TEARS OF KUMARI KANDAM

TEARS OF KUMARI KANDAM
CHAPTER 113


__ADS_3

Kerajaan Kumari Kandam lagi-lagi kembali dibuat heboh. Kali ini bukan karena tangis Vinder yang menyayat hati, tanda darurat beraneka warna yang ditembakkan ke angkasa, atau kemunculan Daxraj Natesh palsu yang menghadirkan rasa aman yang ambigu. Melainkan karena Braheim berikut Raja Arshaq, Raja Hathelee dan Raja Garjan tengah berlarian di sekitar Shaanadaar* dengan hanya mengenakan kain penutup setinggi rok mini yang dililit sembarangan.


Shaanadaar* adalah kolam air panas pribadi raja.


Tubuh bugar tanpa noda yang melebihi halusnya sutra itu benar-benar membuat para penikmat buku erotis ingin segera membaringkan dirinya dan berkhayal. Wajah dengan ketampanan khas masing-masing benua itu juga malah kian terlihat tampan tanpa mahkota pun perhiasan mewah. Dan sisa-sisa air yang menetesi tubuh indah itu sesuka hati, sungguh membuat para penikmat buku erotis sempat mengharap pada Dewa Krpaya* untuk menyulap mereka menjadi air.


Krpaya* merupakan Tuhan yang disembah orang Kumari Kandam.


Tak peduli apa yang sedang para raja cari saat ini, setiap pasang mata yang terbelalak itu hanya ingin mengucapkan terima kasih pada siapa pun yang sudah membuat mereka bisa menikmati pemandangan yang mungkin hanya akan terjadi sekali seumur hidup. Yang sedang dicari-cari Braheim dan ketiga rekannya sampai tak sempat meraih kain penutup itu sudah tentu Vinder. Setelah tiba-tiba muncul dari portal suci dan meluncur ke tengah Shaanadaar, Vinder berlari keluar.


"Seharusnya dia ada di dalam air dan bukan di pinggir Shaanadaar, bukan?"


"Oh ayolah dia putra Daxraj Natesh," jawab Raja Arshaq pada Raja Hathleee.


"Maka sia-sia saja kita mengkhawatirkannya tenggelam." Raja Garjan menoleh pada Braheim. "Daripada itu, kenapa dia bisa tumbuh secepat itu?"


Raja Arshaq ikut menoleh pada Braheim. "Bukankah aku sudah menjawabnya?"


"Ya, itu cukup mewakili, Raja Arshaq. Tapi lebih detailnya, usia satu bulan setara seratus tahun jika dia tumbuh di luar portal suci dan usia satu hari setara seratus tahun jika tumbuh di dalam portal suci"


Raja Garjan menggeleng-geleng. "Luar biasa. Aku sulit memercayainya tapi sungguh, luar biasa."


"Bagaimana dengan manusia? Kudengar mantan Ratu Kumari Kandam sempat tinggal dalam waktu yang lama di dalam portal suci."


"Entahlah. Tidak ada yang berubah dari rupanya saat dia keluar dari portal suci," balas Braheim pada Raja Hathelee.


Raja Arshaq berjongkok memeriksa gorong-gorong. "Suku dan tempat tinggalnya sama misteriusnya. Daripada itu, jika sudah sebesar itu bukankah kita harus segera mencarikannya guru? Terutama guru yang bisa mengajarinya cara untuk mengendalikan kekuatannya?"


Braheim masih menyelisik sekitar. "Aku pun baru mengetahui hari ini jika dia adalah Vinder yang sudah sebesar itu. Aku bertemu dengannya pertama kali beberapa malam lalu. Tapi aku berpikir dia anak dari salah satu pelayan kalian."


"Jika benar itu anak salah satu dari pelayan kami, maka Daxraj Natesh juga gemar bermain wanita." Raja Garjan tertawa.


Raja Hathelee memeriksa sela-sela pohon. "Dilihat dari sorot matanya, dia jelas pembangkang."


"Dan pencuri. Dia mencuri persediaan makanan kami selama satu bulan dan membuat Kepala Pengurus Dapur semakin bersemangat mengasah pisau pemotong kalkun." Braheim tertawa.


Ketiga raja ikut tertawa, dan perlahan langkah mereka mulai melambat. Apapun yang menyangkut suku pengembara memang selalu tidak masuk akal, jadi mengejar Vinder jelas hanya akan membuang-buang tenaga. Ketika para raja sedang sibuk mengatur napas masing-masing, Murat muncul. Murat membawa kabar jika Ejlaal, pria misterius yang melakukan kegiatan aneh di salah satu desa di pedalaman Kumari Kandam sudah berhasil ditangkap.


" … Saat ini dia berada di ruang interogasi dengan penjagaan ketat, Yang Mulia," terang Murat.


"Baiklah, aku akan segera ke sana. Ada yang lain?"


"Ya, Yang Mulia." Murat tiba-tiba melepas jubahnya, dan kemudian memberikannya pada Raja Arshaq. "Silakan, Yang Mulia."


Spontan Raja Arshaq, Braheim dan ketiga raja melihat ke bagian di bawah sana.


