
"Ya sudah saya permisi dulu Tuan," ucap Stella meminta izin pada Andrew.
"Eh tunggu dulu!" cegah Andrew cepat.
Farhan tersenyum meledek, ketika mendapat tatapan membunuh dari bosnya. Langsung Farhan menahan senyumnya dengan menutupkan telapak tangannya pada mulutnya.
"Begini Stella ..." Andrew kembali berbicara.
Sebelum berbicara dengan Stella. Andrew menatap tajam Farhan. Takut-takut si asistennya itu akan meledeknya lagi nanti.
"Ehm ... apakah saya harus keluar terlebih dahulu Tuan?" sela Farhan memutus pembicaraan Andrew.
Baru saja apa yang dikhawatirkan Andrew langsung terjadi. Sontak Andrew membalasnya dengan cepat. "Lo bisa sopan sedikit nggak ketika orang lain berbicara?"
Satu telapak tangannya dia gunakan untuk menutup mulutnya. Saat itu juga sebuah buku yang lumayan tebal sudah Andrew angkat. Siap untuk kembali dia layangkan ke arah Farhan.
"Baik bos sa-saya akan segera keluar," ucap Farhan dengan cepat.
"Silahkan berbicara empat mata bos," imbuhnya kemudian segara bergegas keluar dari ruangan bosnya.
Stella hanya mengangkat satu bahunya dan tersenyum melihat tingkah bos dan asisten itu. Jauh dari perkiraan Stella dengan penampilan Farhan yang macho. Ternyata sifatnya lumayan jenaka.
"Pergi jauh-jauh kau!" teriak Andrew mengiringi kepergian Farhan.
Teriakannya kali ini membuat Stella agak tersentak. Andrew yang mengetahui hal itu langsung meminta maaf.
__ADS_1
"Sorry, jadi saya mau mengucapkan terima kasih untuk kerjasama selama di Bali," ucap Andrew.
"Terima kasih telah bekerja dengan baik dan profesional. Juga telah membantu banyak dalam hal drama pernikahan kita," lanjutnya.
"Sekarang drama tersebut telah usai. Dan kamu tidak usah bersusah payah bermesraan dengan saya lagi."
"Saya benar-benar berterimakasih banyak kepada kamu Stella."
Senyum lebar menunjukkan wajah bahagia terpampang dari wajah Andrew. Disambut hangat oleh senyum Stella berserta anggukkan kepalanya. Seraya berkata, "Sama-sama Tuan. Itu juga menjadi bagian dari tugas saya."
"Sebagai hadiah atas kerjasama yang bagus. Saya akan mengabulkan permintaan kamu," ujar Andrew dengan tatapan yang serius.
Begitulah janji Andrew saat perdebatan di dalam hotel kala itu. Andrew berjanji akan mengabulkan satu permintaan Stella jika Stella bersedia berpura-pura menjadi istrinya. Dan kini saatnya Andrew menepati janjinya.
"Ehm ... tidak perlu Tuan," jawab Stella.
"Stella ini sudah janji saya tempo hari," balas Andrew cepat.
"Katakan saja apa yang inginkan."
"Saya akan mengabulkannya."
Jujur saja perintah Andrew saat itu membuat dirinya bingung. Sebenarnya Stella ikhlas melaksanakan tugasnya tanpa imbalan apapun. Dan saat ini memang Stella sedang tidak menginginkan apapun.
"Katakan Stella!" ujarnya lagi.
__ADS_1
Perempuan yang menjabat sekretaris itu hanya menundukkan kepalanya. Meremaas jari jemari tangannya dengan perasaan gugup. Sedikit demi sedikit Stella sudah memahami sisi keras kepala bosnya itu. Jika mengatakan sesuatu maka itulah yang harus dia laksanakan.
"Kau ingin apa dari saya Stella?"
Otaknya memikirkan sesuatu yang harus ia katakan. Tatapan mata yang menunduk itu, otomatis melihat jarinya yang saling bertautan.
"Ehm ... cincin ini Tuan," jawabnya lirih.
"Iya ... cincin ini," imbuhnya lagi.
Cincin pernikahan yang diberikan Andrew sebagai pelengkap drama pernikahan mereka. Adalah salah satu cincin pernikahan yang diidamkannya oleh Stella. Tentu saja Stella sangat menyukai cincin bermata berlian itu. Sehingga sampai sekarang masih dia kenakan kemana-mana.
##
Bagiamana tanggapan Andrew ketika Stella tahu bahwa dia hanya menginginkan cincin itu? Bolehkah?
⚠️Warning ⚠️
Sebelum ke bab selanjutnya, minta like dan komentarnya dulu ya kakak.1
Hallo jika ingin tanya-tanya :
Instagram : @Shinshinta31
YouTube : Ruang Audio
__ADS_1
Thankyou 😇