TAKE DOWN NOVEL INI

TAKE DOWN NOVEL INI
Cari Solusi


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


Siang ini hanya tampak Elva dan Evan saja yang nongkrong di kantin usai kuliah. Sementara Stella sudah pulang lebih dulu, karena ingin menemani suaminya meeting. Setelah memesan makanan dan minuman, keduanya duduk.


"Bagaimana tentang masalah kemarin itu El?" tanya Evan.


"Gue belum nemuin solusinya," jawab Elva.


"Tetapi setelah Gue tanya Pak Arthur, katanya dia enggak curhat apapun dengan itu cowok kok," jelas Elva.


"Jadi cowok itu hanya mengarang cerita. Siapa namanya? Nathan?" ucap Evan berusaha mengingat nama cowok yang dirinya pun belum sempat bertemu.


Sahabat perempuannya yang memiliki rambut pendek itu menganggukkan kepalanya. Evan telah mendengar semua cerita tentang Nathan dari Elva, beserta kecurigaannya. Termasuk orang yang saat itu diikutinya saat makan siang bersama Andrew dan Stella.


"Tuh lihat saja orangnya datang kemari," bisik Elva seraya mengarahkan bola matanya kearah datangnya Nathan.


Sontak Evan pun segera mengikuti arah gerak mata Elva. Tampaklah sosok laki-laki berbadan tinggi, berkulit putih, dengan rambut gondrong dan sedikit ikal. Biasanya ketika di kampus cowok itu menguncir rambutnya.


"Yah Stella nggak ada," gumamnya lirih namun terdengar samar ditelinga dua sahabat Stella tersebut.

__ADS_1


Nathan hanya berhenti sebentar di meja yang diduduki Evan dan Stella. Melihat sebentar kearah mereka. Setelah memastikan orang yang dia cari tidak ada. Laki-laki itu melangkahkan kakinya pergi dari sana. Tanpa sepatah katapun.


"Tuh kan kelihatan banget busuknya," sindir Elva agak keras.


"Giliran nggak ada Stella saja langsung pergi. Tanpa menyapa sedikit juga, keterlaluan bukan Van?" lanjutnya.


Nathan juga mendengar sindiran dari Elva. Dia memilih cuek saja, karena memang yang dia inginkan adalah bertemu Stella. Maka saat tidak menemukan Stella disana, dia bergegas pergi.


"Tau deh apa yang dia kejar dari Stella. Tapi firasat Gue mengatakan niat dia kurang baik kepada Stella," ucap Elva.


"Dia sembunyi-sembunyi selalu mengikuti Stella dan mencari tahu informasi tentang Stella," lanjutnya.


"Tapi kan sejak dulu memang Stella primadona di kampus. Hidupnya selalu menjadi sorotan fans-fansnya," ucap Evan.


Memang benar-benar, selama ini banyak sekali yang mencari informasi tentang kehidupan Stella. Karena kecantikan fisiknya, kepintarannya, dan keramahannya Stella menjadi banyak disukai mahasiswa dan dosen di kampus. Terutama mereka kaum adam, yang mengejar-ngejarnya.


"Tapi ini beda Evan. Masa iya kalau hanya sekedar fans mengikuti Stella dimana pun," sangkal Elva.


"Dan di restoran saat kita makan siang itu bukan yang pertama kali. Setiap Gue dan Stella di kantin dia selalu datang," imbuhnya.

__ADS_1


"Terakhir katanya Stella bertemu dengan itu orang di mall coba. Saat Stella bersama dengan suaminya. Berani banget kan itu orang terang-terangan di depan umum mengikuti Stella."


Evan mendengar dengan detail apa yang dijelaskan Elva. Menelaah perkataanya dan masuk akal juga pikirannya kalau ini ada yang tidak beres. Ya, laki-laki itu terlalu berambisi mengejar Stella. Begitulah pikir Evan.


"Bagaimana kalau kita minta tolong saja sama orang terdekat Stella selain kita?" usul Evan.


"Memang siapa yang bisa bantu kita?" tanya Elva.


"Tuan Andrew mungkin," usul Evan lagi.


Langsung saja Elva melambaikan dua telapak tangannya. Menolak usulan sahabatnya itu untuk membicarakan masalah ini dengan suami Stella. Yang ada Andrew akan murka dengan orang itu saat ini juga. Karena Elva tahu sikap posesif dan pencemburu Andrew.


"Nah Gue punya satu nama yang bisa bantu kita," ucap Elva.


"Dia adalah ..."


##


Siapakah orang yang akan dimintai bantuan oleh Elva?

__ADS_1


⚠️Warning ⚠️


Sebelum ke bab selanjutnya, minta klik love-nya dulu (favorit kan dulu ya), jangan lupa like dan komentarnya ya kakak.


__ADS_2