"Ah. Aku terlalu bersemangat sampai tidak merasakan kain penutupku jatuh entah di mana." Raja Arshaq mengenakan jubah Murat.


"Bukan karena terlalu bersemangat tetapi karena terlalu kecil."


"Itu benar sekali. Jika lebih besar pasti akan terasa, bukan? Daripada itu, ternyata milikku masih jauh lebih besar," timpal Raja Hathelee pada Raja Garjan.


"Ternyata ini alasan Ratu Chamakadaar. Aku jadi sedikit bisa memahaminya."


Raja Arshaq menoleh menanggapi Braheim, setelah mengikat kencang jubah milik Murat. "Bersiaplah untuk perang yang lain setelah perang kebinasaan, Raja Braheim."

__ADS_1


Spontan Braheim terbahak, pun Murat beserta ketiga raja, dan tak berselang lama, Raja Arshaq sendiri.


"Bagaimana dengan milikmu, Penasihat?"


"Hamba tidak bisa menilainya sendiri tetapi hampir semua dari mereka menjerit saat hamba menanggalkannya. Jeritan adalah poin terpenting dalam hal itu, Yang Mulia. Jika anda berkenan, hamba bisa membantu meningkatkan kepercayaan diri Anda dalam hal itu," jawab Murat pada Raja Arshaq.


"Pastikan kau juga ada dalam perang yang lain setelah perang kebinasaan. Mengerti?"


Tawa terbahak Braheim dan yang lain kembali tumpah memenuhi koridor belakang Shaanadaar.


...•▪•▪•▪•▪•...


Ejlaal dipindahkan dari ruang interogasi ke ruang kerja Braheim. Selain Braheim sendiri, di ruangan itu juga sudah ada saksi-saksi seperti pengawal, pelayan serta orang-orang dari kuil. Para saksi mengaku bertemu dengan Ejlaal pertama kali saat menemani Haala menjalankan prosesi ritual calon pengantin. Saat itu mereka hendak menuju Kuil Baanjh untuk melaksanakan ritual kedelapan tetapi terjadi kendala di tengah perjalanan.


"Semuanya terbengkalai, Yang Mulia. Kami berpikir mungkin penduduk Desa Jaadoo sudah pindah. Pengawal juga berpikir gitu." Seorang pelayan wanita menoleh pada pengawal yang berdiri tepat di sampingnya.


"Itu karena ada air terjun tak jauh dari Desa Jaadoo, Yang Mulia. Jadi hamba berpikir mereka pasti pindah sementara karena cuaca yang bertambah dingin. Tetapi Komandan Haala berkata jika mereka tidak pindah melainkan telah diserang, dan beliau yakin jika penyerangnya bukan manusia ataupun binatang."


*FLASHBACK ON*


"Ada air terjun di belakang desa ini, Komandan. Cuacanya pasti sangat dingin terutama di musim penghujan seperti sekarang. Sepertinya mereka benar-benar pindah."


Haala menggeleng menanggapi si pengawal. "Mereka diserang."


"Maaf, Komandan?"


"Meski masih butuh penyelidikan lebih lanjut, tetapi aku bisa memastikan penyerangnya bukan manusia ataupun binatang," jawab Haala sembari menyelisik sekitar.


"Mungkin serigala."


"Serigala Jaadoo berbeda dengan serigala pada umumnya. Mereka tidak memangsa korbannnya di tempat demi menghindari menarik perhatian pemangsa di atas mereka. Apa Anda tahu julukan untuk Serigala Jaadoo, Komandan?"


Haala sengaja tak menjawab, bukan karena penasaran melainkan sibuk mengingat sosok si kusir yang sepertinya pernah dilihatnya di suatu tempat.


"Serigala hantu. Layaknya hantu yang tidak terlihat, tidak tersentuh dan tidak meninggalkan jejak. Begitu pun dengan Serigala Jaadoo," tambah si kusir.


"Komandan, sebaiknya kita kembali."


"Ide bagus, Tuan Pengawal. Serigala Jaadoo biasa muncul di jam-jam seperti sekarang ini. Jadi sekali pun Anda dan Komandan Haala terkenal sangat hebat, bekas hewan peliharaan pemimpin suku pengembara tetaplah bukan lawan kalian, bukan? Silakan, Komandan." Si kusir mempersilakan Haala memimpin jalan.


*FLASHBACK OFF*


Braheim menoleh pada Ejlaal. "Aku yakin hewan peliharaan pemimpin suku pengembara yang tertulis di dongeng hanya Balavaan*, Chammach*, Bandar* dan Bhookamp*."


Balavaan* satu dari tiga makhluk supernatural peliharaan Daxraj Natesh yang berbentuk singa raksasa.


Chammach* satu dari tiga makhluk supernatural peliharaan Daxraj Natesh yang berbentuk ular raksasa.


Bandar* satu dari tiga makhluk supernatural peliharaan Daxraj Natesh yang berbentuk kera raksasa.


Bhookamp* satu dari tiga makhluk supernatural peliharaan Daxraj Natesh yang berbentuk gajah raksasa.


