TEARS OF KUMARI KANDAM

TEARS OF KUMARI KANDAM
CHAPTER 68


__ADS_3

Pasukan tempur dari tujuh benua itu tiba-tiba saja berbalik menyerang rajanya masing-masing. Gaana terkekeh, memang hanya mantra pengendali pikiran yang tidak pernah mengkhianatinya sekali pun. Kali ini Gaana yakin tidak akan membuat malaikat pencabut nyawa mengumpat karena hanya kembali dengan tangan kosong, sebab semua pengganggu yang berhasil dibuatnya sangat sibuk.


Baik itu Haala, para pengawal bayangan, pasukan tempur Kumari Kandam, dan Salmalin Josha, mereka tidak memiliki waktu bahkan untuk sekadar merangkai kalimat doa pada Dewa. Akhirnya tiba saat di mana Gaana bisa menuntaskan dendam kesumatnya. Rasa puas ketika menyantap jiwa-jiwa suci, tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan rasa puas ketika melihat wajah Braheim yang membiru kehabisan napas.


"Ya. Matilah. Matilah, Khair*," pekik Gaana.


Khair* atau lebih lengkapnya Khair Bhaavesh Elhasiq adalah ayah Braheim.


Sungguh. Kali ini nyawa Braheim sungguh berada di ujung tanduk. Rasa dingin yang misterius mulai menyentuh jari-jari kakinya, pun kegelapan yang perlahan membuat matanya hanya bisa melihat satu warna. Meski begitu, Braheim tetap menyuguhkan mimik wajah angkuh khas seorang raja. Spontan cekikan bersemangat Gaana pun mengendur, tetapi bukan karena Braheim melainkan karena dirinya sendiri.


Bulu kuduk Gaana meremang. Itu adalah pertanda akan kedatangan manusia paling sialan di antara manusia lain di muka bumi. Gaana berbalik, memandang sekitar dengan saksama setelah sebelumnya melepaskan cekikannya dari Braheim. Dan akhirnya manusia paling sialan itu, Daxraj Natesh pun muncul, dengan mimik wajah yang sejuta kali lipat lebih angkuh dari orang nomor satu di Kumari Kandam.


"Kacau sekali, Braheim Bhaavesh."


Braheim tertawa. "Apa itu dialog favoritmu?"

__ADS_1


"Kenapa? Terdengar keren, bukan?"


Braheim kembali tertawa menanggapi Daxraj. Sementara Gaana, tentu saja, naik pitam sejadinya.


"Kau tidak seharusnya berada di sini, Daxraj Natesh."


"Memang," balas Daxraj pada Gaana.


Spontan Gaana berteriak, "Lalu kenapa kau berada si sini dan menunjukkan wajah sialanmu itu?"


Braheim menahan tawanya, tetapi akhirnya lolos juga. Tawa menular yang membuat ketakutan ketujuh raja seketika sirna.


"Pergi. Ini bukan ranahmu."


"Ini juga bukan ranah mereka." Daxraj menunjuk para pelindung tujuh benua yang baru saja keluar dari Danau Baadal*.

__ADS_1


Baadal* adalah salah satu danau keramat di Kumari Kandam. Konon Baadal dijaga oleh ikan raksasa bernama Ghinauna. Mereka yang berendam di Baadal akan disucikan dari sisa perbuatan kotor manusia, sisa makanan serta minuman haram, atau racun yang mengendap di tubuh. Namun Ghinauna dikenal tidak ramah, sehingga hanya sedikit sekali orang yang bisa berendam di sana.


"Lawan mereka belum lahir, dan aku tidak ditakdirkan berurusan dengan mereka," imbuh Daxraj.


"Bukan urusanku!"


"Itulah kenapa menjadi urusanku."


Gaana berjalan menghampiri Daxraj. "Enyahlah, Daxraj Natesh. Dan tunggulah di balik portal itu seperti pengecut. Aku akan membawa maut padamu juga sukumu ya--"


Lagi-lagi. Auman menggelegar singa raksasa memotong omong kosong Gaana. Tampak singa raksasa muncul dengan tatapan tak sabar mencabik-cabik lawannya. Gaana menyeringai, seraya merapalkan mantra dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya. Para pasukan tempur dari tujuh benua, berikut ketujuh pelindung kembali dipermainkan. Mereka mengangkat senjata, dan berlari saling mendahului menuju Daxraj.


"Cukup, Sannidhi Hessa. Sudah cukup kau mengganggu tidur siang saudaraku."


__ADS_1


__ADS_2