
"Iya Elva! Minggu depan Gue udah balik ke Jakarta kok. Janji deh Gue ke kampus," kata Stella melalui sambungan telepon.
Perempuan itu berjalan mondar-mandir di dekat dinding kaca pembatas. Menempelkan ponselnya ditelinga kanannya. Sesekali menikmati pemandangan malam Singapura yang penuh dengan gemerlap lampu dari gedung-gedung yang menjulang tinggi.
"Iya ... iya ... Mau oleh-oleh apa?"
-.-.-.-.-
"Oke deh oke!"
-.-.-.-.-
"Sudah ya Gue mau tidur nih"
-.-.-.-.-
Tepat saat Stella mengakhiri panggilan telepon itu. Dua tangan kekar itu telah melingkar indah di pinggangnya. Siapa lagi kalau bukan Andrew yang baru saja menyelesaikan ritual mandinya. Dengan masih menggunakan handuk kimono berwarna putih. Pria tampan itu mendekatkan dirinya pada sang istri.
"Siapa?" tanya Andrew.
__ADS_1
"Elva," jawab Stella singkat.
"Nggak usah cemburu, dia sahabat perempuan aku," sambungnya.
"Siapa yang cemburu?" tanya Andrew sembari menggelayut manja pada tubuh sang istri.
Masih di dalam posisi Andrew yang memeluk Stella dari belakang. Setelah menolehkan wajahnya ke belakang. Hendak protes terhadap kata-kata suaminya, "Masih tanya siapa yang cemburu?"
"Nggak nyadar diri banget. Apa-apa dikit cemburu, marah, pergi. Gitu saja terus," ucap Stella dengan cemberut.
"Itu kan karena kamu deket-deket sama laki-laki lain. Aku gak suka kamu dideketin atau dekat dengan laki-laki kain. Kamu itu hanya milikku!" ucap Andrew yang kini telah menaruh dagunya di atas bahu Stella.
Posisi yang menurut Andrew sangat nyaman dan hangat. Dalam pelukan sang suami dan dengan wajah keduanya yang hampir tak ada jarak. Mata keduanya melihat hamparan pemandangan malam di kota yang sangat ramai itu. Sesekali keduanya saling curi-curi pandang.
"Aku itu cuma nggak mau kamu tergoda sama pria lain sayang. Makanya aku selalu marah kalau kamu dideketin pria lain," ucap Andrew seraya menoleh kearah wajah istrinya. Masih dengan menempel di bahu Stella. Tampak sekali perempuan itu masih cemberut dengan bibir merah muda yang menggemaskan.
"Main yuk sayang!" ajak Andrew.
"Main? Main apa?" tanya Stella kebingungan.
Tanpa menunggu jawaban Stella yang tak pasti. Satu tangan yang tadinya melingkar di pinggang Stella. Kini telah menyibakkan rambut panjang yang menutupi leher jenjang milik Stella. Terpampang leher putihnya dengan kalung berlian pemberian Andrew tempo hari yang melingkar indah.
__ADS_1
"Aku mau gigit kamu," bisik Andrew lembut tepat di telinga Stella.
Sepersekian detik bibir tebal pria tampan itu sudah mendarat di leher mulus istrinya. Menjil4t-jil4t leher itu dengan tempo yang lambat. Berlanjut dengan memberikan gi9itan kecil pada beberapa bagian dileher itu.
"Sayang ... geli ..." Stella mencoba protes meskipun dia juga menikmati perbuatan suaminya itu.
Tanpa menghiraukan perkataan istrinya. Bibir pria itu sudah menjalar sampai bahu Stella. Menyibakkan piyama merah marun yang menutupi bahu istrinya. Sementara tetap mencium bagian bahu istrinya, tangannya bermain pada bagian depan istrinya.
Beberapa saat kemudian Andrew berhasil m3lucuti piyama yang melekat pada tubuh istrinya. Hingga tersisa pakaian dalam berwarna senada dengan piyama tadi. Andrew membalikkan tubuh Stella untuk menghadapnya.
Tubuh keduanya saling menempel satu sama lain. Detak jantung keduanya berdebar sangat kencang seiring deru napas yang bergairah. Tangan Andrew terus lihat menggerayangi tubuh sang istri. Hingga pada saatnya 'milik' Andrew siap untuk masuk kedalam peraduannya.
"Sayang stop!" teriak Stella tiba-tiba.
##
Ada apa lagi ini Stella sayang? Pembaca usah tidak sabar. Main stop stop bae.
Sebelum ke bab selanjutnya jangan lupa klik love (favorit-kan), like bab-nya dan komentar-nya juga ya kakak.
Thankyou 😇
__ADS_1