
"Sayang! Hati-hati!" teriak Stella.
"Aku mau jelasin dulu!" imbuhnya dengan nada suara kencang agar terdengar oleh suaminya.
Andrew tak menghiraukan ucapan Stella. Tetap saja tidak menurunkan kecepatan mobil yang dikendarainya. Bahkan saat ini pria yang dilanda emosi itu telah memasangkan headset nirkabel pada dua telinganya.
"Sayang kok malah pake headset sih?" protes Stella.
"Dengerin aku dulu lah," ucapnya lagi sembari memegang satu lengan Andrew.
Waktu yang dihabiskan untuk sampai ke restoran yang dimaksud lebih cepat dari perkiraan. Tak lama kemudian mobil sport itu memasuki parkiran restoran.
"Sayang dengerin aku dulu," rengek Stella manja setelah Andrew memarkirkan mobilnya.
Istri dari Andrew Martadinata itu bergelayut manja pada lengan kekar suaminya. Meskipun Andrew masih kesal dan bertingkah cuek. Stella menarik paksa wajah suaminya agar menoleh kearahnya.
"Dengerin aku dulu," ucap Stella saat Andrew menoleh paksa kearahnya.
Masih dengan wajah yang datar, tanpa ekspresi. Pria itu diam membisu saja, tak mengeluarkan satu katapun.
"Buka dulu headset-nya," pinta Stella.
Karena tidak segera mendapatkan respon dari suaminya itu. Stella menarik paksa headset yang dikenakan suaminya. Perempuan itu menahan wajah suaminya agar tidak berpaling darinya. Sehingga mata mereka bertemu dengan jarak wajah yang sangat dekat.
"Kamu dengerin aku dulu sayang," lirih Stella.
"Tadi itu aku nggak sengaja ketemu sama Pak Arthur pas dia jalan bareng sama Elva, sahabat aku," sambungnya.
__ADS_1
"Terus waktu aku dateng, dianya langsung pergi kok."
"Elva juga cerita katanya tadi mereka ngomongin aku dan berniat mau move on."
Stella terus menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Agar tidak menimbulkan salah paham.
"Dan kamu tau sayang?" Stella bertanya.
"Elva kan suka sama Pak Arthur. Terus aku berniat comblanging mereka saja," lanjutnya.
"Nggak boleh!" sahut Andrew cepat.
Satu kalimat larangan itu membuat Stella mengernyitkan dahinya. Kenapa malah suaminya itu menolak perjodohan antara Arthur dan Elva. Bukannya itu malah baik?
"Lho kenapa sayang?" tanya Stella lirih.
"Ta-tapi bukannya malah bagus. Dia bisa melupakan aku?" ucap Stella.
"Sekali enggak ya enggak!" tambah Andrew semakin tegas.
"Aku gak mau lagi ya kamu berhubungan apapun dengan dia!" lanjutnya.
"Kalau dia suka lagi sama kamu gimana?" tanya Andrew.
"Jangan sekali-kali berhubungan dengan dia!"
Dengan wajah lesu, Stella menatap Andrew tajam. Niat baiknya untuk menjodohkan sahabatnya sirna sudah. Padahal kan tadi Stella sudah bilang Elva akan membantunya dekat dengan Arthur.
__ADS_1
"Kalau aku tetep bantuin Elva tapi dibantu kamu gimana sayang?" tanya Stella.
Mata Andres sudah kembali melotot tajam menatap Stella. Seolah menyiratkan penolakan dari ucapan Stella yang barusan.
"Tidak!" ucap Andrew.
"Baiklah," balas Stella dengan sangat lesu.
Melihat kelesuan dari ekspresi wajah istrinya. Langsung saja Andrew mendaratkan bibirnya pada bibir Stella. Dengan perlahan dan sangat lembut dia *****4* bibir merah muda yang menawan itu.
Tangan Andrew sudah mulai berkeliaran kemana-mana. Hendak menarik baju yang dikenakan Stella. Hampir saja terjadi permainan panas di dalam mobil. Tiba-tiba ...
Kruyuk ... kruyuk ...
Ciuman singkat itupun berakhir sejenak.
Keduanya tertawa secara bersamaan mendengar suara perut Stella yang sudah kelaparan.
"Hihi ... maaf lapar," ujar Stella nyengir menunjukkan deretan gigi rapinya.
Kemudian mereka keluar dari dalam mobil. Berjalan bergandengan menuju ke dalam restoran. Mata Stella fokus pada seorang lelaki yang sangat dikenalnya. Sebelum memanggil namanya. Dia mencoba memastikan pengelihatannya dulu.
##
Hayo siapa lagi itu lelaki? Maklum ya Stella kan jadi idola di kampus. Jadi banyak lah kenalannya.
Sebelum ke bab selanjutnya jangan lupa klik love (favorit-kan), like bab-nya dan komentar-nya juga ya kakak.
__ADS_1
Thankyou 😇