
"Ta-tapi tuan ..." ucap Stella terbata.
"Maaf saya tidak menerima penolakan!" tegas Andrew.
Kring ... Kring ... Kring!
Dering telepon membuyarkan suasana yang canggung itu. Segera Andrew mengangkat telepon tersebut. Dan berbicara serius dengan orang yang ada dibalik telepon itu.
Setelah mematikan teleponnya, Andrew langsung bangkit dari duduknya. Membenarkan pakaiannya dan tak lupa memasukan ponsel ke dalam kantong jasnya.
"Ayo ikut saya!" titah Andrew kepada Stella.
Stella pun bingung dengan ajakan tersebut. Dia meyakinkan kembali ucapan lelaki yang baru pertama kali ketemu dengannya itu.
"Saya?" Stella menunjuk dirinya sendiri dengan jari tangannya.
"Iyalah siapa lagi? Satu-satunya orang lain yang ada di ruangan ini kamu," balas Andrew.
"Ayo buruan!" serunya.
"Ta-tapi mau kemana Tuan?" tanya Stella dengan terbata.
Tanpa banyak kata, Andrew menarik tangan Stella untuk ikut dengannya. Kemudian keduanya menaiki mobil pribadi dengan supir yang sudah siap mengantarkan ke tempat tujuan yang dimaksud Andrew. Hanya butuh waktu beberapa menit saja untuk sampai ke lokasi tujuannya. Yaitu sebuah restoran mewah di kota itu.
__ADS_1
*
*
Sesampainya Andrew langsung bergegas menghampiri seorang pria yang tengah duduk di sebuah meja melingkar pada ruangan VIP restoran tersebut. Tentu saja Stella mengekor dibelakangnya. Lelaki itu adalah Mario, biasa dipanggil Rio. Tidak lain adalah rekan bisnis Andrew sendiri.
"Sorry, nunggu lama," sapa Andrew sembari menjabat tangan Mario.
"Oke, gue maafkan," sambut Mario dengan cueknya. Bahkan tak menoleh menatap Andrew.
By the way, gaya bahasa Andrew dan Mario memang non-formal. Sebelum menjadi rekan bisnis, mereka berdua adalah sahabat sejak kecil sekaligus teman kuliah. Ya, begitulah mereka berdua ketika berjumpa, meskipun dalam urusan bisnis.
"Oh iya! kenalin ini sekertaris gue." Andrew mengenalkan Stella kepada Mario.
"Stella." Gadis itu memperkenalkan diri dan langsung mengulurkan tangannya tepat ke hadapan Mario.
"Waw!" ucapnya tanpa sadar ketika melihat Stella pada pandangan pertamanya.
Sepersekian detik Mario tercengang melihat kecantikan perempuan yang saat ini ada di depannya. Sungguh seperti bidadari dalam dongeng-dongeng. Dengan tinggi tubuh proporsional seorang model, rambut hitam panjang yang dikucir satu, serta senyum yang sangat menawannya.
"Perfect!" gumam Mario lirih, namun masih bisa didengar oleh siapapun yang ada didekatnya.
"Woi!" sentak Andrew kesal dengan tingkah Mario.
__ADS_1
Dengan gelagapan Mario langsung menyambut tangan mulus yang sudah sedari tadi terpampang dihadapannya. Baru pertama kali ini Mario merasa kikuk saat berkenalan dengan seorang perempuan cantik. Baginya bukan hanya perempuan cantik sih, kayaknya ini memang bidadari yang sedang menjelma.
"Ha-hai gu-gue Mario," ucapnya sembari menyambut uluran tangan Stella.
"Udah buruan ayo dimulai meeting-nya," ucap Andrew membuyarkan Mario.
Akhirnya meeting mereka dimulai dengan pembahasan proyek kerjasama perusahaan mereka. Selama meeting itu berlangsung, Andrew melihat gelagat aneh nan mencurigakan dari sahabatnya yang satu ini. Karena tidak biasanya lelaki yang telah lama dia kenal itu tidak fokus dalam pekerjaan.
"Pasti ada yang tidak beres," batin Andrew dalam hati.
*
*
Eh, kira-kira ada apa dengan Mario? Gelagat yang gimana maksudnya. Ah, nggak jelas. Yaudah tunggu aja bab selanjutnya ya 😚
⚠️Warning ⚠️
Sebelum ke bab selanjutnya, minta like dan komentarnya dulu ya kakak.
Hallo jika ingin tanya-tanya :
Instagram : @Shinshinta31
__ADS_1
YouTube : Ruang Audio
Thankyou 😇