
Setelah kebut-kebutan di jalanan yang membuat jantung Stella berdebar. Perempuan itu menghembuskan napas kasar ketika mobil yang ditumpanginya tiba di depan lobby. Segera dia menyusul Andrew yang turun duluan dan memberikan kunci pada petugas satpam. Yang nantinya mobil milik Andrew akan dipindahkan ke tempat parkir.
"Sayang tungguin," teriak Stella yang ketinggalan dibelakang.
Stella berpikir siang ini dia harus kembali bekerja jadi sekertaris Andrew. Tetapi kenyataannya itu salah, karena Andrew sedang suka-suka saja membawa Stella ke kantor. Lagian Andrew masih marah gara-gara melihat Stella ngobrol bareng laki-laki yang bernama Evan tadi.
Sesampainya di lantai dimana terdapat ruangan presdir. Tidak jauh dari sana terdapat meja tempat milik Stella yang biasa dia gunakan untuk bekerja. Langsung saja Stella duduk di kursi kerjanya. Mengatur napasnya yang ngos-ngosan karena mengejar Andrew.
"Masak dia marah cuma gara-gara aku ngobrol sama Evan sih?" batin Stella.
"Tapi emang dia beneran marah si karena itu. Tapikan Evan cuma sahabat doang," lanjutnya masih dalam hati.
"Kenapa dia posesif gini sih?"
Stella memikirkan suaminya yang bisa-bisanya cemburu dengan sahabatnya sendiri. Baiklah kali ini sebagai istri yang mencoba mengalah sama suami. Stella akan mencoba merayu Andrew agar tidak marah lagi.
"Baiklah aku akan mengalah," tegas Stella sembari menarik napas dalam dan menghembuskan perlahan sebelum masuk ke dalam ruangan Andrew.
__ADS_1
Dua kali ketukan dan ucapan "Permisi" tidak mengunggah niat Andrew menyuruh Stella masuk ke dalam. Akhirnya perempuan itu masuk begitu saja tanpa perintah. Memang sebuah keberanian baru bagi Stella, namun tak apalah dia kan juga istri dari presdir-nya sendiri.
"Maaf izin masuk," ucapnya seraya melangkah mendekati kursi Andrew.
Hentakan heels dengan lantai ruangan itu memang sangat merdu ditelinga Andrew. Membuat pria dewasa itu membayangkan kaki jenjang Stella yang sedang berjalan melenggak-lenggok. Tak apa memikirkan sesuatu yang sensual toh sudah waktunya.
"Boleh duduk disini?" tanya Stella menujuk kursi yang berhadapan dengan Andrew.
Tidak ada jawaban dari Andrew, karena lelaki itu masih marah dengan Stella. Meskipun pikirannya kemana-mana tetapi dari luar dia kelihatan menyibukkan diri. Membuka lembar demi lembar berkas yang ada dihadapannya.
"Sayang kamu masih marah ya?" kini Stella membuka pembicaraan dengan merengek manja. Tidak seperti tadi waktu masuk ke ruangan itu sampai duduk. Dia masih menggunakan bahasa formal layaknya sekertaris seperti biasanya.
"Tetapi semuanya ini hanya salah paham saja kok," imbuhnya.
"Maaf ya sayang sudah buat kamu marah."
"Maaf banget ya sayang."
__ADS_1
Berkali-kali kata maaf yang diucapkannya, tidak membuat hati Andrew luluh. Tetap saja pria itu sok cool dan diam saja. Tentu saja membuat Stella geram dengannya. "Ih ngeslin kok diam saja," batin Stella.
Perempuan itu memikirkan cara untuk meluluhkan hati seorang suami yang sedang marah. Beberapa kali ide nyeleneh yang dia dapatkan dari film yang pernah dia tonton. Tetapi dia masih sedikit agak ragu, karena ini di kantor. Iya gak ya? Stella terus berpikir.
##
Kasih enggak nih adegan mesra yang akan dilakukan Stella? Vote dulu lah di kolom komentar. Kalau enggak aku gak kasih deh. Pokoknya sesuai request yak.
⚠️Warning ⚠️
Sebelum ke bab selanjutnya, minta klik love-nya dulu (favorit kan dulu ya), jangan lupa like dan komentarnya ya kakak.
Hallo jika ingin tanya-tanya :
Instagram : @Shinshinta31
YouTube : Ruang Audio
__ADS_1
Thankyou 😇