
Beberapa hari kemudian.
Hari ini adalah jadwal Stella ke kampus untuk menyelesaikan mata kuliah pilihan. Palingan dua kali seminggu Stella ke kampus. Sisanya dia berada di kantor pusat Dinata Grup.
"Bagaimana kabar laporan Lo?" tanya Elva kepada Stella.
Baru saja dua perempuan cantik itu mendudukkan tubuhnya di kursi kantin. Biasalah setelah kuliah selesai, nongkrong dulu di kantin. Istirahat sebentar sembari menunggu jemputan.
"Kurang sedikit lagi. Kan dibantuin sama suami Gue," jawab Stella.
"Iya ... iya ... yang sudah punya suami. Dan yang magang di kantor milik suami sendiri mah enak ya," sindir Elva yang sebenarnya dia merasa iri.
Stella hanya menanggapi dengan senyuman. Memang beruntungnya Stella, niat magang cari pengalaman. Eh malah dapet pengalaman sekaligus suami. Mungkin hanya Stella saja yang bisa seperti itu.
"Sekali dayung dua - tiga pulau terlampaui ya Stell. Pengalaman magang dapet, suami dapet," ucap Elva.
"Iya dong," jawab Stella bangga.
Keduanya pun tertawa lebar, menertawakan Stella. Seorang primadona kampus yang terpesona dengan presdir tampan. Yang notabenenya beda usia dan baru saja kenalan.
"Halo boleh gabung?" sela seseorang yang baru saja datang dan menghentikan tawa keduanya.
Mata dua perempuan itu menatap orang yang menghampirinya. Dan dengan cepat Stella mempersilahkan saja orang itu untuk gabung. Karena memang meja di kantin itu sudah penuh dengan pengunjung lain.
__ADS_1
"Oh, silahkan Nathan," ucap Stella dengan senyum manis yang membuat banyak laki-laki terpikat.
"Terima kasih Stella," balas Nathan.
"Apa kabar kalian?" tanya Nathan kepada keduanya.
"Kabar Gue baik. Gimana denganmu?" Stella bertanya balik.
"Baik juga, gimana dengan laporan magang kamu Stella?" tanya Nathan.
"Oh, ini hampir selesai kok," jawab Stella tanpa ragu.
"Enak ya magang di Dinata Grup," celetuk Nathan.
Stella menautkan alisnya darimana ini orang tahu kalau dirinya magang di Dinata Grup. Perasaan Stella tidak mengatakan itu kepada siapapun. Lalu darimana Nathan tahu?
"Kok kamu tau aku magang disana?" tanya Stella penasaran..
"E--- e--- bukannya kamu sudah pernah bilang ya?" jawab Nathan ragu.
"Kayak aku belum ngasih tau ke kamu deh," sangkal Stella.
"Ngaku saja! Kamu tahu darimana Stella magang disana?" timpal Elva yang sedari tadi hanya diam.
__ADS_1
Diamnya Elva bukan tanpa alasan. Sejak awal memang Elva merasa orang ini sok asyik banget. Hal tersebut justru membuat Elva curiga kepadanya. Makanya sejak awal dia bergabung dengannya, dia diam. Mencerna satu persatu perkataan. Nah, ketika mendapatkan celah untuk menyahut dia langsung berbicara.
"Asal Lo tahu aja! Kalau hanya Gue dan Evan yang tahu Stella magang disana!" bentak Elva.
Nathan bingung bagaimana cara beralasan. Terlihat sekali wajahnya yang tadinya sumeringah kini sudah pucat pasi. Cowok yang tadinya sok asyik tiba-tiba diam tak berkutik.
"Ngaku aja! Darimana Lo tahu?" paksa Elva agar Nathan mengaku.
"E--- sebenarnya Gue tahu dari Pak Arthur," jawab Nathan.
"Ya, kemarin saat aku ketemu sama beliau. Pak Arthur sekalian curhat sama aku," sambungnya.
"Katanya dia susah move on dari Stella."
Stella dan Elva tidak percaya dengan jawaban Nathan itu. Mereka sangat mengenal Pak Arthur, si dosen muda yang dingin dan tertutup. Hanya terbuka kepada Stella dan Elva saja sebagai mahasiswa berprestasi yang sering berurusan dengannya.
"Maaf, maaf nih! Pak Arthur nggak mungkin curhat sama orang yang baru dikenalnya. Nggak mungkin!" tegas Elva dengan nada tinggi. Membuat sebagian besar orang yang berada di kantin menoleh kearahnya.
##
Jawaban apa yang akan dilontarkan Nathan disaat-saat terdesak seperti itu?
⚠️Warning ⚠️
__ADS_1
Sebelum ke bab selanjutnya, minta klik love-nya dulu (favorit kan dulu ya), jangan lupa like dan komentarnya ya kakak.