
Ternyata sekertarisnya itu pintar juga untuk menghindari Mario. Tanpa disuruh olehnya, tapi dengan sendirinya dia menghindar dari Mario. Kira-kira kenapa alasan Stella menghindar dari Mario?
"Saya hanya mencoba profesional dalam pekerjaan saja Tuan," ucap Stella seolah-olah menjawab pertanyaan Andrew.
"Kalau memang sedang dalam waktu kerja ya saya harus kerja. Tidak akan membahas mengenai hal-hal diluar pekerjaan saya," imbuhnya.
Andrew manggut-manggut mendengar penjelasan Stella. Sembari berkata dalam hati, "Ternyata kau memahami apa isi hati saya Stella."
"Baguslah kalau begitu," ujar Andrew.
Setidaknya dengan begitu bisa menghalangi niatan Mario untuk mendekati Stella. Jadinya Andrew tidak harus bekerja keras mengawasi Stella setiap waktu.
"Saya senang memiliki sekertaris yang profesional seperti kamu," ujar Andrew.
"Semoga bisa terus profesional seperti ini," imbuhnya.
"Baik Tuan. Akan usahakan," balas Stella tersenyum.
Andrew tersenyum dan menyudahi obrolannya. Dua orang yang duduk di kursi belakang mobil mewah itu menyandarkan punggungnya pada jok mobil. Lagi-lagi Andrew tersenyum seraya mengalihkan pandangannya pada jendela samping mobilnya.
"Kayaknya memang gue nggak salah milih sekertaris baru," batin Andrew.
Dalam hatinya dia merasa sangat tepat memilih sekertaris pribadinya. Bukan berati sekertaris sebelumnya yaitu Tiara, yang merupakan kakak dari Stella itu kurang profesional. Tiara juga baik dan profesional.
__ADS_1
Hanya saja setelah satu minggu bekerjasama dengan Stella. Andrew merasa cocok dan nyaman dalam berbagai bidang. Bukan hanya dalam pekerjaan saja, namun termasuk hal-hal diluar pekerjaan. Seperti saat mengobrol atau membicarakan tentang kopi. Ya, keduanya sama-sama penyuka espresso.
Berbicara mengenai masalah pekerjaan Stella selama menjadi sekertaris. Meskipun Stella terbilang sangat baru dan masih mahasiswa magang. Gadis itu mampu mengikuti dan menjalankan perkerjaannya dengan baik dan rapi. Belum lagi anak itu termasuk orang yang disiplin dan tepat waktu.
"Punya sekertaris se-perfeksionis dia kaya gini. Si Mario ingin merebut Stella dari gue?" batin Andrew.
"Sudah gue bilang berkali-kali jangan harap!"
Tidak mungkin Andrew rela melepaskan Stella untuk pindah ke kantor perusahaan sahabatnya itu. Jangankan itu, untuk Mario kenal dengan Stella saja. Andrew merasa tidak terima dan tidak ikhlas.
"Tuan, apakah anda ingin meminum kopi dulu?" tanya Stella tiba-tiba dan membuyarkan lamunan Andrew.
"Soalnya tadi pagi kan saya tidak membuatkan kopi buat anda."
"Oh, tenang saja Stella," balas Andrew dengan santai.
Memang setelah Andrew memberikan tugas tambahan kepada Stella untuk membuatkan kopi setiap paginya. Baru hari ini Stella tidak melakukan tugas tambahannya itu. Sebenarnya itu tidak masalah bagi Andrew.
"Tapi saya yakin anda membutuhkan kopi saat ini Tuan," kata Stella.
"Darimana kamu tau?" tanya Andrew.
"Karena tampaknya anda sedikit mengantuk gara-gara kurang asupan kopi hehe." Stella tersenyum setelah mengatakan itu.
__ADS_1
"Bisa saja kau," balas Andrew juga tersenyum.
Keduanya saling melempar senyum. Memang yang dikatakan Stella ada benarnya juga. Jadi Andrew tidak menampik pernyataan Stella barusan. Dan lelaki itu hanya menurut saja.
"Pak Hadi, minta tolong berhenti di Coffe Shop yang ada di depan itu ya," pinta Stella kepada supir pribadi bosnya.
"Baik nona," Hadi mengangguk sembari mengurangi gas mobil yang dikendarainya.
Sesampainya di Coffe Shop. Stella langsung turun dari mobil dan membelikan tiga kopi untuk tiga orang yang ada di mobil itu.
"Tuh kan. Dia memang benar-benar memahami gue," batin Andrew tersenyum lebar sembari menerima kopi pemberian dari Stella.
Ahay! Gimana kelanjutannya ya.
⚠️Warning ⚠️
Sebelum ke bab selanjutnya, minta like dan komentarnya dulu ya kakak.
Hallo jika ingin tanya-tanya :
Instagram : @Shinshinta31
YouTube : Ruang Audio
__ADS_1
Thankyou 😇