
Cincin pernikahan yang diberikan Andrew sebagai pelengkap drama pernikahan mereka. Adalah salah satu cincin pernikahan yang diidamkannya oleh Stella. Tentu saja Stella sangat menyukai cincin bermata berlian itu. Sehingga sampai sekarang masih dia kenakan kemana-mana.
"Hah cuma itu?" tanya Andrew sembari mengernyitkan alisnya.
"Boleh kah Tuan?" tanya Stella balik.
Mata keduanya saling bertatapan. Andrew memandang dengan bingung. Sementara Stella memberikan tatapan memohon sekaligus takut. Kalau-kalau permintaannya membuat Andrew tak enak hati.
"Maksud saya permintaan selain itu Stella. Apakah ada permintaan lain?" tanya Andrew kembali.
"Tidak usah Tuan," ucap Stella lirih.
"Beneran nih? Mumpung saya sedang baik hati lho."
Stella hanya menganggukkan kepalanya lemah. Sejujurnya Stella sedang menunggu jawaban dari Andrew mengenai cincin itu.
"Ya sudah kalau begitu. Untuk masalah cincin itu memang untuk kamu. Pakai saja, saya tidak berniat untuk memintanya kembali," ujar Andrew.
"Seriusan ini Tuan?" Stella memastikan.
Andrew menganggukkan kepalanya dengan mantap.
"Wah terima kasih banyak Tuan," balas Stella dengan cepat dan senang. Bahkan disertai dengan lompatan kecil seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan hadiah ulang tahun.
Dari situlah dapat tergambarkan sifat kekanak-kanakan Stella yang selama ini tidak pernah tampak. Andrew sempat terkejut dengan tingkah sekertarisnya itu. Dia pun menggelengkan kepalanya heran. Namun, disisi lain Andrew juga turut senang melihat Stella senang.
__ADS_1
"Sekali lagi terima kasih Tuan. Ini cincin impian saya," ucap Stella sembari mengangkat telapak tangannya dan memperlihatkan cincin tersebut.
Setelah mengangkat telapak tangannya ke udara. Kini dia letakkan telapak tangannya ke dadanya. "Sungguh cantik sekali cincin ini Tuhan."
Jelas saja Stella senang sekali, selain itu cincin impiannya. Cincin itu limited edition serta harganya sangat tinggi di pasaran. Mungkin kalau bukan pemberian bos tajirnya, Stella tidak akan mampu membelinya sendiri.
Tok ... tok ... tok ...
Masih dengan adegan seperti itu. Tiba-tiba terdengar ketukan pintu. Dan masuklah seorang lelaki tinggi kekar yang tadi baru saja keluar ruangan. Tidak lama kemudian masuk lagi ke ruangan itu.
"Permisi Tuan ... nona ..." sapa Farhan.
"Ups! Maaf menganggu waktu berduaan ya."
"Tetapi ada informasi penting yang harus saya sampaikan."
"Ada apa?" tanya Andrew ketus.
"Ada tamu penting bos," jawab Farhan.
"Siapa? Langsung saja katakan Farhan. Tidak usah berbelit-belit!" ucap Andrew.
Farhan membuka pintu ruangan Presdir itu lebih lebar. Memang sebelumnya hanya kepalanya saja yang menyelinap masuk ke dalam ruangan itu. Kini seluruh tubuhnya sudah masuk ke dalamnya.
"Tuan Arslan datang kemari Tuan," jelas Farhan.
__ADS_1
"Apa?" ucap Andrew dan Stella bersamaan sembari memelototkan matanya.
"Iya beliau sudah ada di lobby," terang Farhan.
"Di lobby?" ucap keduanya bersamaan lagi.
Farhan hanya mengangguk untuk mengiyakan pertanyaan dua orang yang sedang berada dihadapannya itu.
"Ngomong-ngomong kok jawabnya kompak sekali ya ini," celetuk Farhan yang langsung disambut dengan tatapan tajam dari Andrew.
Untuk kali ini Farhan langsung menundukkan kepalanya. Tidak melanjutkan untuk menggoda bosnya. Karena tampaknya bosnya itu sedang benar-benar serius.
##
Ada apa ini Arslan datang kemari?
⚠️Warning ⚠️
Sebelum ke bab selanjutnya, minta like dan komentarnya dulu ya kakak.1
Hallo jika ingin tanya-tanya :
Instagram : @Shinshinta31
YouTube : Ruang Audio
__ADS_1
Thankyou 😇