TEARS OF KUMARI KANDAM

TEARS OF KUMARI KANDAM
CHAPTER 26


__ADS_3

Penduduk Raseela dan Bheed berbondong mendatangi Kerajaan Kumari Kandam untuk menemui ayah Haala yang mereka yakini sebagai tersangka penculikan anak-anak. Ini adalah kali pertama dalam sejarah, rakyat menyerukan nama Braheim Bhaavesh meski bukan untuk mengeluh perihal kekurangan sandang, pangan, atau papan.


Semua kegaduhan baik di dalam pun di luar Kerajaan Kumari Kandam seketika terhenti, saat Braheim keluar dari ruang rapat dengan langkah cepat, diekori Daxraj, para menteri, serta belasan pengawalnya. Dan ketika gerbang utama Kerajaan Kumari Kandam dibuka, rakyat langsung membungkuk hormat, bahkan sebagian bersujud menyambut Braheim.


Braheim menerima salam dari rakyatnya, dan langsung meminta satu orang sebagai perwakilan untuk menjelaskan kekacauan yang terjadi. Seorang pria dari Desa Bheed menghadap Braheim, menunjukkan sebuah kancing sembari menangis mengutuk ayah Haala yang telah menculik putri semata wayangnya, yang pekan depan akan menjalankan upacara kedewasaan.


Braheim menerima kancing yang diambil Daxraj dari si pria. "Hanya karena sebuah kancing?"


"Ada jejak kaki kuda juga, Yang Mulia. Dan jejaknya mengarah ke Raseela," jawab si pria.


"Hanya karena jejak kaki kuda?"


Si pria terdiam. "Komandan perangku memiliki banyak musuh sehingga nama baiknya selalu terancam setiap detik," imbuh Braheim.


Braheim masih melanjutkan, "Memang hanya komandan perangku yang memiliki kancing ini, tapi kenapa kalian cepat sekali menyimpulkan bahwa dia adalah tersangkanya? Bukankah masih ada kemungkinan dia menjadi saksi?"


"Mohon izin berbicara, Yang Mulia."


Braheim menoleh ke asal suara, dan mengangguk. "Hamba tahu siapa tersangka yang sebenarnya," tambah Murat.


"Angkat kepalamu."


Murat mengangkat kepalanya, lalu membalas tatapan Braheim. "Perkenalkan, hamba Murat Iskender, anggota kelompok pemburu Shaapit*."


*Shaapit* merupakan makhluk supernatural yang jahat*.


"Langsung saja, Yang Mulia. Tersangka penculikan yang sebenarnya adalah Gaana. Gaana menculik gadis-gadis di desa dan memakan jiwanya. Sementara jasad gadis-gadis itu tidak akan pernah bisa ditemukan karena sudah menjadi abu."


Suasana mulai gaduh, karena rakyat yang terkejut mendengar identitas Murat yang ternyata bukan pemerah susu atau pekerja di ladang jagung. Terlebih mendengar perkataan seorang pemburu Shaapit yang mustahil ditampik atau dilewatkan begitu saja melalui telinga kiri. Mau tak mau mereka pun harus melepas label tersangka dari ayah Haala.


Tak tega melihat kekhawatiran di wajah rakyatnya, Braheim pun berusaha menenangkan meski dirinya sendiri resah. Beruntungnya kepercayaan rakyat pada Raja Kumari Kandam terdahulu dan sekarang masih sama, tidak berkurang secuil pun karena terbukti hukuman mati yang selalu tepat dijatuhkan pada orang-orang tak bernurani.


"Rakyatku, kembalilah. Serahkan masalah ini padaku. Siapa pun pelakunya, jika dia terbukti bersalah, percayalah bahwa aku adalah seadil-adilnya hakim."


Semua rakyat membungkuk pada Braheim seraya kompak berkata, "Panjang umur, dan terbekatilah selalu, matahari Kumari Kandam."


Setelah memastikan rakyatnya benar-benar kembali ke rumah masing-masing, Braheim langsung meminta ayah Haala menghadapnya. Sementara Murat, diminta menunggu di ruang tunggu mewah dengan jamuan yang tak kalah mewah. Murat merasa ada sesuatu yang disembunyikan Braheim karena melakukan interogasi secara terpisah.


Dan tepat sekali kepekaan penasihat raja Kumari Kandam di masa depan itu. Braheim memang menyembunyikan sesuatu. Sesuatu yang telah dipendam Braheim sejak mimpi buruk pertamanya tentang Gaana. Mungkin dibanding Murat Iskender dan anggota pemburu Shaapit yang lain, Braheim adalah orang yang paling tahu tentang Gaana.