"Hamba hanya melihat apa yang terlihat, Yang Mulia."


Braheim diam, menatap Ejlaal. Lalu berganti menatap para saksi. "Kalian boleh pergi. Aku akan memanggil kalian dalam waktu dekat."

__ADS_1


"Terima kasih, Yang Mulia." Para saksi kompak membungkuk dan buru-buru meninggalkan ruangan mencekam itu.


"Lalu apa yang kau lakukan di Desa Buraee?"


"Hamba sedang membantu Anda, Yang Mulia," sahut Ejlaal.


"Membantu dengan cara menghilangkan barang bukti?"


"Benar, Yang Mulia. Barang bukti itu harus dilenyapkan agar tidak bisa digunakan kembali untuk kejahatan."


Braheim mengetukkan telunjuknya ke meja cukup lama, sambil kembali menatap Ejlaal. "Membahayakan Kumari Kandam, menghilangkan barang bukti, dan tidak bekerja sama selama proses interogasi, kurungan seratus tahun atau Tamaasha*."


Tamaasha* merupakan alat penggal raksasa yang sering digunakan untuk menghukum para penjahat.


Ejlaal hanya membungkuk menanggapi Braheim, lalu kembali berdiri tegak dengan mimik wajah yang seolah menyiratkan, Cepat usir aku sebelum makan siangku diserbu semut merah!


"Kau akan ditahan sampai hari sidangmu ditetapkan," imbuh Braheim seraya membunyikan lonceng. "Sampaikan pada Kepala Sipir untuk menambah penjagaan khususnya di sekitar selnya."


"Sesuai perintah Anda, Yang Mulia." Dua orang penjaga penjara bawah tanah yang baru saja masuk itu membungkuk dan membawa pergi Ejlaal dengan kasar.


"Maaf, Yang Mulia. Masih ada yang ingin hamba katakan."


Braheim tak merespon, hanya memberi kode pada dua pengawal bertubuh kekar itu agar menuruti pinta Ejlaal.


"Selamat atas pernikahan Anda, Yang Mulia. Karena keihklasan, pengorbanan, dan keyakinan Anda akan rencana Dewa Krpaya, hari bahagia yang Anda impikan sejak berbelas tahun silam, tidak akan menjadi sekadar khayalan dalam diam. Semoga Anda selalu dilimpahi kebahagiaan, Yang Mulia." Ejlaal berlalu meninggalkan senyum tulus di ingatan Braheim.


...•▪•▪•▪•▪•...


Kepala Sipir memandangi Ejlaal dari ujung kepala sampai kaki, sebelum menuntunnya ke dalam salah satu sel penjara bawah tanah yang kosong. Tak ada obrolan di sepanjang perjalanan. Kepala Sipir tampak sangat kesal dan sesekali mengernyit merasakan bekas cambukan di punggungnya yang belum kering benar. Namun lambat laun, seiring langkah Kepala Sipir yang juga mulai melambat, keduanya mulai mengobrol.


"Bagaimana perasaanmu jika harus menanggung hukuman orang lain?" tanya Kepala Sipir pada Ejlaal.


"Aku akan memburunya sampai ke ujung dunia untuk memberinya hukuman yang serupa."


"Itu dia. Itu yang benar. Tapi aku malah terkurung di sini karena Kumari Kandam kembali dalam status siaga berperang. Sialan."


"Memang siapa yang seharusnya menanggung hukuman itu?" Ejlaal berganti melempar tanya.


"Siapa lagi? Tentu saja pelayan Putri Jihan. Mereka terlambat menyampaikan pesan Putri Jihan padaku. Aku sampai digiring seperti binatang. Sialan. Rasanya aku ingin mati saja jika kembali mengingat hari itu."


Ejlaal hanya mengangguk-angguk mendengarkan.


"Sudah begitu, Putri Jihan pergi begitu saja. Seharusnya dia menepati janjinya sebelum pergi, bukan? Padahal aku sudah menolongnya dan bahkan menggantikan hukuman pelayannya. Cih. Aku yakin saat ini Putri Jihan pasti sedang menunggangi pria lain," tambah Kepala Sipir.


"Kurasa tidak. Kulihat beberapa waktu lalu dia sedang sibuk membersihkan rumah barunya."


Spontan raut wajah Kepala Sipir berubah menjadi sangat antusias. "Di mana?"


"Di pesisir Shankh."


"Kau tidak memberitahuku secara cuma-cuma, bukan? Pasti ada yang kau inginkan, bukan?"


"Memang apa yang diinginkan dari tahanan yang dalam waktu dekat akan dijatuhi hukuman mati?" Ejlaal masuk ke dalam sel yang baru saja dibukakan Kepala Sipir. "Tapi setelah kupikir-pikir, ya, memang ada yang kuinginkan."


Kepala Sipir mendecak, "Sudah kuduga. Aku sudah menghadapi orang sepertimu selama bertahun-tahun. Katakan."

__ADS_1


"Tambahkan telur setengah matang di setiap makan siangku."


__ADS_2