
Teriak dan tangis rakyat Kumari Kandam memaksa sang fajar terbit lebih cepat. Kekacauan di bawah sana pun semakin jelas terlihat ketika sinar sang fajar telah sepenuhnya terbagi rata. Ungkapan sangat kacau bahkan tak cukup untuk menggambarkan pemandangan itu. Terlihat dari tempat Braheim dan ketujuh raja berdiri saat ini, rakyat Kumari Kandam tengah menangis meratapi keluarganya yang mati mengenaskan di luar pelindung setelah menuruti ketidakikhlasannya.
Ada pula yang berlarian ke sana ke mari, berteriak mencari keluarganya dengan wajah putus asa. Pun ada juga yang berkelahi hingga saling membunuh dengan keluarganya sendiri karena berbeda pendapat perihal bangkit dari kubur. Terbukti sudah penglihatan Ejlaal Awlya, putra semata wayang Sanjeev Rajak yang saat ini tengah duduk terbahak di luar pelindung. Pada akhirnya Sanjeev benar-benar menyulut kebangkitan massal.
Beruntung tawa terbahak itu disamarkan dengan rupa tampan Daxraj Natesh. Jika tidak, demi apapun Braheim pasti sudah keluar dari pelindung dan meludahinya. Beruntung pula mayat-mayat yang dibangkitkan Sanjeev tidak melukai. Tetapi dengan membuat rakyat Braheim diteror kengerian, saling berkelahi bahkan membunuh, serta menghabisi mereka sedikit demi sedikit dengan suguhan kenangan, cukup membuat Sanjeev sedikit lebih unggul.
"Dia membangkitkan semua mayat yang ada di tujuh benua."
Raja Lagaam mengangguk pada Raja Padachihn. "Di sana. Itu pakaian yang dikenakan orang-orang mati di Lagaam."
"Dia lebih licik dari Sannidhi Hessa."
"Dan dia menyadari itu. Lihat senyum sialannya itu," timpal Raja Arshaq pada Raja Shushk.
"Raja Braheim, kurasa yang paling penting sekarang adalah mengurus rakyat."
"Apa yang dikatakan Raja Garjan benar, Raja Braheim. Kudengar setiap rumah di Kumari Kandam memiliki ruang bawah tanah? Pertama-tama turunkanlah perintah untuk menyembunyikan mereka di sana," usul Raja Jvaala.
"Aku juga setuju, Raja Braheim. Barulah setelah itu kita mencari solusi untuk mengurus mayat-mayat itu. Turunkanlah perintah, kami akan mengikuti."
Braheim menyentuh pundak Raja Hathelee. "Kau benar. Kalian benar. Aku juga sudah memikirkan itu." Braheim menoleh pada Menteri Pertahanan, Ghanzafer El-Amin dan Menteri keamanan. "Perintahkan bawahanmu untuk menyembunyikan rakyat di dalam ruang bawah tanah. Perintahkan juga mereka untuk membunyikan bunyi-bunyian."
"Sesuai perintah Anda, Yang Mulia." Gahanzafer dan Menteri Keamanan buru-buru berlalu.
"Aswin."
"Beri hamba perintah, Yang Mulia." Aswin membungkuk di samping Braheim.
"Persiapkan pasukan tempur Kumari Kandam dan bentuk barikade tepat di mulut pelindung."
"Sesuai perintah Anda, Yang Mulia." Aswin ikut berlalu, dengan langkah setengah berlari.
"Murat."
"Beri hamba perintah, Yang Mulia." Murat berganti membungkuk pada Braheim.
"Arahkan para ratu dan keluarga kerajaan di ruang bawah tanah istana selatan*, abdi kerajaan di ruang bawah tanah tiap-tiap istana. Lalu khusus untuk para tahanan, tempatkan mereka di ruang bawah tanah istana utara*. Hanya ada kita, pasukan tempur delapan benua, serta para menteri di atas sini. Jadi jika ada yang berkeliaran selain siapa-siapa saja yang kusebutkan, dia adalah iblis."
Istana selatan* merupakan istana di mana raja tinggal dan melakukan segala aktivitas yang bersifat pribadi. Istana ini dibangun di atas lahan seluas lima ratus hektar. Meski demikian hanya istana tersebut satu-satunya bangunan yang ada di sana. Selebihnya, istana selatan hanya ditanami pohon bambu.
