TAKE DOWN NOVEL INI

TAKE DOWN NOVEL INI
Si Pemarah


__ADS_3

Setelah permainan di dalam bathtub itu, mereka membilas tubuhnya di bawah guyuran air shower. Stella keluar lebih dulu dari kamar mandi. Duduk di depan meja riasnya. Mengelap rambut basahnya dengan hairdryer.


"Lho udah sore," gumamnya saat melihat jam dinding menunjukkan pukul lima sore.


"Cepet banget udah sore aja," lanjutnya.


Ceklek.


Suara pintu kamar mandi terbuka. Keluarlah Andrew dari dalamnya. Sama dengan Stella, pria itu juga mengenakan handuk kimono berwarna putih. Bedanya yang dikenakan Stella saat ini berwarna pink.


"Sayang ternyata sudah sore banget," ucap Stella memberitahu.


Andrew menoleh kearah jam dinding itu. Kemudian mendekat kearah istrinya. Tersenyum memandang wajah cantik Stella dari pantulan cermin. Tangannya mengambil alih hairdryer dari tangan istrinya itu.


"Sini aku aja yang keringin rambut kamu," ucap Andrew.


"Emang bisa?" tanya Stella meragukan.


"Bisalah. Cuma kaya gini doang," balas Andrew sok bisa.


Meskipun dengan gerakan kaku, pria berperawakan tinggi tegap itu. Mengarahkan tangannya kesana kemari. Sesekali mengibas-ibaskan rambut panjang istrinya itu.


"Tuh kan gini aja. Mudah kali," ucap Andrew menyombongkan diri.


"Iya deh suami aku yang serba bisa," balas Stella memuji.

__ADS_1


Begitulah yang namanya berumah tangga. Dibalik sisi yang negatif alias Andrew yang sangat posesif. Tetapi dibaliknya yaitu positifnya dia suka bertingkah romantis, menunjukkan kasih sayangnya kepada sang istri. Mulai dari hal-hal kecil seperti mengeringkan rambut seperti ini. Hingga hal-hal yang besar sekalipun.


"Sudah agak kering nih sayang," ucap Andrew menurunkan kecepatan hairdryer.


"Kalau sudah kering ya sudah aja sayang," balas Stella sembari memegang rambutnya. Menyemprotkan vitamin rambut ke sisi kanan dan kiri.


"Sini biar aku saja yang semprotkan vitaminnya." Andrew mengambil alih botol vitamin rambut itu.


Usai melakukan tugasnya atas kemauannya sendiri itu. Andrew menundukkan kepalanya untuk menyadarkannya dipundak istrinya. Memandang pantulan wajahnya di cermin yang ada dihadapannya. Dan mereka pun tersenyum bersama.


"Nah gini kan sudah cantik," puji Andrew.


"Nah gini kan makin ganteng," balas Stella.


"Emangnya aku gak ganteng apa?" protes Andrew.


"Iya kalau kamu tidak pemarah dan tidak suka marah-marah semakin ganteng sayang," tambah Stella.


"Aku marah-marah juga ada alasannya kali sayang," balas Andrew tidak terima.


"Makanya kamu jangan suka bikin masalah yang buat aku cemburu," tambahnya.


"Oh jadi ngaku nih kalau cemburu?" goda Stella yang udah tersenyum mengejek.


Andrew mengerucutkan bibirnya. Tidak terima kalau dirinya disebut dengan pemarah. Ya memang jujur saja dirinya suka cemburu dengan apa yang dilakukan Stella dengan laki-laki didekatnya.

__ADS_1


"Kok diam saja sayang aku?" goda Stella.


"Ciye cemburu!" imbuhnya.


"Biarin cemburu kan tanda cinta," balas Andrew yang menjulurkan lidahnya.


"Cemburu itu ada tempatnya sayang," ucap Stella.


"Kalau cemburu sama kakak sepupu aku sendiri itu kamu keterlaluan," imbuhnya.


Masih dengan posisi kepala Andrew yang bersandar pada pundak Stella. Laki-laki itu berkali-kali mengecup singkat pipi istrinya.


"Siapa tahu dia juga punya perasaan sama kamu," ujar Andrew curiga.


"Nggak mungkinlah sayang," sangkal Stella.


"Aku berani menjaminnya. Orang Kak Boy sudah menikah dan punya anak satu," jelas Stella yang mengangetkan Andrew.


Dering ponsel Stella berbunyi. Memecahkan kemesraan antara dua pasangan itu. Diraihnya ponsel yang terletak diatas meja rias. Ternyata dari orang terdekat Stella.


##


Tebaklah siapa yang telepon Stella saat itu?


⚠️Warning ⚠️

__ADS_1


Sebelum ke bab selanjutnya, minta klik love-nya dulu (favorit kan dulu ya), jangan lupa like dan komentarnya ya kakak.


__ADS_2