TEARS OF KUMARI KANDAM

TEARS OF KUMARI KANDAM
CHAPTER 94


__ADS_3

Jihan akhirnya sadar, setelah dua hari penuh tergolek tak berdaya di ranjang. Tetapi tentu saja kata pertama yang keluar dari bibir tanpa sapuan gincu itu bukan ungkapan syukur melainkan sumpah serapah. Masih membekas jelas ingatan hari itu, ketika seorang wanita paruh baya tiba-tiba melayangkan belati dan membuat pergelangan tangan Jihan hampir terputus. Jihan meringis ngeri, berusaha keras mengusir ingatan hari itu.


"Anda sudah sadar, Putri." Seorang pelayan yang baru saja masuk ke dalam kamar Jihan tampak terkejut.


"Ya, bawakan aku se--"


Ucapan Jihan terjeda, karena pelayannya yang malah kembali keluar dari kamar tidurnya. Lalu tak berselang lama, pelayan itu kembali bersama seorang tabib. Segera tabib itu pun mengeluarkan peralatannya untuk memeriksa kondisi Jihan. Beruntung Jihan baik-baik saja, meski butuh waktu lama untuk pulih sepenuhnya. Tabib juga mengatakan jika aktivitas Jihan tidak akan terlalu terganggu karena lukanya ada di tangan kiri.


"Aku kidal."


"Maaf, Putri?" Tabib menghentikan aktivitasnya merapikan isi tas.


"Lupakan saja. Daripada itu, apa itu kau? Yang dicaci-maki Murat Iskender dua hari belakangan ini?"


Si tabib tersenyum paksa. "Hamba pantas mendapatkan perlakuan seperti itu karena kemampuan hamba yang masih kurang, Putri."


Jihan hanya mengangguk-angguk.


"Dan hamba pikir wajar jika Penasihat Murat bersikap demikian. Beliau sangat khawatir pada Anda, Putri. Bahkan selama dua hari penuh beliau tidak beristirahat demi menjaga Anda," imbuh tabib.


Jihan menatap pelayannya yang berdiri di belakang tabib. "Benarkah?"


"Itu benar, Putri."


Jihan menoleh ke sana ke mari. "Tapi aku tidak melihatnya sekarang."


"Saat ini semua orang termasuk Penasihat Murat sedang ada di istana baru, Putri," balas pelayan itu.


"Kenapa? Apa terjadi sesuatu?"


"Benar, Putri. Tapi mohon maaf karena hamba tidak tahu detailnya."


Tabib beranjak. "Putra Komandan Haala tiba-tiba menangis tanpa sebab. Suaranya sampai hilang karena sudah dua jam berlalu tetapi tangisannya tidak kunjung berhenti."


"Menangis tanpa sebab? Apa itu masuk akal?"


"Memang tidak masuk akal tetapi begitulah faktanya, Putri." Tabib membungkuk pada Jihan. "Jika tidak ada lagi pertanyaan seputar kesehatan Anda, hamba mohon undur diri."


Jihan tak menjawab, hanya menoleh ke jendela, memandangi istana baru yang dikhususkan untuk Haala dan Vinder, yang saat ini tampak seperti lentera nelayan di tengah lautan lepas.

__ADS_1


"Hujan yang aneh, ditambah putra Daxraj Natesh yang menangis? Jelas pertanda buruk. Tapi tidak mungkin Sanjeev Rajak akan membuat onar sekarang, bukan?" Jihan beranjak dari ranjangnya. "Pelayan."


"Beri hamba perintah, Putri."


"Siapkan pakaianku. Aku akan pergi ke istana baru," balas Jihan.


"Maaf, Putri?"


"Bukankah kau bilang semua orang ada di sana?"


"Itu benar, Putri."


"Lalu kenapa hanya aku yang di sini?"


...•▪•▪•▪•▪•...


Jihan pun pergi ke istana baru, meski sakit di tangannya semakin menjadi karena hawa dingin yang menusuk. Namun lagi-lagi ada saja yang mengganggu Jihan di tengah perjalanan. Tangan Jihan memberi kode pada para pelayannya untuk mengikutinya berputar arah menuju ke tempat yang paling ditakuti seisi Kumari Kandam. Benar, penjara bawah tanah. Jelas ada sesuatu yang terjadi di dalam ruangan berisi ribuan sel seukuran peti mati itu, melihat tidak ada seorang penjaga pun yang berdiri di mulut pintu.


Ternyata para penjaga penjara bawah tanah tengah dibuat pusing oleh Sayee, wanita gila yang hampir membuat Jihan kehilangan tangannya. Terlihat dari tempat Jihan bersembunyi, Sayee tengah menangis memohon pada para penjaga untuk membebaskannya. Tentu saja itu tidak mungkin, mengingat Sayee sedang menjalani masa hukuman. Jihan kehilangan minatnya, sesaat sebelum Sayee mengatakan jika ada salah seorang sukunya yang saat ini sedang membutuhkan pertolongan.


