
"Sayang stop!" teriak Stella tiba-tiba.
Sontak Andrew melongo mendengar teriakan sang istri. Pria dengan gairah yang telah membara itu, mengernyitkan dahinya.
"Aku--- Aku--- Aku--- takut sayang," ucap Stella terbata.
"Takut kenapa?" tanya Andrew dengan wajah yang penuh tanda tanya.
"Ta-takut ha-hamil," jawab Stella.
Andrew terperangah tak percaya perkata itu keluar dari mulut sang istri. Pria yang sudah siap tempur itu pun harus menelan kekecewaan di saat itu. Dia tarik napasnya dalam-dalam dan kemudian dihembuskannya perlahan.
"Kenapa sayang?" ucap Andrew tidak terima.
"A-aku takut saja nanti sakit gimana?" ucap Stella.
"Terus nanti ngelahirinnya gimana?"
"Aku juga masih kuliah sayang."
"Aku pengen fokus kuliah sampai wisuda dulu."
Begitulah alasan demi alasan yang dikatakan oleh Stella. Ditariknya perempuan itu ke dalam dekapannya. Tangannya sibuk mengelus-elus rambut panjang istrinya yang tergerai menutupi punggung Stella.
__ADS_1
"Nggak usah takutlah sayang," ucap Andrea menenangkan.
"Itu sudah menjadi takdir," sambungnya.
"Tapi kan aku masih kuliah sayang. Aku masih mau fokus pada studi aku," balas Stella yang berada di pelukan Andrew. Sehingga suaranya agak susah untuk didengarkan.
Memang benar di usia Stella yang masih menginjak dua puluh itu. Gadis itu masih ingin fokus untuk mengejar cita-citanya. Termasuk anak yang berprestasi sejak kecil. Stella pun juga bercita-cita untuk melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi.
"Sayang apakah kamu nggak kasihan sama adik aku? Dia udah bangun sekarang," ucap Andrew memelas.
"Kamu tega banget sih sayang?" sambungnya.
"Masa aku harus single player sih?" bisiknya ditelinga Stella sembari mengendus-endus telinga istrinya itu.
"Sayang ayolah bantu aku," pinta Andrew.
"Punya aku--- gimana---" sambungnya.
Disisi lain Stella juga bingung harus berbuat apa kepada suaminya. Ingin rasanya dia membantu suaminya itu menyelesaikan semua ini. Tapi bagaimana caranya supaya tidak langsung hamil?
"Aha!" ucap Stella tiba-tiba.
"Aku bisa bantuin kamu, tapi bagaimana kalau keluarnya di luar saja sayang?" Stella mengutarakan idenya.
__ADS_1
"Hah? Diluar? Mana enak?" balas Andrea cepat.
"Ya sudah kalau tidak mau!" ucap Stella sembari melepaskan diri dari pelukan suaminya.
Perempuan itu langsung berlari dan menghempaskan tubuh polosnya ke atas ranjang. Melilit tubuhnya dengan selimut putih tebal yang menutupi seluruh permukaan ranjang. Kini selimut itu melilit tubuhnya hingga seperti kepompong.
"Sayang---" panggil Andrew sembari menggelangkan kepalanya heran dengan tingkah istrinya.
Andrew segera menyusul Stella naik ke atas ranjang. Menggoyang-goyangkan tubuh istrinya itu supaya keluar dari lilitan selimut.
"Sayang ... iya ... iya ... diluar! Ayolah!" bujuk Andrew yang akhirnya menuruti kemauan istrinya.
"Beneran?" tanya Stella menoleh kearah suaminya.
Andrew menganggukkan kepalanya cepat untuk menjawab pertanyaan istrinya. "Buka ya sayang selimutnya," ucapnya lagi sembari berusaha membuka selimut.
"Awas aja kalau bohong!" ancam Stella dengan mengacungkan tinjunya.
Dengan arahan dari Andrew, akhirnya Stella memposisikan dirinya. Dan Andrew dengan segera memasuki istrinya yang sudah siap itu. Oke permainan pun berlangsung dengan sangat apik. Dan pembaca hanya boleh sampai disini. Biarkan mereka bermain dulu ya.
Bye-bye
Sebelum ke bab selanjutnya jangan lupa klik love (favorit-kan), like bab-nya dan komentar-nya juga ya kakak.
__ADS_1
Thankyou 😇