TAKE DOWN NOVEL INI

TAKE DOWN NOVEL INI
Sirloin Steak


__ADS_3

Selang beberapa saat, salah satu sahabatnya datang. Tepat saat masakan Stella sudah matang. Dia menyediakan berbagai macam cemilan dan masakannya tersebut dimeja ruang keluarga. Karena dia tau dua sahabatnya itu suka makan. Apalagi kalau gratisan.


"Wah Stella ... rumah Lo besar banget," ucap Elva kagum.


"Bukan rumah Gue. Tapi rumah keluarganya suami Gue. Gue mah cuma numpang doang," ucap Stella merendah.


"Halah sama saja. Jadi pengen punya suami presdir juga," sambung Elva.


"Pak Arthur-lah dosen sekaligus calon presdir. Meneruskan perusahaan milik ayahnya," ucap Stella menimpali doa Elva.


"Ya enggak El?" lanjut Stella bertanya.


Raut wajah Elva menjadi sedikit memerah. Kembali dia salah tingkah jika disangkutpautkan dengan Arthur. Memang beneran cinta Elva kepada Arthur itu.


"I-iya doain aja ya Stella," ucap Elva ragu.


"Eh iya kok Evan belum datang juga ya?" Stella menengok kearah jam dinding di ruangan itu.


Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Rencananya Stella akan mengajak sahabat-sahabat itu makan siang sekalian sebelum ngerjain tugas. Tetapi karena Evan belum datang, mereka akan menunggu kedatangan Evan.


"Permisi Nona," ucap Wiwit salah satu pelayan di rumah itu.

__ADS_1


"Ada kiriman makan siang, Nona." Wiwit menyodorkan sebuah paper bag kepada nona mudanya.


"Dari siapa Mbak?" tanya Stella penasaran.


"Saya kurang tau Nona. Waktu saya tanya katanya ya dari tanpa nama," jawab Wiwit jujur.


"Oh iya, terima kasih ya Mbak," ucap Stella dan Wiwit segera pergi meninggalkan ruang keluarga.


Rasa penasaran yang besar membuat Stella langsung membuka isi dari paper bag tersebut. Didalamnya terdapat beberapa kotak yang disinyalir berisi makanan enak. Darimana dia tahu? Tentu saja harum makanan itu sudah tercium sejak Wiwit datang mengantarkan paper bag tersebut.


"Wah sirloin steak," gumam Elva takjub dengan tampilan makanan itu. Bukan sirloin steak biasa, ini dengan daging yang premium yang besar-besar. Melihatnya dan mencium harumnya saja sudah menggugah selera.


"Palingan juga suami Lo kali," tebak Elva.


"Entahlah," sahut Stella.


Sementara dua perempuan itu masih diam memikirkan makanan didepannya itu. Seorang laki-laki muda sudah datang menghampirinya. Siapa lagi kalau bukan Evan, dia bisa masuk karena dibukakan pintu oleh Wiwit. Tadinya Stella sudah berpesan bahwa sahabat laki-laki akan datang.


"Waduh pada ngapain nih?" sapa Evan.


"Kayaknya enak nih?" mata Evan sudah fokus pada makanan lezat dimeja itu.

__ADS_1


Melihat kedatangan orang yang ditunggu-tunggu. Stella langsung mengajak semuanya ke ruang makan untuk makan siang. Sekalian makan sirloin steak premium yang baru saja tiba.


"Ayo silahkan dimakan. Anggap saja ini rumah Gue," ucap Stella mempersilahkan. Dan tiga orang bersahabat itu makan siang bersama. Dua sahabatnya tampak lahap menyantap makanan yang telah disediakan.


"Mantep banget steak-nya," ucap Evan mengelus perutnya yang kekenyangan. Biasa makan siang dengan mie instan, nah kali ini dengan steak. Agak kaget sih sebenarnya perutnya itu.


"Tapi Gue masih penasaran sama yang ngirim steak ini deh," gumam Elva.


"Lho emang siapa?" tanya Evan.


"Nggak tahu," jawab Elva dan Stella bersamaan.


Pikiran Evan langsung kembali dengan kejadian dirinya saat tiba di gerbang rumah ini. Dia bertemu dengan seseorang yang berhenti diatas motornya. Sementara saat dia sudah masuk gerbang, dia bertemu dengan satu orang lagi. Jika kalian berpikir itu petugas ojek makanan atau delivery. Bukan, gaya dan pakaiannya seperti mahasiswa. Yang tentunya Evan sepertinya kenal.


##


Siapa kira-kira orang yang berpapasan dengan Evan tadi?


⚠️Warning ⚠️


Sebelum ke bab selanjutnya, minta klik love-nya dulu (favorit kan dulu ya), jangan lupa like dan komentarnya ya kakak.

__ADS_1


__ADS_2