
Hari ini tepat satu Minggu, Stella menjadi sekertaris pribadi Andrew. Selama seminggu itu pula semua berjalan lancar, tanpa halangan apapun. Bahkan Andrew merasa lebih nyaman memiliki sekertaris Stella. Karena obrolan mereka lebih nyambung daripada dengan sekertaris yang sebelumnya.
"Stella ... semua berkasnya sudah siap?" tanya Andrew ketika membuka pintu ruangannya.
"Sudah siap semua Tuan," jawab Stella yang sudah berdiri di depan ruangan Andrew bersama dengan berkas-berkasnya.
Siang itu terlihat Andrew memasuki mobil pribadi bersama dengan Stella dibelakangnya. Seperti hari-hari biasanya, mereka akan bertemu dengan rekan bisnis ataupun klien untuk membicarakan urusan pekerjaan.
Kini keduanya sudah duduk di kursi belakang mobil pribadi Andrew. Tak lama sang supir mulai melajukan mobil itu membelah jalanan kota yang ramai lancar pada siang itu.
"Oh iya, Stella!" panggil Andrew.
"Kopi buatan kamu tadi pagi lumayan juga," ujarnya.
"Rasanya pas sekali."
Mendengar pujian mengenai kopi buatannya. Stella merasa senang atas hal itu. Dia pun melemparkan senyum manisnya.
"Tuan menyukainya?" tanya Stella.
"Tentu saja!" jawab Andrew.
__ADS_1
"Jarang ada yang bisa membuat kopi secara manual seenak itu," lanjutnya.
Ya, meskipun di kantor Dinata Grup menyediakan mesin pembuat kopi manual. Namun, jarang sekali yang bisa menggunakan mesin itu. Dan ternyata sekertaris barunya itu bisa menggunakan mesin tersebut.
"Ternyata kamu ahli juga meracik kopi ya. Belajar dari mana?" tanya Andrew.
"Sewaktu saya semester tiga, pernah bekerja part time menjadi barista, Tuan," jawab Stella.
"Iyakah? Pantas saja!" sahut Andrew.
Andrew manggut-manggut mendengar penjelasan dari Stella tersebut. Terlintas sebuah ide muncul dipikiran si presdir tampan itu.
"Saya memiliki satu tugas tambahan untuk kamu," lanjutnya sembari menyunggingkan senyumnya.
"Apa tugas tambahan buat saya Tuan?" tanya Stella penasaran.
Stella masih agak bingung dengan maksud dari tugas tambahan dari bosnya itu. Dalam hatinya Stella sempat terkejut, namun sebisa mungkin dia bersikap biasa saja. "Hah? tugas tambahan apa lagi ini?" batin Stella.
"Tugas tambahannya adalah ..." Andrew menjeda ucapannya.
"Tolong buatkan espresso setiap pagi buat saya," imbuhnya.
__ADS_1
"Saya ini penggemar berat kopi jenis esspesso. Nah kebetulan sekali kopi buatkan kamu sangat cocok buat saya."
"Jadi tolong buatkan espresso setiap pagi buat saya ya."
Stella berpikir sejenak, apakah benar membuatkan kopi itu tugas dari sekertaris? Bukannya ada bagian khusus disebuah perusahaan untuk membuatkan minuman. Entah apa namanya, office boy mungkin? Entahlah.
"I-iya tuan. Baik," Stella mengangguk disertai tersenyum.
Andrew sekarang senang, karena setiap paginya akan disambut Stella yang akan membuatkan kopi untuknya. Pasti akan lebih melek hari-harinya, bukan hanya karena kopinya saja tapi juga karena si pembuatnya. Hehe.
Sesampainya di lokasi pertemuan yang berada disalah satu restoran mewah. Stella izin untuk pergi ke toilet terlebih dahulu. Jadi Andrew memutuskan untuk masuk sendiri ke dalam ruangan yang telah disediakan.
Saat langkah panjang pemuda berperawakan tinggi itu masuk ke restoran. Ternyata tanpa sengaja, dirinya berpapasan dengan orang yang beberapa hari yang lalu membuatnya merasa kesal. Sontak saja Andrew memalingkan mukanya dan tidak mempedulikan orang itu.
##
Kira-kira siapa orang yang berpapasan dengan Andrew itu?
⚠️Warning ⚠️
Sebelum ke bab selanjutnya, minta like dan komentarnya dulu ya kakak.
__ADS_1