
Sekilas tentang Farhan.
Lelaki berbadan tinggi, kekar, memiliki kulit berwarna sawo matang. Selalu mengenakan jaket kulit berwarna hitam kemanapun berada. Menambah kesan menyeramkan bagi lelaki itu.
"Iya bos. Saya sudah berada di sebuah toko perhiasan terbaik di negara ini," ucapnya melalui sambungan telepon.
Farhan yang baru saja tiba dari tugas di luar negeri menemani Surya Martadinata. Yang tak lain adalah ayah dari Andrew Martadinata. Satu tahun belakangan ini, Farhan menemani Surya untuk bertugas di luar negeri.
"Baik bos saya akan memilihkan cincin yang paling bagus bos," ucapnya lagi.
Awalnya Farhan merupakan asisten pribadi Andrew. Menemani semenjak Andrew sekolah, kuliah, hingga bekerja menjadi Presdir. Hanya setahun Farhan menemani Surya karena permintaan Andrew yang katanya ingin mandiri tanpa asistennya.
"Tenang saja bos. Saya sangat paham betul dengan selera bos."
Belasan tahun Andrew menjadi kepercayaan di Keluarga Martadinata. Karena kecakapannya dan kedisiplinannya dalam bekerja. Semua pekerjaannya yang diserahkan kepadanya selalu tuntas dan memuaskan. Tak heran jika Keluarga Martadinata selalu mengandalkan Farhan.
"Saya sudah mendapatkan cincin yang anda pesan bos," lapornya kepada Andrew melalui sambungan telepon.
"Siap bos! Malam ini saya akan langsung terbang ke Bali," lanjutnya.
"Semua beres bos."
__ADS_1
"Sampai jumpa besok."
Bagaimana Andrew tidak senang dengan pekerjaan Farhan. Di tengah malam seperti saat itu, secara dadakan terlintas ide di kepala Andrew untuk menggunakan cincin pernikahan. Guna untuk mendukung drama pernikahan yang telah dia susun. Dan malam itu pula, Farhan bisa mendapatkan cincin seusai dengan pesanan Andrew.
"Kerja yang bagus Farhan," puji Andrew sebelum menutup teleponnya.
Malam itu juga dari Jakarta, Farhan langsung pergi ke Bali. Guna mengantarkan cincin pernikahan pesanan bosnya. Ya, tentu saja bos rasa saudara karena sudah terlalu lama bekerja kepada Keluarga Martadinata. Begitupun Keluarga Martadinata juga telah menganggap Farhan sebagai bagian keluarga mereka.
*
*
Pagi-pagi sekali Farhan berniat mengantarkan pesanan bosnya ke resort. Menyusuri lorong resort untuk sampai pada kamar dimana bosnya menginap bersama sang sekertaris barunya. Eh, ngomong-ngomong Farhan sangat penasaran perempuan yang dimaksud bosnya.
"Tumben bener si bos deket dengan cewek."
"Pasti cantik itu cewek, sampe membuat bos gue membuat drama yang nggak masuk akal."
Sampailah Farhan di kamar yang dimaksud oleh bosnya. Segera diketuknya pintu kamar tersebut. Tak lama kemudian pintu dibuka oleh seorang perempuan cantik lengkap dengan pakaian kerja.
"Tidak salah lagi ini pasti orangnya," batin Farhan tersenyum sembari menatap Stella dari ujung kepala hingga ujung kaki.
__ADS_1
"Perfect! Pantes si bos klepek-klepek," imbuhnya masih dalam hati.
Farhan mengulurkan tangannya untuk mengajak kenalan perempuan yang membuka pintu itu. "Kau pasti Stella kan?" tebak Farhan sok tahu.
Usai menyelesaikan perintah bosnya pagi itu. Farhan akan beristirahat di salah satu kamar yang berada di resort yang sama. Dia berjalan dibelakang Andrew dan Stella yang sedang menuju ruang pertemuan.
"Haha ... Ngaku saja bos kalau suka sama perempuan itu. Nggak usah pakai drama segala," batin Farhan menyeringai dengan niatan untuk menguak perasan bosnya yang sesungguhnya.
##
Apa maksudnya akan menguak perasaan bosnya yang sesungguhnya? Wah Farhan. 🤭 Next episode ya!
⚠️Warning ⚠️
Sebelum ke bab selanjutnya, minta like dan komentarnya dulu ya kakak.
Hallo jika ingin tanya-tanya :
Instagram : @Shinshinta31
YouTube : Ruang Audio
__ADS_1
Thankyou 😇