
Kedatangan Arslan di perusahaan Dinata Grup yang mendadak itu. Cukup menguras pikiran Andrew. Dan sempat membuatnya kalang kabut, karena lagi-lagi harus berakting menikah dengan Stella.
"Waduh bagaimana ini," ucap Andrew mengusap wajahnya dengan kasar.
"Stella ... berarti akting pernikahan harus terus berlanjut." Andrew menyandarkan punggungnya ke sofa.
Baru saja kedatangan Arslan untuk menawarkan kerjasama baru. Antara perusahaannya dan perusahaan Dinata Grup. Sudah diperkirakan kerjasama ini akan mendapatkan keuntungan yang sangat besar.
"Kenapa tidak ditolak saja bos tawaran kerjasamanya?" tanya Farhan.
"Mau ditolak bagaimanapun tidak bisa. Tuan Arslan itu rekan bisnis papa sejak lama. Nggak mungkinlah ditolak. Yang ada malah gue diomelin papa nantinya," jawab Andrew lesu.
Usai bertemu dan membahas kerjasama bersama Arslan. Kini Andrew, Farhan, dan Stella duduk di sofa ruangan Presdir. Memikirkan masalah baru tentang kerjasama itu.
"Apa kalian ada solusi?" ucap Andrew sembari memijat pelipisnya.
Suasana ruangan itu hening. Semua sibuk dengan pikiran masing-masing. Baru saja pulang dari perjalanan bisnis yang panjang. Eh, tiba-tiba harus memikirkan pekerjaan dadakan yang menguras pikiran.
"Ya bagaiman lagi bos. Ini sudah menjadi risiko bos dengan perkataan yang bos katakan sendiri," gumam Farhan yang menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi.
Memang benar ini semua adalah risiko yang harus diterima Andrew. Berkat perkataannya sendiri kala itu yang mengaku telah menikah dengan Stella.
"Bagaimana kalau jujur saja bos. Bilang kalau sebenarnya bos dan Nona Stella tidak menikah," usul Farhan.
__ADS_1
Mata Andrew yang tadinya menatap langit-langit ruangan. Kini beralih melirik kearah Farhan yang duduk disampingnya.
"Kalau gue jujur yang ada gue malu dong!" sahut Andrew.
"Gue dikira pecundang nanti," imbuhnya.
"Nggak ... nggak ... gue nggak bisa!" Andrew mengembalikan tatapan matanya ke langit-langit ruangan.
Stella duduk tegak dihadapan Andrew dan Farhan. Perempuan itu hanya menyimak perbicangan itu dengan sesekali memainkan jemari tangannya.
"Tuan bagaimana kalau kita jalanin saja dulu. Sama seperti sebelumnya," akhirnya Stella angkat bicara.
"Maksudnya drama tetap berjalan begitu?" tanya Andrew tetap dengan posisinya saat ini. Yaitu tanpa menoleh ke arah lawan bicaranya.
"Ya begitulah Tuan. Mau bagaimana lagi? Itulah solusi terakhir yang harus dijalankan. Daripada Tuan Arslan berpikir yang tidak-tidak tentang Tuan Andrew," jelas Stella.
"Terus akting pura-pura menikah setiap kali berhadapan langsung dengan Tuan Arslan?" imbuhnya lagi.
Pikiran Andrew berkecamuk, dia pun menarik napas dalam-dalam. Kemudian dia hembuskan secara perlahan. Sebelum melanjutkan pembicaraannya kala itu.
"Sebenarnya saya merasa tidak enak dengan kamu Stella. Harus terjebak dalam drama yang saya ciptakan," ujar Andrew dengan suara yang melemah. Tampaknya bosnya itu sudah sangat lelah.
"Maafkan saya Stella harus menyeret kamu dalam masalah yang berkepanjangan dan rumit seperti ini."
__ADS_1
Mencoba menjadi sekertaris yang profesional dengan menurut pada atasannya. Mau tidak mau Stella harus menjalani apa yang menjadi tanggung jawabnya. Termasuk mengikuti drama yang dibuat bosnya itu.
"Saya sanggup dan ikhlas membantu anda Tuan," ucap Stella.
"Ini juga sudah menjadi tanggung jawab saya. Maka saya akan menjalankannya sebisa saya."
Andrew dan Farhan tersentak dengan jawaban Stella. Dua lelaki itu langsung menoleh kearah Stella secara bersamaan. Seolah meyakinkan diri mereka sendiri, bahwa kalimat yang baru saja mereka dengar. Benar keluar dari mulut milik Stella.
"Kamu serius Stella?" sekali lagi Andrew meyakinkan.
Stella mengangguk pasti seraya berkata, "Mari kita mulai kembali drama pernikahan ini Tuan."
##
Drama pernikahan akan segera dimulai kembali tsaaayyyy!!!
⚠️Warning ⚠️
Sebelum ke bab selanjutnya, minta like dan komentarnya dulu ya kakak.
Hallo jika ingin tanya-tanya :
Instagram : @Shinshinta31
__ADS_1
YouTube : Ruang Audio
Thankyou 😇