
"Kayaknya kita bisa minta tolong sama asistennya Tuan Andrew deh," kata Elva mengutarakan usulnya.
"Memangnya dia mau?" tanya Evan seperti meragukan.
Elva mengaduk-aduk semangkuk mie instan yang baru saja diantarkan pelayan ke hadapannya. Menu favorit mereka berdua di kantin kampus. Selain karena harganya murah meriah, enak, dan mengenyangkan. Ada yang berpikiran sama?
"Kalau menurut Gue memang dia satu-satunya orang yang bisa kita mintain tolong," ucap Elva.
"Tuan Andrew selalu membantu dan melindungi Stella juga kok," lanjutnya.
Evan menggulung-gulung mie instannya di garpu lalu melahapnya. Sama dengan Elva, Evan juga memesan menu andalan di kantin itu. Laki-laki itu menatap sahabatnya, seraya berkata, "Bagaimana cara kita menyampaikan masalah ini kepada dia?"
"Gue akan berusaha datang ke kantor pusat Dinata Grup. Dengan alasan ketemu Stella, nanti aku nyolong-nyolong bilang ke asistennya itu." Elva menjelaskan rencananya.
"Memangnya kau kenal dengan asistennya itu?" sahut Evan.
Elva menggelengkan kepalanya, memang dia sering ketemu dengan asisten Andrew itu. Karena dia sering mengawal sahabatnya itu, Stella. Namun belum sempat untuk menyapa dan berkenalan.
__ADS_1
Kalau dari pandangan Elva sih, asisten tersebut orangnya baik. Meskipun tubuhnya kelihatan garang, namun orangnya lucu. Beberapa kali Elva melihat asisten itu bercanda dengan tuan-nya.
"Oke. Gue serahin ke Lo ya buat ngomong dan minta tolong sama asisten Tuan Andrew," sahut Evan.
"Dan Gue akan mencoba memantau pergerakan Stella dan laki-laki mencurigakan itu," sambungnya.
"Gue punya temen yang anak kelas transfer juga. Dia sekelas sama laki-laki itu. Gue akan minta tolong sama teman Gue."
Perempuan berambut pendek itu senang mendengar informasi yang dikatakan Evan. Itu artinya penyelidikan ini akan segera dimulai. Semoga berjalan sesuai dengan harapan mereka.
"Kapan rencananya Lo akan bertemu dengan Stella?" tanya Evan setelah menyuapkan sendok terakhir mie kedalam mulutnya. Setelah makanannya habis, Evan meminum es teh manis miliknya. Nikmatnya habis kuliah itu ya makan dan nongkrong di kantin. Betul tidak?
"Halah alasan Lo saja. Pengin ketemu Pak Arthur sekalian kan?" goda Evan.
"Sambil menyelam minum air lah," balas Elva santai.
"Tenggelam dong Va," sahut Evan.
__ADS_1
Keduanya tertawa bahagia karena candaan receh mereka. Meskipun bagi orang lain tidak lucu, bagi mereka lucu-lucu saja. Hidup jangan terlalu sepaneng kawan.
"Kejar terus aja itu dosen. Siapa tahu nyangkut," usul Evan.
"Nyangkut ... nyangkut ... emang tali kayangan apa?" celetuk Elva.
"Lo masih suka kan sama Pak Arthur?" tanya Evan.
Entah kenapa kalau dengan Evan, si Elva lebih leluasa mengutarakan isi hatinya. Daripada membicarakan Arthur di depan Stella. Atau mungkin gara-gara Stella, mantan gebetan Arthur? Entahlah.
"Stella telepon Gue," ucap Elva saat melihat ponselnya yang barusan berdering.
"Buruan angkat," ucap Evan.
##
Ada apa nih Stella kok pas diomongin langsung telepon. Kira-kira ngomongin apa ya?
__ADS_1
⚠️Warning ⚠️
Sebelum ke bab selanjutnya, minta klik love-nya dulu (favorit kan dulu ya), jangan lupa like dan komentarnya ya kakak.