
Matahari akan kembali ke peraduannya. Langit biru kini sudah berganti jingga. Pemandangan senja kala itu terlihat jelas dari kamar hotel dimana Stella berada.
Rasa lelah seharian mengikuti rapat belum juga sirna. Belum ditambah dengan menghadapi suaminya yang marah kepadanya. Masih terpikirkan jelas ketika suaminya membentaknya, marah terhadap hingga ketika Andrew membanting pintu dengan keras.
Sembari menikmati senja yang indah dengan hati yang sendu itu. Sesekali air matanya menetes, sesegera mungkin dia seka. Mencoba tidak menangis lagi, kembali Stella mengingat risiko pernikahan dadakannya itu.
"Siapa?" gumam Stella ketika ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya. Perempuan yang tadinya duduk menghadap dinding kaca pembatas itu. Kini bergegas membuka pintu.
"Kok nggak ada siapa-siapa?" gumamnya ketika melihat tak ada seorangpun yang ada di depan kamarnya. Perempuan cantik yang masih berpakaian kerja itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Dari ujung lorong satu ke lorong lain, kosong tidak ada seorangpun yang lewat.
"Apa ini?" Mata Stella terhenti pada sebuah buket bunga yang berada tepat di dekat kakinya. Seseorang sengaja menaruh buket bunga itu di depan kamar Stella.
Diamati dengan detail buket bunga mawar merah itu. Sepucuk kertas terselip disela-sela bunga-bunga cantik itu. Diraihnya untuk membaca isi dari kertas tersebut.
"Undangan makan malam?" ucap Stella membaca tulisan di kertas tersebut.
Stella masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya. Buket mawar itu dia letakkan diatas nakas samping tempat tidur. Dengan hati yang terus bertanya-tanya, siapa pengirim buket dan kertas undangan makan malam itu.
"Apa Andrew?" tanya Stella pada dirinya sendiri.
"Tapi kan dia sedang marah," sangkal Stella yang mengobrol dengan dirinya sendiri.
Mungkin saja ini kejutan. Mau minta maaf atau apalah. Kan Andrew terkesan pria yang romantis. Begitulah pikir Stella sembari tersenyum membayangkan makan malam romantisnya terakhir itu.
__ADS_1
"Lebih baik aku telepon Farhan sajalah buat memastikan," ucapnya sembari mencari ponselnya di dalam tas. Karena jika Andrew merencanakan makan malam pasti dipersiapkan oleh asistennya.
"Lho kok HP aku nggak ada?" tanyanya memikirkan kapan terakhir kali dirinya memegang ponselnya.
"Astaga!" pekiknya ketika ingat bahwa terakhir kali dia menaruh ponselnya di meja saat pertemuan tadi.
Dengan langkah cepat, Stella menuju ke ruang pertemuan yang tadi digunakan. Di pikiran Stella pasti ruangan itu telah kosong. Karena memang kurang lebih satu jam rapat berakhir. Namun, dugaan Stella salah besar ketika dia menemukan seseorang di dalam ruangan itu.
"Pak Arthur," panggil Stella.
Merasa dipanggil namanya, orang itu menoleh kearah pintu. Disana sudah ada Stella, perempuan yang menganggu pikirannya seharian itu. Arthur langsung antusias ketika tahu yang datang adalah Stella.
"Eh Stella," balas Arthur.
"Kamu lagi ngapain Stella?" tanya Arthur penasaran dengan tingkah perempuan cantik itu.
"Ehm ... ini Pak. Tadi HP saya ketinggalan disini," jelas Stella.
"Apa bapak melihat HP saya tadi?" tanya Stella tanpa menoleh dan terus mencari.
Arthur menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Stella. Memang dirinya sejak tadi berada di ruangan itu. Namun tidak melihat ponsel yang Stella cari.
"Bapak ngapain masih disini?" tanya Stella penasaran dengan yang dilakukan dosennya itu.
__ADS_1
Arthur tampak kebingungan ingin menjawab apa. Mana mungkin dia jujur kalau sedang memikirkan Stella yang katanya sudah menikah.
"Ehm ... ya sudah Pak. Saya mau mencari ponsel saya dulu," pamit Stella tanpa mau menunggu jawaban dari Arthur.
Perempuan itu segera keluar dari ruang perempuan. Belum lama setelah Stella keluar, Arthur mendengar suara teriakan. Pria itu langsung bergegas keluar mencari sumber suara.
"Stella!" teriak Arthur
##
Kenapa lagi itu Stella?
⚠️Warning ⚠️
Sebelum ke bab selanjutnya, minta klik love-nya dulu (favorit kan dulu ya), jangan lupa like dan komentarnya ya kakak.
Hallo jika ingin tanya-tanya :
Instagram : @Shinshinta31
YouTube : Ruang Audio
Thankyou 😇
__ADS_1