
"Eh kalian sudah datang?" sapa Stella menyambut kedatangan dua sahabatnya.
Mereka pun duduk pada sofa yang tersedia disana. Elva meletakkan sebuah berkas yang dibawanya sedari tadi. Selain untuk mengunjungi Stella, niatnya kesana adalah mengantarkan berkas revisi milik Stella. Arthur meminta tolong Elva untuk mengantarkan berkas tersebut.
"Ini titipan dari Pak Arthur," ucap Elva singkat.
"Ciye ... udah ada kemajuan nih kayaknya," goda Stella.
"Jangan berprasangka dulu. Dia minta tolong ke Gue. Takut kalau ketemu Lo jadi gak bisa move on." Elva membela dirinya sendiri.
"Gapapa lah berawal dari alasan itu. Lo jadi sering bertemu dengan Pak Arthur. Siapa tahu benih-benih cinta bisa cepat tumbuh subur. Iya gak Van?" tanya Stella meminta dukungan dari sahabat cowoknya itu.
Evan yang sedari dari hanya mengedarkan pandangannya pada seluruh ruangan Stella. Ruangan yang sangat mewah dan elegan untuk kelas sekertaris. Tapi Evan maklum sih, kan Stella sekertaris pribadi merangkap istri presdir.
"Yoi Stell," balas Evan.
"Gue juga ngedukung Lo sama dosen yang katanya ganteng itu kok," sambungnya.
"Tapi lebih ganteng-an Gue nggak sih?" tanya Evan yang terlalu percaya diri.
__ADS_1
"Yee! Ya enggaklah," protes Elva tidak terima.
"Genteng-an Pak Arthur lah," sambungnya tanpa sadar.
Sepersekian detik, Elva menyadari bahwa dia baru saja berucap jujur. Perempuan itu langsung menutup mulutnya dengan dua telapak tangannya. Sontak saja Stella berkata, "Ada yang baru saja mengeluarkan pengakuan nih."
Kini wajah Elva sudah berubah menjadi merah bak gadis berpipi tomat. Jelas saja malu, awalnya dia mengelak. Eh diakhir-akhir malah keceplosan.
"Sudah lah kita kan kesini mau tanya-tanya seputar laporan magang. Bukan buat bully Gue kan," ucap Elva yang memang benar adanya.
"Alasan saja Lo El," balas Evan.
Mereka bertiga berdiskusi mengenai laporan magang mereka. Saling bertukar pengalaman di tempat magang masing-masing. Selama di kampus pun tiga bersahabat itu selalu berdiskusi dan bekerjasama dalam menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Maklum saja tiga-tiganya memang mahasiswa berprestasi.
*
*
"Sayang ..." teriak Stella yang langsung menghampiri suaminya..
__ADS_1
"Kenalin ini sahabat aku. Elva dan Evan," ucap Stella menujuk dua sahabatnya itu.
Elva dan Evan menundukkan kepalanya sebagai salam hormat kepada Andrew. Andrew pun membalasnya dengan senyuman. Kemudian Stella berbisik di telinga suaminya. "Nah sekarang sudah aku kenalin sama Evan. Jangan cemburu lagi."
Niatnya Andrew datang menemui istrinya akan mengajaknya makan siang. Berhubung Stella masih bersama dua sahabat. Andrew sekalian mengajak Elva dan Evan untuk makan siang bersama.
"Makan di kafe depan kantor sajalah sayang," usul Stella yang langsung diiyakan oleh suaminya.
Kafe yang cukup mewah bagi kalangan pegawai kompleks perkantoran itu. Memang pelanggannya kebanyakan dari pagawai-pegawai kantor disekitaran situ.
"Nih kalian mau pesan apa?" Stella menyodorkan buku menu kehadapan dua sahabatnya. Elva dan Evan membaca menu-menu yang tertera. Harga-harga sangat tidak cocok untuk kantong mahasiswa. Beruntung mereka ada disitu berkat traktiran dari suami Stella.
"Sudah itu saja ya, Mbak," ucap Stella pada pelayan. Dan pelayan itu segara meninggalkan meja yang ditempati Stella dan yang lainnya.
Sekelebat mata Elva menangkap bayangan orang yang tadi menabraknya di lobby. Untuk memastikan kebenarannya. Elva beralasan untuk ke toilet. Namun aslinya dia ingin mengejar orang tersebut.
##
Masih teka-teki. Biar penasaran dulu ah.
__ADS_1
⚠️Warning ⚠️
Sebelum ke bab selanjutnya, minta klik love-nya dulu (favorit kan dulu ya), jangan lupa like dan komentarnya ya kakak.