
Hari itu Andrew pulang cepat. Bergegas ke kamar untuk mempersiapkan malam ini. Ya, malam harinya langsung Andrew akan menemui orang tua Stella.
Pria yang baru saja mendapat lampu hijau untuk menemui orang tua Stella itu tampak bahagia. Memasuki kamarnya dengan bersenandung.
"Pakai baju apa ya nanti malam," gumamnya seraya berjalan kearah wardrobe.
Diraihnya beberapa kemeja, ditempelkannya ke tubuhnya. Dan melihat cermin besar yang ada di dalam wardrobe itu. "Ini pantes nggak ya?" gumamnya pada diri sendiri.
Pria yang biasanya jarang memperhatikan penampilan itu, kali ini merasa harus memperhatikan penampilannya secara detail. Padahal setiap harinya apapun pakaian yang dikenakannya akan selalu terlihat tampan. Tapi baginya kali ini berbeda, dia ingin menunjukkan penampilan yang spesial.
"Ini kayaknya bagus," ucapnya sembari mengambil kemeja polos berwarna putih. Mencoba kemeja itu sembari tersenyum kearah cermin. "Ah tapi nggak banget ah warnanya," imbuhnya.
Cukup lama pria itu bergelut beragam pakaian yang dimilikinya. Hingga tak terasa waktu semakin petang. Andrew memutuskan untuk segera membersihkan dirinya. Menata penampilan di depan cermin dan siap untuk berangkat.
Di lantai bawah rumah mewah Keluarga Martadinata. Sudah duduk Farhan yang sedang menunggu bosnya. Berkali-kali melihat arloji yang melingkar dipergelangan tangannya.
"Tumben lama bener bos?" tanya Farhan ketika melihat Andrew menuruni anak tangga.
"Ayo berangkat!" ajak Andrew tanpa menjawab pertanyaan dari asistennya itu.
__ADS_1
Farhan langsung beranjak dari duduknya, menyusul bosnya yang sudah jalan lebih dulu menuju mobil. Sebelum mencapai pintu mobil, Farhan berlari mendahului bosnya. Untuk segera membukakan pintu mobil untuk Andrew.
"Semua yang saya pesan sudah siap?" tanya Andrew seraya memasuki mobilnya.
"Beres bos!" jawab Farhan lantang kemudian menutup pintu mobil dan masuk ke dalam kursi depan samping supir.
Selama diperjalanan rasa jantung berdebar kencang tetap dirasakan oleh Andrew. Namun entah kenapa kali ini dia lebih tenang tidak seperti tadi pagi. Semoga saja apa yang terjadi sesuai dengan apa yang diharapkan.
Setelah beberapa saat melakukan perjalanan. Tibalah mereka disebuah perumahan sederhana. Dan mobil itu berhenti tepat pada salah satu rumah sederhana yang memiliki halaman dipenuhi beragam tanaman bunga.
Setelah memencet bel rumah yang ada di teras rumah itu. Keluarlah lelaki paruh baya, yang disinyalir merupakan ayah dari Stella. Lelaki itu tersenyum sumringah menyambut seseorang yang akan melamar putrinya.
"Permisi selamat malam om," ucap Andrew.
Di ruang tamu yang tidak terlalu luas itu. Andrew duduk lebih dulu. Sedangkan Farhan masih sibuk menyiapkan beberapa oleh-oleh untuk keluarga Stella. Diantaranya ada makanan dan buket bunga.
"Kenapa si bos nyuruh pake buket bunga sebesar ini sih," gerutu Farhan yang keberatan membawa buket bunga seukuran tubuh manusia masuk ke dalam rumah itu.
"Taruh sini ajak nak," perintah ayahnya Stella.
__ADS_1
Setelah menurunkan buket bunga disalah satu sudut ruang tamu itu. Ayahnya Stella menghampirinya dan merangkul Farhan tiba-tiba.
"Oh ini Nak Andrew ya? Kenapa harus repot-repot bawa beginian," ucap Ayaahnya Stella seraya merangkul pundak Farhan.
Andrew yang mendengar itu hanya melongo. Apakah penampilan malam ini kurang tampan? Sampai-sampai calon mertuanya salah mengira orang.
##
Waduh gimana sampe salah orang gitu si ayah. haha
⚠️Warning ⚠️
Sebelum ke bab selanjutnya, minta klik love-nya dulu (favorit kan dulu ya), jangan lupa like dan komentarnya ya kakak.
Hallo jika ingin tanya-tanya :
Instagram : @Shinshinta31
__ADS_1
YouTube : Ruang Audio
Thankyou 😇