__ADS_1
Istana utara* atau yang lebih dikenal dengan istana gaduh, merupakan istana yang paling banyak dikunjungi. Karena ada rumah sakit, akademi meramu obat, juga kebun tanaman herbal langka. Tabib Kerajaan juga tinggal di sini sebab selain bertanggung jawab pada para pasien selama dua puluh empat jam, dia juga mengajar di akademi.
"Sesuai perintah Anda, Yang Mulia," jawab Murat.
Tak lama setelah Braheim dan ketujuh raja menurunkan perintah, suasana di dalam pelindung kembali damai. Terlihat mayat-mayat hidup itu masih berkeliaran ke sana ke mari mencari keluarganya yang bersembunyi. Tawa terbahak Sanjeev pun mulai terdengar samar. Perlahan Sanjeev beranjak, berjalan angkuh di udara, dan berdiri menyejajarkan dirinya dengan kedelapan raja yang sedari tadi berada di puncak gerbang utama Kerajaan Kumari Kandam.
"Cerdas. Aku akui." Sanjeev bertepuk tangan tanpa meninggalkan seringainya. "Tapi Anda tahu, Yang Mulia. Selalu ada rencana cadangan."
"Aku menantikannya."
Spontan Sanjeev terbahak. "Anda berkata seperti itu dengan raut wajah yang sangat khawatir. Ini pertama kalinya hamba bisa membaca isi kepala Anda, Yang Mulia."
"Aku bukan mengkhawatirkan diriku atau rakyatku." Barheim menunjuk tepat di wajah Sanjeev. "Tetapi kau. Lakukan saja rencana cadanganmu itu selagi lawanmu masih tertidur. Jika dia sudah bangun dengan perut kenyang, kau hanya akan berakhir menjadi Sannidhi Hessa selanjutnya. Itu sudah tertulis dalam takdir."
Sanjeev menanggapi Braheim dengan sorot mata penuh kebencian.
"Hanya jahanam yang akan menerimamu, Sanjeev," imbuh Braheim.
Sanjeev semakin mendekat pada pelindung. "Itu sama sekali bukan masalah, Yang Mulia. Aku akan dengan senang hati menikmati pemandangan di jahanam, setelah membunuhmu, rakyatmu, dan meratakan tanahmu."
...•▪•▪•▪•▪•...
"Putri?" Faakhir mencari Jihan di setiap sudut rumah. "Jihan? Berhenti membuatku semakin berahi. Cepat keluar dan langsung saja."
Faakhir berdiri di tengah-tengah ruangan, menyerah mencari keberadaan sang kekasih. Tidak ada Jihan, tidak ada siapa pun di rumah itu selain dirinya sendiri. Faakhir buru-buru pulang setelah menerima upahnya sebagai pelayan tambahan di pesta pernikahan Braheim dan Haala. Faakhir berpikir Jihan marah karena membiarkannya pulang sendiri dan saat ini sedang mengunci diri di kamar. Atau malah tak sabar menantinya kembali dan saat ini sudah bertelanjang di kursi sambil melebarkan kedua kakinya.
Namun nyatanya tidak salah satu dari itu pun keduanya. Jihan sempat pulang, terlihat dari semua tirai jendela yang tertutup. Tetapi di mana? Faakhir pun berniat mencari Jihan di sepinggir pantai. Berharap Jihan sedang berjemur di sana meski sangat tidak mungkin karena aroma ikan makerel yang dibencinya setengah mati. Namun nihil. Jihan benar-benar tidak ada di mana pun. Faakhir pun kembali pulang, juga kembali berharap Jihan ada di sana. Tetapi lagi-lagi harapannya hanya sia-sia belaka.
"Pantas saja dia tidak ada di rumah. Ternyata kau penyebabnya." Faakhir menghela napas.
Lawan bicara Faakhir membisu. Jelas saja. Memang apa yang bisa dilakukan mayat hidup yang digerakkan mantra layaknya boneka? Jujur Faakhir bingung harus melakukan apa pada lawan bicara yang tak lain adalah mendiang Kakaknya itu, Firdoos Shyamali. Meninju? Tidak mungkin. Membuatkan teh? Lebih tidak mungkin? Menyuruhnya tidur di kamar? Itu lebih tidak mungkin. Sebab demi apapun keadaan kamar tidur Firdoos lebih buruk dari salah satu kamar rumah bordil yang baru saja dimasuki tiga orang prajurit.