__ADS_1


"Gaana mulai meneror melalui mimpi ketika usiaku enam tahun. Awalnya aku menganggap itu hanya bunga tidur, tapi firasatku buruk. Sejak saat itulah aku mulai mencari tahu diam-diam tentang Gaana."


Ayah Haala tidak menjawab, hanya memandangi punggung Braheim. "Dulu Gaana adalah selir favorit ayahku. Dia menyimpan dendam pada ibuku dan belum terbalaskan. Maka dari itu akulah yang menjadi targetnya sekarang," tambah Braheim.


"Beri hamba perintah, Yang Mulia."


Braheim berbalik, lalu berjalan mendekati Ayah Haala. "Sungguh kau akan melakukannya?"


"Sudah tentu hamba akan melakukan apapun ya--"


"Sekali pun itu perintah untuk membunuh tuanmu yang lain?" sela Braheim.


"Ya, Yang Mulia. Mohon beri hamba perintah."


Braheim menghentikan langkahnya tepat di depan ayah Haala. "Tentu saja aku akan memberimu perintah. Tapi sebelum itu, jawablah dengan jujur semua pertanyaan yang akan aku ajukan padamu."


"Sesuai perintah Anda, Ya--"


"Gaana yang kutahu tidak bisa berkeliaran sesuka hati. Maka dari itu dia membutuhkan kaki tangan untuk memberinya makan. Apakah kaki tangan makhluk terkutuk itu ada di hadapanku sekarang?" sela Braheim lagi.


Ayah Haala kembali membisu. "Ternyata benar. Katakan, apa alasanmu? Akan kupertimbangkan hukuman lain setelah mendengarnya."


...¤○●¤○●¤○●¤...


Setelah ayah Haala memberi pengakuan, Braheim langsung menjatuhinya hukuman. Bukan hukuman mati melainkan hukuman penjara seumur hidup. Awalnya rakyat memprotes keputusan Braheim, namun Braheim berhasil meredamnya. Ayah Haala dibebaskan dari jerat hukuman mati berdasarkan pertimbangan atas jasa-jasanya dalam memerisai Kumari Kandam selama ini.


Bersamaan dengan menyebarnya berita tentang komandan perang Kumari Kandam yang dibui seumur hidup atas kasus penculikan gadis-gadis belia, Haala beserta keluarganya diteror oleh penduduk setempat. Terutama penduduk yang anak-anaknya menjadi korban penculikan ayah Haala. Tak jarang rumah Haala dilempari telur busuk. Bahkan yang paling parah, dilempari kotoran.


Beruntungnya Murat selalu datang menolong keluarga Haala. Murat tak mengindahkan pengakuan sang adik, Jihan, tentang betapa kejinya ayah Haala yang saat itu hanya menontonnya yang hendak dijadikan santapan Gaana. Padahal seharusnya Murat sama murkanya dengan Jihan dan para penduduk, pun seharusnya dirinya menjadi pemimpin dalam aksi teror tersebut.


"Hei, kau takut?"


Seperti biasa, Laasya mengabaikan Haala. "Tidak perlu takut. Aku berjanji akan selalu melindungimu," imbuh Haala.


Laasya masih setia membisu, sambil menatap ke luar jendela. "Aneh rasanya kembali ke masa lalu dengan jarak usia kita yang hanya enam tahun. Padahal jarak usia kita yang sebenarnya adalah tiga belas tahun. Entahlah, hanya Daxraj dari masa depan yang tahu."


Haala membelai rambut Laasya. "Apa kau percaya jika aku datang dari masa depan?"


Laasya menoleh pada Haala. "Aku tidak gila hanya karena mereka melempari rumah kita dengan telur busuk dan kotoran."

__ADS_1


Laasya tersenyum sesaat. "Kau baru saja tersenyum? Sepertinya ramuan yang diberikan Penasihat Murat memang ajaib. Hei, mau kuberitahu rahasiaku? Tapi berjanjilah setelahnya kau akan menghabiskan makan malammu. Bagaimana?" tanya Haala lagi.


Laasya kembali menatap ke luar jendela. "Kau akan menyesal jika menolak tawaranku. Karena jika kelak kau pulih sepenuhnya, kau bisa mengancamku dengan rahasia ini dan mendapatkan apapun yang kau inginkan."


Laasya kembali menoleh pada Haala. "Lihat anak licik ini. Baiklah, akan kuberitahu sebuah rahasia. Mmm, aku menyukai Yang Mulia Raja selama dua belas tahun, dan tak kusangka Beliau juga menyukaiku."


