
"Maaf saya permisi. Ada yang harus saya kerjakan," ucapnya dingin seraya berjalan meninggalkan dua mahasiswanya itu.
Setelah pria yang tak lain adalah dosen mereka itu hilang dari pandangannya. Dua perempuan cantik itu saling bertatapan. Sama-sama bingung dengan sikap dosennya yang biasanya ramah menjadi dingin.
"Dia kenapa?" tanya Stella.
"Lagi patah hati sama Lo. Tanggung jawab Lo, udah buat anak orang patah hati jadi kaya gitu," jawab Elva.
"Lha kok Gue?" Stella tidak terima.
"Nggak sadar diri banget Lo. Dia baru tau kalau Lo udah nikah. Terus ya gitu deh," ucap Elva.
Mereka berencana melanjutkan obrolan di kantin kampus. Sembari melepaskan rindu karena berpisah berminggu-minggu karena magang. Dan lagi ditambah Stella habis dari Singapura.
"Terus Gue saranin dia buat move on aja. Udah nggak ada harapan sama Lo," ucap Elva seraya mendudukkan tubuhnya pada salah satu kursi di kantin itu.
"Gue suruh cari pengganti Lo buat mengisi hatinya," imbuhnya.
"Oh iya asal Lo tau aja ya. Ternyata Pak Arthur dan papanya rekan bisnis suami Gue dong. Kemarin sama-sama ketemu di Singapura," ucap Stella santai.
Elva terperangah mendengar penjelasan dari sahabatnya itu. Pantes aja hari ini muka itu dosen kusut sekuat-kuatnya. Ternyata itu penyebabnya.
__ADS_1
"Hah? Yang bener? Pantesan hari ini Pak Arthur lemes banget," ucap Elva.
"Terus gimana kelanjutannya? Ceritain dong pasti bikin nyesek banget hati Pak Arthur," lanjutnya sembari memegang dadanya seolah merasakan apa yang dirasakan oleh dosennya itu.
Orang yang diajak berbicara justru sedang sibuk membolak-balikkan buku menu. Memilih menu yang akan dia pesan. Seraya berkata, "Udah ceritanya panjang banget. Mending pesan minuman dulu. Gue harus nih."
Masih dengan perasaan tidak sabar mendengarkan cerita dari Stella. Akhirnya Elva memilih menu dan memesan minuman serta cemilan untuk mereka. Setelah menyerahkan kepada pelayan. Elva kembali duduk di tempatnya tadi.
"Ngomong-ngomong kenapa enggak Lo aja yang gantiin Gue di hatinya," celetuk Stella tiba-tiba.
"Kan Lo suka itu sama Pak Arthur," lanjutnya.
"Iya suka sih suka Guenya. Cuma Lo doang yang nggak suka sama dosen sekaligus pengusaha kaya dia. Udah pinter, ganteng, tajir lagi," puji Elva.
"Tapi posesif sih," imbuhnya dengan nada suara yang lesu.
Oboralan mereka terhenti sejenak karena pelayan kantin mengantarkan pesanan mereka. Segera dua perempuan itu langsung menyedot minuman dingin yang dipesan masing-masing. Lumayanlah menyegarkan tenggorokan mereka pada siang yang terik ini.
"Gapapa posesif itu bukti cinta. Gak mau kehilangan Lo," ucap Elva setelah meminum jus stroberi-nya.
"Eh gimana? Lanjut ke cerita kenapa enggak Lo aja yang berusaha mengisi hati Pak Arthur." Stella kembali mengingatkan topik pembicaraan yang terlewat.
__ADS_1
"Ya, Lo tau sendiri kan Gue emang mengidolakan Pak Arthur sejak dulu. Tapi kan hanya Gue aja yang suka sama dia. Sementara dianya kagak ada perasaan apa-apa ke Gue," jelas Elva.
Stella manggut-manggut mendengar penjelasan Elva. Sesekali memakan kentang goreng ke dalam mulutnya.
"Bukannya Lo juga sering chattingan sama dia?" tanya Stella.
"Yah itu mah dia chatting gue gara-gara nanyain Lo kali. Pendekatan sama Lo tapi lewat Gue," jelas Elva lagi.
Kembali Stella manggut-manggut setelah tau hubungan sahabatnya dengan dosennya itu hanya sebagai perantara. Stella merasa berdosa karena ternyata dirinya merepotkan sahabatnya itu.
"Elva meskipun sekarang hanya kamu yang memiliki rasa sama Pak Arthur. Kamu harus berjuang buat dapetin dia. Semangat Elva semangat!!!" ucap Stella.
"Gue dukung Lo nyatakan cinta ke dia Elva. Gue dukung," lanjutnya masih dengan semangat yang membara.
Langsung Elva melambaikan tangannya. Menolak usulan Stella untuk menyatakan cinta kepada dosennya. Bagaimana bisa Elva duluan yang harus menyatakan cinta.
##
Gimana comblangin gak nih? Atau fokusk ke kisah asmara Stella dan Andrew aja?
Sebelum ke bab selanjutnya jangan lupa klik love (favorit-kan), like bab-nya dan komentar-nya juga ya kakak.
__ADS_1
Thankyou 😇