TEARS OF KUMARI KANDAM

TEARS OF KUMARI KANDAM
CHAPTER 98


__ADS_3

"Kau yakin?"


Laasya tak segera menjawab Braheim. "Bukankah itu yang Anda inginkan, Yang Mulia?"


"Jadi begitu. Kau yakin tetapi tidak berkenan."


"Sejak kembali dari masa lalu, Ibu tidak memperbolehkan hamba bermain di luar. Hamba tidak keberatan mengingat tak ada satu pun yang mau berteman dengan hamba. Lalu untuk mengisi waktu, hamba mencoba membuat Dhoop*." Laasya mengeluarkan Dhoop dari dalam saku pakaiannya.


Dhoop* merupakan hiasan berbentuk Dewa-dewa kepercayaan orang Kumari Kandam. Biasanya Dhoop dibuat oleh kuil atau organisasi keagamaan. Dhoop hanya dibuat saat musim hujan dan kemarau, karena dipercaya dapat menghindarkan segala macam penyakit. Dhoop terbuat dari abu dupa sisa sembahyang yang dililit kain yang sudah direndam air suci selama sehari semalam.


Braheim mengangguk pada seorang pelayan, lalu segera si pelayan memeriksa Dhoop buatan Laasya, dan langsung menyerahkannya pada Braheim setelah dipastikan aman.


Braheim membolak-balik Dhoop buatan Laasya. "Kau berbakat."


"Terima kasih, Yang Mulia."


"Aku akan menyimpannya."


"Mohon maaf tapi hamba membuatnya untuk Adik Vinder, Yang Mulia." balas Laasya.


Braheim mengurungkan niatnya membuka laci. "Ah."


Laasya menahan tawanya, membuat Braheim semakin malu. Hari ini Laasya mendapat surat berstempel emas dari Braheim. Laasya pun langsung bersiap dengan diantar oleh sang ibu yang kebetulan juga akan mengunjungi Haala dan Vinder. Laasya tahu tujuan Braheim memintanya menghadap, karena Haala sudah memberitahunya. Laasya akan menggantikan Haala sebagai Komandan Perang Kumari Kandam melalui ajang Vinaash*, dan Braheim ingin memastikan kesediaannya secara langsung.


Vinaash* merupakan ujian yang dibuat oleh Yusef Bahadir dengan keyakinan bahwa hanya keturunannya saja yang bisa melewatinya. Vinaash tidak dibuat dengan maksud kecongkakan, karena nyatanya puluhan orang biasa yang pernah mencobanya selalu berakhir menemui ajal.


KLEK


"Penasihat, yang selanjutnya adalah Anda."


Murat menunjuk dirinya sendiri, Laasya hanya mengangguk menanggapinya dan kemudian berlalu mengikuti panduan seorang pelayan menuju istana baru*.


Istana baru* istana yang diperuntukkan Braheim khusus untuk Haala dan Vinder. Istana baru dibangun tepat di samping istana selatan*.


Istana selatan* merupakan istana di mana raja tinggal dan melakukan segala aktivitas yang bersifat pribadi. Istana ini dibangun di atas lahan seluas lima ratus hektar. Meski demikian hanya istana tersebut satu-satunya bangunan yang ada di sana. Selebihnya, istana selatan hanya ditanami pohon bambu.


"Panjang umur, dan terberkatilah selalu, matahari Kumari Kandam."


Braheim memutar kursinya menghadap Murat. "Aku ingin mendengar kondisi terbaru Aryesh Farorz. Kurasa tiga menit cukup."


"Hamba yakin dia baik-baik saja, Yang Mulia."

__ADS_1


"Sungguh? Kau anggap itu sebagai jawaban?"


Murat berdeham, "Andai hamba bisa memastikan sendiri kondisinya, Yang Mulia."


"Setiap hari kau semakin bertambah kotor karena tidak pernah melewatkan satu malam pun untuk bercinta dengan Putri Chadna dan apa katamu? Kau berandai bisa memasuki portal itu dan memastikan sendiri kondisi Aryesh Farorz?"


Murat berdeham lagi, sambil memandangi semua pelayan yang ada di ruangan itu. "Hamba akan segera membawakan jawaban yang Anda inginkan, Yang Mulia. Lalu daripada itu, masih banyak yang ingin menghadap Anda."


"Penuhi ucapanmu, Murat Iskender. Selanjutnya, bawa pria sinting itu ke hadapanku."


"Sesuai perintah Anda, Yang Mulia."


Murat berjalan setengah berlari, berharap bisa segera mengunci rasa malunya di ruangan yang dipenuhi gulungan laporan itu. Namun sial. Meski pintu sudah ditutup rapat, rasa malu Murat nyatanya masih bisa menembus melalui sela-sela yang tidak tertangkap mata telanjang.


"Kepala Sipir, silakan. Yang Mulia sudah menunggu Anda." Murat membukakan pintu untuk Kepala Sipir. Ya, pria sinting yang dimaksud Braheim.


"Panjang umur, dan terberkatilah selalu, matahari Kumari Kan--"


"Aku tak menyangka jika perangaimu itu lebih kotor dari mulutku," sela Braheim pada Kepala Sipir.


"Hamba bersalah, Yang Mulia."


Braheim tiba-tiba melempar gulungan laporan yang tepat mengenai kemalu*n si Kepala Sipir, sembari berteriak dengan nada suara yang menggetarkan gendang telinga siapa pun.


Kepala Sipir hanya menunduk menahan keterkejutannya, juga rasa takut, dan malu setengah mati.


