
Sisa hari itu, Stella hanya menghabiskan waktu dengan menyesali tindakan bosnya. Yang menurutnya sangat gegabah dalam mengambil keputusan secara sepihak. Tanpa memahami kondisinya dan persetujuan darinya.
"Jadi ini yang kata Kak Tiara kalau dia itu keras kepala," keluh Stella.
"Dan emang beneran keras kepala. Heran gue, itu kepala apa batu," geram Stella.
"Apa maksudnya. Apa tujuannya coba? Alasannya nggak masuk akal," gerutunya lagi.
"Pusing gue!" ujarnya sembari memijit pelipisnya.
Sekertaris cantik itu memutuskan untuk pergi ke restoran pinggir pantai yang masih dalam wilayah resort tersebut. Guna untuk meredamkan emosinya. Daripada hanya di kamar berseteru dengan pemikiran aneh bosnya itu. Mending Stella memilih keluar dan mencari udara segar.
"Dia nggak mikir apa, kalau ngaku kita udah nikah malah buat masalah baru. Dan ujung-ujungnya bohong dan dramanya merembet kemana-mana." Stella masih saja menggerutu sembari mengaduk-aduk orange juice yang ada dihadapannya.
"Heran gue!" pekiknya dalam hati.
Yang ditakutkan Stella adalah jika mereka berdua mengaku menikah. Otomatis kebohongan itu bisa saja tersebar kemana-mana. Bukan hanya diketahui oleh lingkungan mereka yang tergabung dalam proyek ini saja. Berpotensi besar untuk tersebar ke khalayak umum. Secara mereka semua adalah pengusaha besar berskala nasional bahkan internasional. Kehidupan mereka mudah saja terekspos.
"Aduh bagaimana ini kalau tiba-tiba semua orang tau sama drama ini," ucap Stella yang semakin gundah.
"Mam¶us gue kalau sampai benar-benar kejadian," imbuhnya.
Disaat-saat yang sedang dalam kacau seperti itu. Tiba-tiba duduklah seseorang dihadapan Stella saat ini. Dikarenakan Stella yang masih sibuk dengan lamunan serta orange juice-nya. Sampai tidak menyadari keberadaan orang dihadapannya.
__ADS_1
"Hai Stella ..." sapa orang tersebut sembari melambaikan telapak tangannya.
"Hallo ..." orang tersebut masih berusaha membuyarkan lamunan Stella.
Untuk sapaan yang kedua kalinya berhasil membuat Stella tersentak kaget. Kemudian mengamati siapa orang yang ada dihadapannya.
"Eh," Stella berdecak.
"Tuan Mario."
"Ada apa ya Tuan?"
Setelah berhasil membuyarkan lamunan Stella. Mario membenarkan posisi duduknya.
"Kamu ngapain disini sendirian?" tanya Mario.
"Eh, i-iya Tuan. Lagi pengen keluar aja sendiri. Menikmati udara segar dan pemandangan pantai," jawab Stella.
"Lalu Andrew ada dimana sekarang?"
"Ehm ... baru di kamar."
Mendengar bahwa Andrew berada di kamar. Mario tersenyum senang, karena dia merasa bebas. Selama tidak ada Mario disamping Stella. Dia pun bergumam dalam hati, "Ini kesempatan gue."
__ADS_1
Sebelum mengutarakan maksud dan tujuannya menyapa Stella. Karena datangnya secara mendadak dan tiba-tiba. Mario berniat untuk meminta izin Stella untuk duduk satu meja dengannya.
"Oh iya. Bolehkah aku duduk disini Stella?" Mario meminta izin.
Stella menjawab dengan menganggukkan kepalanya. Sembari menyedot orange juice miliknya yang sedari tadi hanya diaduk-aduknya. "Silahkan saja Tuan," balasnya.
"Stella apakah benar apa yang dikatakan Andrew saat makan siang tadi benar adanya?" tanya Mario membuka pembicaraan sore hari itu.
Stella tampak mengernyitkan keningnya mendengar pertanyaan dari rekan bisnis bosnya. Kemudian Stella kembali melontarkan pertanyaan, "Ma-maksud Tuan apa?"
"Itu lho yang kayanya Andrew dan kamu sudah menikah," terang Mario dengan singkat, padat, dan jelas.
##
Kalau dipikir si Mario orangnya ceplas ceplos tanpa rem ya. Berani-beraninya tanya tanpa basa-basi dulu. Hahah
⚠️Warning ⚠️
Sebelum ke bab selanjutnya, minta like dan komentarnya dulu ya kakak.
Hallo jika ingin tanya-tanya :
Instagram : @Shinshinta31
__ADS_1
YouTube : Ruang Audio
Thankyou 😇