
Keesokannya.
Mengenakan setelan jas berwarna biru Dongker membuat Andrew semakin terlihat tampan. Saat ini pria tampan itu sedang berdiri di depan cermin. Menata setiap penampilannya sehingga tidak ada yang terlewatkan.
"Perfect!" gumamnya pada diri sendiri.
Ketukan pintu kamarnya mengakhiri Andrew menata penampilannya. Baru kali ini pria itu lama sekali berada didepan cermin. Ternyata Farhan yang mengganggunya pagi ini.
"Widih bos. Tampan sekali hari ini." Farhan terkesima dengan penampilan bosnya. Matanya menelisik tubuh bosnya dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Mantab lah bos. Mau nembak Nona Stella bos?" Farhan mengacungkan dua jempolnya.
"Emang dia beneran mau?" tanya Andrew.
"Sepertinya mau bos," sahut Farhan cepat.
"Tolong belikan dia sesuatu," perintah Andrew yang mendapat anggukan dari Farhan.
"Kaya gitu dulu bilangnya nggak cinta sama Nona Stella," cibir Farhan yang langsung melenggang pergi sebelum mendapatkan pukulan dari bosnya.
*
*
__ADS_1
Sesampainya di Kantor Pusat Dinata Grup.
Pagi ini perasaan Andrew sangat berbeda dari pagi-pagi biasanya. Detak jantungnya berdetak lebih cepat dalam memompa darah ke seluruh tubuhnya. Mungkin itu terjadi karena hari ini Andrew berencana membujuk Stella untuk menikah dengannya.
"Ekhmm ...." Andrew berdehem saat Stella membalikkan badannya hendak keluar dari ruangannya. Sepertinya biasanya setiap pagi Stella mengantarkan kopi dan mengingatkan jadwal Andrew hari ini.
Deheman yang cukup keras dari atasannya itu. Menghentikan langkah kaki Stella dan membalikkan tubuhnya saat Andrew memanggil namanya. Perempuan cantik dengan setelan kerja berwarna coklat muda yang membuat dirinya semakin terlihat fresh.
"Saya ingin berbicara denganmu sebentar," ucap Andrew.
Stella mengangguk pelan sembari mendudukkan tubuhnya pada kursi yang berada dihadapan Andrew. Melipat kedua tangannya di meja kerja Andrew. Bersiap mendengarkan ucapan atasannya itu.
Debaran jantung Andrew semakin tak menentu. Bingung mau memulai pembicaraan darimana. Akhirnya Andrew menarik napasnya dalam kemudian dihembuskannya secara perlahan.
"Jadi begini Stella ..." ucapannya terjeda.
"Jadi begini ... ini mengenai berita tentang pernikahan palsu tempo hari," lagi-lagi Andrew menjada ucapannya.
"Berita kita menikah dan foto saat kita dansa sudah tersebar luas," sambungnya masih dengan tempo bicara yang lambat. Dimana itu semakin membuat Stella semakin penasaran.
"Dan saat ini berita itu sudah sampai di telinga papa aku."
Kalimat terakhir yang didengar Stella itu membuatnya terkesiap. Matanya melotot memandang Andrew yang masih tampak serius ingin melanjutkannya kata-katanya.
__ADS_1
"Papa sangat malu dan kecewa sama aku." Andrew melanjutkan ceritanya.
"Dan papa meminta aku menikah dengan perempuan yang ada di foto itu."
Pernyataan yang cukup membuat aliran darah Stella membeku. Mulutnya menganga, untung saja dua telapak tangannya menutupi mulutnya. Jadi masih tetap menganga cantik ya.
"Jujur saja saya bingung sekali harus bagaimana. Apakah kamu bisa menolong aku Stella?" tanya Andrew seraya menyandarkan punggungnya pada kursi kebesarannya.
"Atau kita menikah kontrak saja? Menikah dalam waktu tertentu. Nanti kita akan berpisah sesuai dengan kesepakatan kita?" Andrew menawarkan solusi untuk menikah kontrak.
Stella yang masih dalam posisi mengangga langsung melepaskan telapak tangannya dari depan mulutnya. "Maaf Tuan saya tidak bisa," itulah kalimat pertama yang keluar dari mulut Stella.
##
Waduh gamau nikah sama Andrew nih Stella. Alasannya apa ya? Terus Andrew gimana?
⚠️Warning ⚠️
Sebelum ke bab selanjutnya, minta klik love-nya dulu (favorit kan dulu ya), jangan lupa like dan komentarnya ya kakak.
Hallo jika ingin tanya-tanya :
Instagram : @Shinshinta31
__ADS_1
YouTube : Ruang Audio
Thankyou 😇