
Ya, benar sekali. Lelaki itu tidak lain dan tidak bukan adalah Mario. Rekan kerja sekaligus sahabat dari Andrew.
"Stella ... ngomong-ngomong sudah berapa kamu bekerja dengan Andrew?" tanya Mario sesekali menoleh ke arah Stella kemudian kembali fokus pada jalanan di depannya.
Mata perempuan yang sedari tadi canggung dengan melemparkan tatapan matanya ke arah jendela samping. Kini menoleh kearah seseorang yang mengajaknya berbicara.
"Ehm ... belum ada satu bulan Tuan," jawab Stella.
"Oh ternyata belum lama ya," balas Mario.
"Kamu nggak usah canggung gitu dong. Aku ini sahabatan sama Andrew. Dan kamu anggap aja kalau kita temenan juga," pinta Mario.
Melihat sikap Stella yang tampak canggung itu. Membuat Mario mengatakan hal tersebut. Menyuruh menganggapnya sebagai teman, bukan rekan bisnis bosnya.
"Tapi kan Tuan rekan bisnis bos saya Tuan," ucap Stella.
"Tapi kan ini diluar jam kantor Stella," balas Mario.
"Panggil gue Mario," pinta Mario sembari melirik kearah Stella. Meminta cara memanggil yang tidak formal.
"Ehm ... sepertinya saya tidak bisa Tuan," tolak Stella.
"Saya harus tetap menghormati anda Tuan," lanjutnya.
__ADS_1
"Baik di dalam urusan bisnis ataupun di luar jam kantor."
Mario mengukir senyuman karena mendengar penolakan dari Stella. Baginya perempuan itu semakin menarik. Entah karena terlalu polos atau memang sok polos. Hingga tetap kekeuh ingin memanggilnya dengan sebutan tuan.
"Ya sudah deh terserah kamu saja," ujar Mario pasrah yang kembali menggunakan bahasa formal.
Suara alunan musik yang disetel dengan volume perlahan. Menemani keduanya mengikis waktu yang terasa lama itu. Mario senang bisa semobil dengan Stella. Sedangkan Stella merasa ingin cepat menyudahi perjalanan ini.
"Eh kamu masih kuliah kah?" kembali Mario mencoba memulai topik pembicaraan baru.
"Magang di Dinata Grup sampai kapan?" lanjutnya.
"Kalau sudah lulus kuliahnya nanti langsung lamar kerja di perusahaan saya saja. Saya jamin akan langsung lolos."
"Darimana Tuan tahu kalau saya masih kuliah?"
Mario tertawa melihat keterkejutan Stella dan tingkah kebingungan gadis itu. Tetapi lelaki itu tidak akan memberi jawaban bagaimana dirinya tahu informasi mengenai Stella tersebut.
"Gak usah kaget begitu lah Stella," ucap Mario yang masih menertawakannya.
"Oh iya kamu belum jawab pertanyaanku tadi," imbuhnya.
Kikuk itulah yang dirasakan Stella saat ini. Stella rasa tidak perlu menjawab pertanyaan dari Mario itu. Yang menggangu pikirannya saat ini hanyalah darimana Mario tahu tentang dirinya yang masih kuliah. Padahal yang selama ini tahu bahwa dia hanya mahasiswa magang yang memiliki jabatan tinggi hanyalah Andrew.
__ADS_1
"Okelah kalau kamu nggak mau jawab pertanyaan saya," ujar Mario.
"Tapi ngomong-ngomong lagi. Untuk pertanyaan saya terakhir di pagi ini. Tolong kamu jawab jujur ya Stella."
Dengan tangan yang mengendalikan kemudi. Serta mata yang fokus menatap jalanan dihadapannya. Mario siap melontarkan pertanyaan terakhirnya pagi ini.
"Apa alasan Andrew mengatakan kalau kamu istrinya?"
Bak disambar petir dengan mata yang membelalak. Jantung Stella berdetak lebih kencang. Otaknya pun seakan terhenti sejenak. Tidak dapat memikirkan apapun saat ini.
##
Waduh udah mulai dag dig dug der nih! Apa yang harus Stella katakan.
⚠️Warning ⚠️
Sebelum ke bab selanjutnya, minta klik love (favorit), like dan komentarnya dulu ya kakak.
Hallo jika ingin tanya-tanya :
Instagram : @Shinshinta31
YouTube : Ruang Audio
__ADS_1
Thankyou 😇