
Disisi lain, tepatnya dibalik dinding kaca lantai dua restoran itu. Tampak seorang pria tersenyum menang karena berhasil membuat Stella meninggalkan Mario saat itu juga. Dia pun berbalik meninggalkan dinding kaca untuk memulai pertemuan yang akan diadakan saat itu.
"Haha ... Jangan harap Lo bisa deketin Stella dengan mudahnya," gumam Andrew dalam hati.
Pertemuan yang diadakan itu untuk membahas proyek kerjasama baru sebuah mall terbesar yang akan didirikan di Pulau Dewata Bali. Melibatkan perusahaan-perusahaan besar di tanah air. Dua diantaranya adalah perusahaan milik Andrew dan Mario. Dan masih ada beberapa perusahaan besar lainnya yang bergabung dalam proyek tersebut.
Pertemuan perdana kali ini berjalan lancar dengan agenda pemaparan anggaran dasar proyek besar itu. Setelah ini akan lebih sering diadakan pertemuan bersama untuk membahas proyek kerjasama.
"Sekian pertemuan kali ini. Besar harapan saya agar pembangunan proyek ini berjalan dengan lancar," tutup salah pemimpin rapat.
Setalah rapat benar-benar dibubarkan. Setelah membereskan berkas milik masing-masing. Satu persatu meninggalkan ruang pertemuan.
"Hai, Stella," sapa Mario mendekati tempat dimana Stella berada.
"Eh ha-lo," balas Stella.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Mario berbasa-basi.
"Tidak ada tuan. Terimakasih," ucap Stella tersenyum sembari memasukan beberapa berkas terakhirnya ke dalam tasnya.
Dari pintu menuju keluar, disana sudah berdiri Andrew yang mengawasi tingkah keduanya. Karena Stella peka terhadap bosnya itu. Dia bergegas untuk segera menyusul bosnya meninggal ruang pertemuan.
"Maaf saya harus pergi dulu Tuan. Saya sudah ditunggu oleh Tuan Andrew," pamit Stella.
__ADS_1
"Stella ... tapi pembicaraan kita tadi belum selesai," ucap Mario.
"Bisa kita lanjutkan lain waktu ya Tuan."
"Saya permisi dulu," pamit Stella lagi lalu benar-benar pergi meninggalkan Mario.
"Stella ... Stell ... tunggu dulu!" Mario terus berusaha menghentikan Stella.
Namun usahanya gagal karena Stella sama sekali tidak menggubrisnya. Perempuan cantik itu melenggang meninggalkan ruang pertemuan. Menghampiri bosnya yang sudah menunggunya.
"Haduh! gagal lagi," gerutu Mario sembari mengusap wajahnya dengan kasar.
"Oh Stella-ku," gumamnya.
*
*
Di dalam mobil saat perjalanan menuju ke kantor perusahaan Dinata.
"Stella ... saya lihat-lihat itu si Mario ngapain deket-deket sama kamu?" tanya Andrew mulai membuka pembicaraan.
"Wah maaf Tuan. Saya juga kurang tahu. Tapi katanya tadi mau kenalan lagi sama saya. Padahalkan sebelumnya kita sudah pernah kenalan," jawab Stella menjelaskan.
__ADS_1
"Terus dia juga mau minta nomer telepon saya," lanjutnya.
"Lalu kamu sudah memberikan nomer itu kepadanya?" tanya Andrew cepat.
Jujur saya Andrew tidak akan terima jika Mario telah berhasil mendapatkan nomer telepon sekertaris pribadinya itu.
"Em ... belum saya kasih kok Tuan," jawab Stella.
"Karena tadi saya kan harus segera datang tepat waktu di ruang pertemuan dan juga waktu pulang saya tidak enak kalau Tuan menunggu saya terlalu lama," ujar Stella.
"Syukurlah," ujar Andrew secara spontan dengan mengelus dadanya lega.
Ternyata sekertarisnya itu pintar juga untuk menghindari Mario. Tanpa disuruh olehnya, tapi dengan sendirinya dia menghindar dari Mario. Kira-kira kenapa alasan Stella menghindar dari Mario?
⚠️Warning ⚠️
Sebelum ke bab selanjutnya, minta like dan komentarnya dulu ya kakak.
Hallo jika ingin tanya-tanya :
Instagram : @Shinshinta31
YouTube : Ruang Audio
__ADS_1
Thankyou 😇