
"Saya sudah mencampurkan obat tidur ke dalam makanannya," ucap Diana dengan kesal.
"Bagaimana bisa gagal lagi ini!" bentaknya kepada perempuan cantik di depannya.
Di apartemen milik Luciana mereka berdua berkumpul. Memantau penculikan Stella dari kejauhan. Dan ternyata mereka berdua harus menelan kekecewaan malam itu.
"Memang benar-benar payah pasukan kita Tante," balas Luciana yang juga kesal.
"Kalau tau payah kenapa masih saja kamu memakai mereka?" ucap Diana.
"Ganti mereka dengan orang-orang yang lebih berpengalaman dalam menculik!" sambungnya.
"Kalau perlu bayar mereka dengan bayaran yang lebih agar kerjanya bagus!"
Saat penyerangan yang dilakukan di Jalan XX, komplotan penculik itu kabur ketika rombongan polisi datang. Farhan menelepon pihak kepolisian untuk datang ke Jalan XX. Dengan laporan penculikan nona muda dari Presdir Dinata Grup.
"Mereka memakai perlindungan dari polisi, Tante," ucap Luciana lagi.
"Jangan mau kalah kita juga minta perlindungan polisi yang mau diajak kongkalikong untuk menculik perempuan itu," perintah Diana.
Dua perempuan beda usia itu masih berniat kuat untuk memisahkan Andrew dan Stella. Meskipun sudah dua kali bertindak dan itu gagal semua. Mereka tidak akan menyerah begitu saja. Masih banyak rencana lain yang mereka siapkan untuk kemenangan mereka.
"Kita harus bisa memisahkan mereka berdua!" tutur Diana menatap tajam lawan bicaranya.
"Benar Tante! Saya juga sangat tidak terima mereka bahagia disaat hati ini terluka," balas Luciana tidak terima.
__ADS_1
Mata perempuan cantik yang suka berpakaian minim itu menoleh ke arah dinding kaca pembatas. Manik matanya menyiratkan dendam yang dalam. Tidak sabar untuk segera merebut Andrew dari istrinya.
"Pecat mereka semua yang tidak becus!" perintah Diana penuh penekanan.
"Ganti semua orang-orang suruhan kamu dengan yang baru. Yang lebih berkualitas!" sambungnya.
"Baiklah Tante!" balas Luciana kemudian mengambil ponselnya dan menjalankan apa yang diperintahkan oleh Diana.
*
*
"Arthur!" panggil Arslan yang baru saja masuk ke dalam kamar putranya di hotel itu..
"Bagaimana keadaan kamu?" tanya Arslan melihat kondisi putranya yang babak belur.
"Udah baikan kok Pa," jawab Arthur seraya bangkit duduk.
"Tadi Tuan Andrew mengatakan terima kasih kepada papa atas apa yang kamu lakukan," ucap Arslan memberitahu.
Pria muda itu tersenyum tipis mendengar ucapan papanya. Mungkin hanya itu ekspresi yang bisa ditujukkan oleh dirinya. Mau bagaimana lagi? Masak iya dia akan menunjukan wajah kecewanya karena harus melupakan Stella? Tidak mungkin kan?
"Papa ..." panggil Arthur.
"Apakah Tuan Andrew sudah menikah sejak lama?" tanyanya.
__ADS_1
"Apakah benar papa juga orang yang paling bahagia ketika melihat mereka menikah?" sambungnya.
Pria paruh baya itu tersenyum lebar. Membayangkan pasangan muda yang baru saja menikah itu. Disaat pertama kamu pertemuan keduanya dengan Arslan di Bali waktu itu.
"Ya. Benar. Papa orang yang paling mendukung pernikahan mereka berdua." Arslan mulai berbicara.
"Berawal dari perempuan kita di Bali. Mereka pasangan yang sangat cocok dan romantis sekali saat itu," jelasnya mengingat kembali.
"Tuan Andrew tampak benar-benar tulus mencintai Nona Stella. Sementara Nona Stella juga perempuan polos, cantik, pinter, dan tampak setia," lanjutnya.
"Mereka saling melengkapi."
Deg. Jantung Arthur berdetak tak karuan. Mendengar cerita dari sang papa. Bahwasanya benar apa yang dikatakan Andrew kepadanya. Memang benar papanya itu mendukung pernikahan mereka.
##
Sakit banget ya hati di Arthur tau papanya yang menyukai hubungan Andrew dan Stella. Si papa gatau perasaan Arthur sih.
⚠️Warning ⚠️
Sebelum ke bab selanjutnya, minta klik love-nya dulu (favorit kan dulu ya), jangan lupa like dan komentarnya ya kakak.
Hallo jika ingin tanya-tanya :
Instagram : @Shinshinta31
__ADS_1
YouTube : Ruang Audio
Thankyou 😇