"Pergilah. Alam kalian sudah berbeda. Dia milikku sekarang da–"
Firdoos menjeda ucapan sang adik karena tiba-tiba menunjuk ke arah pemakaman.
Spontan Faakhir menoleh ke arah yang ditunjuk Firdoos. "Apa?"
Firdoos tak menjawab, masih setia menunjuk ke arah sana.
__ADS_1
"Dia di sana?" tanya Faakhir lagi.
Firdoos tak mengangguk, menggeleng, pun tak lagi menunjuk apa-apa. Namun perlahan Firdoos kembali menunjuk sesuatu. Vas bunga.
Spontan Faakhir menoleh ke belakang, di mana vas bunga itu berada. "Ini? Kenapa?"
Firdoos menunjuk dirinya sendiri.
Faakhir mengangkat vas bunga itu. "Ini? Padamu?"
Lagi. Firdoos tak mengangguk, menggeleng, pun tak lagi menunjuk dirinya sendiri. Faakhir tak mengerti, namun tangannya bergerak mengikuti insting. Dilemparkannya vas bunga itu ke arah sang kakak, dan perlahan Firdoos pun terbakar.
"Hei." Faakhir berlari menuju Firdoos yang dengan cepat berubah menjadi abu. "Sial. Ternyata itu Gandh*." Faakhir kembali berlari keluar rumah.
Gandh* merupakan senjata baru buatan Kumari Kandam di masa lalu, berupa campuran garam dan air suci. Garam diketahui ampuh melemahkan Gaana yang setengah lintah, dan air suci memang sudah digunakan untuk mengusir iblis sejak ratusan tahun silam. Reaksi yang akan muncul jika Gandh mengenai tubuh Gaana adalah rasa perih yang perlahan berubah menjadi rasa seperti terbakar.
"Siramkan Gandh pada mereka. Mereka akan langsung menjadi abu," teriak Faakhir pada penduduk desa seraya beralu menuju pemakaman.
Faakhir hampir tiba di pemakaman, dan samar-samar dirinya melihat Jihan dari kejauhan. Jihan terlihat baru saja beranjak, lalu kini sedang berjalan ke arahnya. Faakhir tersenyum, melambaikan kedua tangannya pada Jihan. Namun senyum lega itu tak bertahan lama. Sesaat setelah Jihan melewatinya, Faakhir tersadar itu bukan Jihan melainkan orang lain.
"Bangkitkan yang terakhir. Bangkitkan yang terkuat. Hanya kau yang bisa membangkitkannya. Letakkan kedua tanganmu di sana. Hanya kau yang bisa melakukannya," gumam Jihan.
Faakhir menghalangi Jihan. "Sadarlah."
"Bangkitkan yang terakhir. Bangkitkan yang terkuat. Hanya kau yang bisa membangkitkannya. Letakkan kedua tanganmu di sana. Hanya kau yang bisa melakukannya."
"Tidak, sadarlah. Ini aku. Sadarlah." Faakhir memeluk Jihan.
"Bangkitkan yang terakhir. Bangkitkan yang terkuat. Hanya kau yang bisa membangkitkannya. Letakkan kedua tanganmu di sana. Hanya kau yang bisa melakukannya."
"Kumohon. Lihat aku." Faakhir melepas pelukannya, dan menyentuh kedua pipi Jihan. "Ini aku. Sadarlah. Kau berjanji tidak akan melakukan kejahatan lagi, bukan? Itu janjimu padaku, juga pada Firdoos. Kau ingat?"
"Bangkitkan yang terakhir. Bangkitkan yang terkuat. Hanya kau yang bisa membangkitkannya. Letakkan kedua tanganmu di sana. Hanya kau yang bisa melakukannya."
"Hentikan, Jihan Joozher!"
Spontan Jihan diam, menoleh pada Faakhir sesaat, dan kembali melanjutkan langkahnya.
"Bangkitkan yang terakhir. Bangkitkan yang terkuat. Hanya kau yang bisa membangkitkannya. Letakkan kedua tanganmu di sana. Hanya kau yang bisa melakukannya."
__ADS_1