klik love-nya dulu (favorit kan dulu ya), jangan lupa like dan komentarnya ya kakak.


__ADS_2