Laasya tampak terkejut. "Beliau sangat manis. Apalagi jika sedang marah. Lalu Beliau juga memiliki kelemahan. Kau tahu, ternyata Beliau tidak pandai berciuman," tambah Haala dengan suara pelan.


Laasya menggerakkan jari-jarinya membuat bahasa isyarat. "Jangan dengan Yang Mulia Raja."


"Apa? Jangan apa?"


Laasya beranjak, mengambil perlatan tulis dan mulai menulis. "Cari pria yang lain saja."


"Hm? Kenapa?"


Laasya kembali menulis. "Apa kakak rela berbagi pria dengan wanita lain? Seorang raja harus memiliki setidaknya beberapa orang selir, bukan?"


Haala hanya menanggapi Laasya dengan senyuman. "Dengar, aku tidak rela jika kakak harus bersama Yang Mulia Raja. Kecuali Beliau berjanji tidak akan memiliki selir. Dan karena itu tidak mungkin, maka hiduplah dengan pria biasa yang jiwa dan raganya hanya bisa kakak miliki seorang," imbuh Laasya.


Haala masih tersenyum, takjub dengan kesamaan ucapan Laasya di masa lalu pun di masa depan. Sepertinya apa yang dikatakan Laasya memang benar. Mungkin hanya segelintir ratu yang bersedia menjaga hati dan kehormatannya untuk sang raja. Sebab pada dasarnya tidak ada satu wanita pun yang sudi berbagi prianya dengan wanita lain. Sekali pun berkata sudi, bukankah lidah itu tidak bertulang?


Tetapi nampaknya cambukan berkedok ucapan Laasya hanya membuat Haala merasakan perih sesaat. Karena lagi-lagi hati Haala mengambil kendali. Masih ada harapan untuk bersatu dengan Braheim. Apalagi kursi Ratu Kumari Kandam masih kosong, dan ada kemungkinan Braheim merupakan pemimpin suku pengembara. Yang jadi masalah hanya satu, ramalan kebinasaan dunia terkutuk itu.


Haala tersenyum menanggapi Laasya. "Menakjubkan. Kau mengatakan hal yang sama. Nah, sekarang habiskan makan malammu lalu pergi tidur."


...¤○●¤○●¤○●¤...


Braheim masih terjaga, ditemani lolongan serigala yang terdengar kelaparan. Logika dan hati Braheim berkecamuk, karena tak henti memikirkan Daxraj Natesh dari masa depan yang sangat keren, ajakan menikahnya yang ditolak Haala tanpa ragu, Gaana yang mengincar nyawanya, serta ayah Haala yang ternyata adalah kaki tangan Gaana.


Namun dibanding semua itu, yang paling Braheim pikirkan adalah ramalan suku pengembara tentang kebinasaan dunia. Entah salah menafsirkan atau memang ada yang dilewatkan Daxraj dan Haala dari masa depan terkait ramalan tersebut, Braheim hanya merasa jika makna tersirat yang sebenarnya tidaklah seperti yang Daxraj dan Haala yakini.


Dari mana Daxraj dan Haala bisa tahu jika Haala sedang mencintai orang yang salah. Dan kalau pun Haala mencintai orang yang salah, lalu kenapa orang yang benar haruslah pemimpin suku pengembara. Bahkan sebenarnya kebinasaan dunia bisa terjadi jika Haala malah memilih bersama Daxraj. Sebab Braheim yang sakit hati, bisa kapan saja berpindah kubu.


Braheim beranjak dari ranjang. "Jelas ada yang tidak beres dengan pemahaman suku pengembara tentang isi ramalan itu. Karena tidak ada bukti dunia akan aman jika Haala menikahi Daxraj Natesh."


Braheim berjalan menuju balkon kamar tidurnya. "Kekuatan terbesar Gaana adalah mengendalikan pikiran. Mungkinkah Gaana telah melakukan sesuatu pada pikiran suku pengembara, Daxraj Natesh, dan Haala?"


Braheim masih bergumam dalam hati, "Mungkinkah Gaana membuat suku pengembara memahami makna ramalan yang salah? Untuk membuat Haala bingung, dan membuatku serta Daxraj saling membunuh?"

__ADS_1


Braheim tak henti bergumam, "Kenapa Gaana tidak membunuhku dengan tangannya sendiri saja? Kenapa harus melalui Daxraj Natesh? Hanya dengan dua persen kekuatannya saja aku hampir bertemu Tuhan. Bagaimana jika dia menggunakannya sebanyak sepuluh persen?"


__ADS_2