"Aku tidak peduli dengan siapa kau bercinta! Tapi di mana tanggung jawabmu setelah membebaskan seorang tahanan! Seharusnya kau ikuti ke mana tahanan itu pergi dan bukan malah mengunci diri di ruanganmu, bertelanjang bulat, dan berbaring dengan mata tertutup kain!" seru Braheim.


"Mohon ampuni ke--"


"Serahkan lencanamu."


Kepala Sipir tidak tampak terkejut, tetapi buru-buru menuruti perintah Braheim. Pria berkuncir kuda itu lalu kembali ke tempat semula, menanti hukuman yang kemungkinan besar adalah skors selama sepuluh bulan. Namun.


"Membebaskan tahanan tanpa izin Raja Kumari Kandam, berperangai tidak pantas sebagai orang berstatus tinggi, dan melakukan tindak asusila saat bertugas. Hukum cambuk seratus kali. Selanjutnya, Aswin Nadeem!"


Kepala Sipir pun keluar dari ruangan itu dengan ekspresi campur aduk. Terkejut, takut dan malu. Hukum cambuk seratus kali? Seorang pelayan yang mendapat hukum cambuk tiga puluh kali saja langsung terserang demam dan menghembuskan napas terakhir keesokan harinya. Semuanya benar-benar karena pelayan Jihan. Andai mereka datang satu menit lebih cepat untuk menyampaikan kabar ketidakhadiran Jihan, dirinya pasti sempat memakai setidaknya c*lana dal*m sebelum diseret ke hadapan Murat.


"Panjang umur, dan terberkatilah selalu, matahari Kumari Kandam."


Braheim mengangguk menanggapi Aswin. "Kali ini siapa lagi yang harga dirinya terluka, Aswin?"

__ADS_1


"Hamba tidak datang untuk membahas itu, Yang Mulia." Aswin diam sesaat, memikirkan apa yang akan dikatakannya selanjutnya. "Hamba tiba-tiba tersadar, jika tidak ada yang lebih pantas menduduki kursi Komandan Perang Kumari Kandam selain Komandan Haala."


Braheim menghela napas. "Aku penasaran, Aswin. Tentang bagaimana kau bisa keluar hidup-hidup dari medan perang dengan sifat tidak kokoh seperti itu."


"Mohon ampuni kekurangan hamba, Yang Mulia."


"Apa yang membuatmu berubah pikiran?"


"Sejujurnya selama ini hamba merasa ada yang disembunyikan Komandan Haala. Tapi hamba tidak tahu apa itu. Sampai sebelum kemarin. Hamba melihat dengan mata kepala hamba sendiri, kemampuan Komandan Haala yang sebenarnya."


"Memang apa yang kau lihat?"


"Kemampuan memanah Komandan Haala yang sangat luar biasa, Yang Mulia," jawab Aswin.


"Ah, kau membahas musuh yang mengincar Vinder. Bukankah kau juga bisa melakukan itu?"


Aswin menggeleng. "Memanah dari jarak sejauh itu mustahil, Yang Mulia. Apalagi targetnya adalah makhluk bergerak, itu jauh lebih mustahil."


"Begitu rupanya. Ya, Komandan Perang sudah seharusnya memiliki kemampuan seperti itu." Braheim mengetukkan telunjuknya ke meja berulang kali. "Lalu kembali ke topik pembicaraan kita. Jika itu yang kau inginkan, maka bertanggung jawablah atas kegaduhan yang kau buat, Aswin. Aku akan membantu mengumumkan pembatalan ajang Vinaash."


"Terima kasih, Yang Mulia."


Aswin keluar dari ruangan Braheim dengan wajah lega. Beruntung sekali. Jelas saja. Sebab rata-rata yang keluar dari ruangan Braheim pasti akan menunjukkan ekspresi selain lega. Entah itu takut, bingung, pun malu setengah mati seperti Murat dan Kepala Sipir. Lalu tak berselang lama, kedatangan Aswin pun diganti pengantri selanjutnya, Kepala Pengurus Istana Baru.


" ... Kejadian kemarin memang tidak bisa ditoleransi. Tapi itu bukan salahmu melainkan prajurit penjaga. Jadi ambil kembali surat pengunduran diri ini, dan temukan solusinya."


Kepala Pengurus Istana Baru membungkuk pada Braheim. "Sesuai perintah Anda, Yang Mulia."


"Ada yang lain yang ingin kau katakan?"


"Benar, Yang Mulia. Hamba berencana menambah empat orang pelayan yang akan hamba tugaskan mu--"


BRAK


"Yang Mulia."


Spontan Braheim menoleh pada Menteri Luar Benua yang baru saja menerobos masuk ke ruangannya.


"Mohon ampuni kelancangan hamba tapi ini sangat mendesak, Yang Mulia." Menteri Luar Benua mengatur napasnya seraya berjalan setengah berlari menghampiri meja Brabeim. "Pemimpin suku pengembara telah bangkit dari kuburnya, Yang Mulia," imbuh Menteri Luar Benua.


Tanpa sadar Braheim beranjak dari singgasananya. "Apa katamu?"

__ADS_1


"Itu benar, Yang Mulia. Hamba bersumpah. Hamba melihatnya dengan mata kepala hamba sendiri. Pemimpin suku pengembara berdiri di tengah-tengah laut, sedang menghalau ombak setinggi tiga puluh meter yang hendak meratakan rumah penduduk di pesisir."


DEG


__ADS_2