
Sesampainya di dalam kamar.
Andrew terus menarik tangan Stella dengan perlahan. Stella pun menurut saja dengan ajakan bosnya itu. Sesekali satu tangannya yang lain menyeka air matanya yang telah menetes.
"Tenanglah," ujar Andrew sembari memberikan segelas air putih kepada Stella yang telah duduk di sofa.
"Minum dulu," imbuhnya.
Tidak sampai setengah gelas Stella meminum minumannya. Menaruh gelas itu pada meja yang ada dihadapannya. Kembali ia menyeka air matanya.
"Stella kamu nggak usah takut. Aku akan selalu ada saat kau dalam masalah seperti yang baru saja terjadi," tutur Andrew.
"Ta-tapi sa-saya ta-takut Tuan," ujar Stella disela tangisnya.
"Gak usah takut. Kau hanya perlu menjalankan rencana ini dan hanya diam ketika ada seseorang yang bertanya perihal pernikahan ini," pesan Andrew
Lelaki yang menjabat sebagai Presdir itu berkata sembari mengusap punggung Stella untuk menenangkannya. Jelas saja dia merasa bersalah sampai membuat Stella ketakutan dan menangis seperti ini. Dalam hatinya dia tidak tega melihat semua itu, namun apa boleh buat ini demi kebaikan Stella juga.
"Ingat Stella! Aku janji akan selalu ada disaat kamu membutuhkan aku untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti itu," ujar Andrew menyakinkan.
"Kamu nggak perlu takut. Kita hadapi bersama ya."
"Maafkan aku telah merencanakan hal gila semacam ini."
*
__ADS_1
*
Ketika sinar mentari telah tergantikan dengan cahaya rembulan. Berhiaskan bintang-bintang memenuhi langit malam. Hembusan dinginnya angin malam berhasil menusuk tulang.
Setelah membersihkan diri di kamar mandi dan memakai piyama lengan panjangnya. Stella berniat untuk mengistirahatkan badannya. Aktivitas hari pertama berada di Bali baru saja usai sejak satu jam yang lalu.
Kini waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam waktu setempat. Suasana resort sudah mulai sepi. Hanya deburan ombak yang semakin meninggi ketika malam hari yang terdengar dari dalam kamar.
"Lho kok tidur disitu?" tanya Andrew ketika melihat Stella merebahkan dirinya diatas sofa.
"Udah tidur aja di kasur, orang kasurnya juga lebar kok," lanjutnya dengan tatapan mengarah pada ponsel yang digenggamnya.
"Tenang saja. Aku gak akan ngapa-ngapain kok."
"Jangan Tuan," balas Stella dengan cepat.
Andrew baru saja masuk ke dalam kamar dengan masih menggunakan pakaian rapat. Langsung duduk di tepi tempat tidur dan mengutak-atik ponselnya. Biasanya emang para petinggi perusahaan masih mengadakan kumpul-kumpul usai rapat.
"Ehm ... tidak Tuan. Saya hanya ingin tidur di sofa saja. Sofanya sangat nyaman," ujar Stella.
"Saya tidak tega melihat perempuan tidur di sofa. Sedangkan saya di kasur."
"Tidak apa-apa Tuan karena sofa ini lebih empuk dan nyaman dibandingkan kasur saya yang ada di rumah. Jadinya saya sudah terbiasa. Beda dengan Tuan yang biasa tidur di kasur yang nyaman seperti itu. Nanti malah nggak enak badan tidur di sofa," ujar Stella beralasan sembari nyengir kuda.
"Sudahlah Tuan saya mau tidur dulu."
__ADS_1
Akhirnya Andrew menyerahkan semua keputusan pada Stella. Membiarkan perempuan itu tidur di sofa. Dan ternyata selang beberapa menit tampaknya perempuan itu sudah tertidur lelap.
"Eh udah tidur aja," gumam Andrew perlahan.
Dia pun melangkah perlahan kearah sofa, menyelimuti tubuh Stella dengan selimut cadangan yang tersedia di kamat itu. Selanjutnya Andrew kembali fokus ke ponselnya. Yang ternyata sejak lima menit yang lalu sedang melakukan panggilan telepon kepada seseorang.
"Oke gue tunggu besok pagi. Lo harus udah sampe ke resort dan membawakan pesanan gue!" ucap Andrew kepada seseorang yang ada diseberang teleponnya.
##
Teleponan dengan siapa ya Andrew? Dan barang pesanan apa yang dimaksud?
Ya sudah tunggu keesokan harinya saja. haha
⚠️Warning ⚠️
Sebelum ke bab selanjutnya, minta like dan komentarnya dulu ya kakak.
Hallo jika ingin tanya-tanya :
Instagram : @Shinshinta31
YouTube : Ruang Audio
Thankyou 😇
__ADS_1