" ... Aku bersumpah. Aku bisa merasakannya. Semua orang yang memiliki garis keturunan suku pengembara bisa merasakannya. Ketika kami tiba-tiba menangis, itu adalah pertanda jika ada salah satu dari kami yang sekarat. Kumohon percayalah padaku. Ji--"


"Tuan, kumohon bebaskan aku, Tuan. Aku harus menyelamatkan sukuku."


"Apa yang dibicarakannya?" Kepala Sipir menunjuk Sayee sambil melihat bergantian ke arah dua bawahannya.


"Dia ingin dibebaskan karena ada sukunya yang sekarat, Tuan Kepala," jawab salah seorang penjaga.


"Maka kita yang akan menggantikannya naik ke panggung Tamaasha* esok hari. Kembali ke posisi. Jangan hiraukan dia."


Tamaasha* merupakan alat penggal raksasa yang sering digunakan untuk menghukum para penjahat.


"Sesuai perintah An--"


"Lama tidak bertemu, Kepala Sipir." Jihan keluar dari persembunyiannya.


"Ah, salam, Tuan Putri." Kepala Sipir berikut dua orang bawahannya membungkuk bersamaan.


"Kurasa kau membuat keputusan yang salah, Kepala Sipir."

__ADS_1


"Maaf, Putri?" tanya Kepala Sipir.


Jihan berjalan mendekati Sayee. "Hujan yang aneh, putra angkat Yang Mulia Braheim yang aneh, dan permohonannya yang aneh. Tidakkah itu aneh, Kepala Sipir?"


"Benar, Putri. Permohonannya memang aneh. Dia meminta dibebaskan untuk menyelamatkan sukunya ...."


Jihan mengabaikan semua yang dikatakan Kepala Sipir, dan memilih membalas tatapan Sayee. Lalu tiba-tiba saja Sayee bersujud di kaki Jihan seraya berulang kali mengatakan akan melakukan apapun pinta Jihan asalkan dirinya dibebaskan untuk menyelamatkan sukunya. Jihan tak memberi jawaban, sibuk memandangi tubuh Sayee yang bergemetar hebat. Jihan lalu berbalik, dan melangkah mantap bukan menuju pintu keluar penjara bawah tanah melainkan menuju orang yang memiliki kuasa tertinggi di sana.


" ... Tapi apa maksud Anda tentang keputusan hamba yang salah, Tu--"


"Sssttt." Jihan menjeda ucapan Kepala Sipir dengan telunjuknya yang lentik. "Jangan bicara lagi. Simpan tenagamu untuk bersenang-senang denganku."


"Ma--"


"Kubilang simpan tenagamu," sela Jihan lagi.


Bawahan sipir berikut bawahan Jihan bingung harus mengarahkan pandangannya ke mana. Ke wajah si sipir yang kini sedang kesulitan menahan berahi, atau ke sebelah tangan Jihan yang mulai menggerayang ke bagian tubuh yang hanya dimiliki kaum adam.


"Bebaskan dia, lalu aku akan ke sana." Jihan menunjuk ruangan Kepala Sipir yang terletak di ujung penjara bawah tanah. "Bagaimana?"


"Mohon ampuni hamba, Putri. Tapi hamba bisa dalam masalah jika dia hanya berbohong dan pada akhirnya kabur."


"Oh ayolah. Apa kau tidak bisa merasakannya? Maksudku tatapan itu." Jihan menunjuk Sayee. "Kau tidak bisa membuat tatapan itu jika nuranimu mati."


...•▪•▪•▪•▪•...


"Terima kasih. Terima kasih banyak, Tuan Putri. Dewa pasti akan membalasmu."


"Ya ya ya bangunlah dan minta Dewamu untuk menyimpan saja balasannya. Daripada itu, ke mana kau akan pergi?" tanya Jihan pada Sayee.


"Hamba belum tahu, Putri. Hamba hanya akan mengikuti ke arah mana pun itu yang membuat hamba semakin merasa buruk."


Jihan mendecak, "Suku yang aneh. Baiklah. Pergilah."


Sayee hanya tersenyum membalas Jihan, dan langsung berlari ke arah tenggara. Jihan memandangi Sayee yang beberapa kali terjatuh itu, dan kembali mendecak. Tahanan yang belum mendapat keputusan hukuman dari Braheim tidak akan diberi makanan dan minuman, seperti Sayee. Jihan memanggil pelayannya, meminta menyiapkan kereta kuda dan menyampaikan pesan pada Kepala Sipir yang saat ini pasti sudah menunggunya di atas ranjang.


"Sampaikan pada sipir bodoh itu untuk datang ke kamarku besok malam. Lalu siapkan kereta kuda. Ah, siapkan juga air dan sepotong roti."


"Sesuai perintah Anda, Putri." Pelayan Jihan membungkuk pada Jihan dan berlalu.

__ADS_1


"Hei, kau. Suku barbar. Berhenti di sana," teriak Jihan. "Sialan. Siapa namanya?"


__ADS_2