TEARS OF KUMARI KANDAM

TEARS OF KUMARI KANDAM
CHAPTER 83


__ADS_3

"Lagi? Hah, sialan. Ternyata aku benar-benar hanya menampung orang tolol. Pengawal!"


"Beri hamba perintah, Tuan Putri." Dua orang pengawal seketika masuk ke dalam ruangan dan bersimpuh di samping Jihan.


"Tidak-tidak. Tunggu. Tunggu dulu, Tuanku." Sanjeev buru-buru mengeluarkan beragam botol ramuan dari dalam kotak, laci, dan lemari kaca. "Kita belum mencoba ini, ini, ini, ini dan juga ini."


Jihan melirik tumpukan mayat di pojok ruangan. "Kau pikir masih tersisa liang lahad yang bisa kau curi isinya, sialan!"


"Kali ini hamba menjaminnya seribu persen, Tuanku. Seribu persen," sela Sanjeev seraya berlutut di hadapan Jihan.


Urat-urat yang menggumpal di kedua pelipis Jihan perlahan mulai mengendur. Bukan karena percaya pada omong kosong Sanjeev yang kesejuta kalinya, tetapi karena tampilan ramuan yang disuguhkan padanya kali ini terlihat cukup menjanjikan, berbeda dengan ramuan-ramuan sebelumnya yang gagal total. Jihan kembali duduk di kursinya, setelah memberi kode pada para pengawalnya untuk kembali ke tempat masing-masing.


Tanpa sadar Sanjeev menghela napas lega, untuk nyawanya yang lagi-lagi hampir berada di ujung tanduk. Sanjeev sadar jika Jihan tengah memberinya kesempatan, kesempatan terakhir. Karena wajah cantik yang dikabuti murka tertahan itu jelas mengatakan akan mengirim Sanjeev kembali ke penjara Chamakadaar jika keberhasilan ramuan seribu persennya itu pada akhirnya kurang meski hanya satu persen.


Sanjeev meletakkan botol ramuan di meja. "Ini adalah ramuan untuk menjadi Gaana."


"Apa? Maksudmu kau ingin aku menjadi Gaana?"


"Karena itulah satu-satunya cara jika Anda ingin membangkitkan Firdoos Shyamali, Tuanku. Tidak ada yang bisa membangkitkan orang mati selain Tuhan dan waktu. Maka jika tidak bisa menjadi Tuhan, hanya perlu menjadi waktu, bukan?"


"Katakan lebih detail."


Sanjeev menyeringai. "Sesuai perintah Anda, Tuanku."


Dengan hati-hati Sanjeev pun mulai merangkai kata-kata penuh tipu dayanya, sesempurna mungkin. Ramuan yang diklaimnya memiliki keberhasilan sebanyak seribu persen itu diberi nama Vakr. Dengan menenggak Vakr, siapa pun itu akan terbuka mata batinnya dan mampu melihat sosok tak kasat mata, terutama sosok Gaana beserta sejenisnya yang sedang berkamuflase di tengah-tengah manusia.


"Bukankah kau mengatakan itu ramuan untuk menjadi Gaana?"


"Benar, Tuanku. Dengan menemukan Gaana, Anda sudah menjadi Gaana." Sanjeev kembali menyeringai.

__ADS_1


"Katakan intinya saja. Aku benar-benar sudah muak melihat wajah menyebalkanmu itu, Sanjeev Rajak."


"Mohon ampuni perkataan hamba yang lancang ini, Tuanku. Tetapi nyawa Anda bisa dalam bahaya jika hamba hanya mengatakan intinya saja."


Jihan tak merespon, hanya menyilangkan sebelah kakinya yang cantik dan menggoyangkannya berulang kali. Siapa pun pasti akan paham jika saat ini Jihan tengah memberi kode bahwa dirinya bersedia melihat wajah menyebalkan Sanjeev sedikit lebih lama. Sanjeev pun mengucapkan terima kasih, dan tanpa membuang waktu lagi langsung menjelaskan maksud ucapannya dengan semangat berapi-api.


Gaana, manusia setengah lintah yang menjadi musuh nomor satu Kumari Kandam, ternyata memiliki nama asli Lipito. Kisah tentang Lipito sangat terkenal pada masa pemerintahan Raja Lagaam II. Menurut kisah, Lipito bukan makhluk yang berasal dari Kumari Kandam melainkan Minciună. Sebuah tempat yang tidak ada dalam peta mana pun. Dikisahkan pada abad kedua, Lipito mengungsi ke Benua Lagaam karena perang tak berkesudahan di Minciună.


Begitu pula dengan makhluk sejenis Lipito seperti Faot (Chhota*), Hoo, Ninos, Ascuţ, dan peri. Mereka ikut mengungsi ke enam benua tersisa, kecuali Benua Kumari Kandam dan Benua Jvaala. Ini karena kedua benua tersebut dilindungi oleh pemimpin suku pengembara sehingga mereka tidak bisa seenaknya menginjakkan kaki. Seiring waktu berlalu, para makhluk itu mengikuti jejak pemimpin suku pengembara. Mereka memilih satu benua dan menjadi pelindung tanpa pamrih.


Chhota* atau Faot adalah makhluk berwujud setengah manusia setengah peri dan setengah banteng.


Faot (Chhota), memilih menjadi pelindung Benua Chamakadaar. Hoo (manusia setengah pheonix), memilih menjadi pelindung Benua Hathelee. Peri, memilih menjadi pelindung Benua Padachihn. Ninos (manusia setengah kalajengking), memilih menjadi pelindung Benua Shushk. Ascuţ (manusia setengah hiu), memilih menjadi pelindung Benua Garjan. Dan Lipito (Gaana), memilih menjadi pelindung Benua Lagaam. Namun di antara para pelindung, Lipitolah yang paling bermasalah.


Berbeda dengan pelindung-pelindung lain yang membantu manusia secara wajar, Lipito disebut-sebut membantu manusia dengan cara sebaliknya, yakni menjual kemampuan supernaturalnya. Lipito yang tersohor dengan sihir pengendali pikiran, menjual sihirnya itu pada siapa pun yang mampu membayarnya dengan jiwa suci manusia. Disebutkan dalam kisah, banyak yang mendatangi Lipito dan menyanggupi bayaran yang dimintanya itu.


Beruntungnya transaksi itu tidak berlangsung lama. Karena Raja Lagaam II yang bekerja sama dengan Raja Bhaavesh II berhasil mengacaukan transaksi tersebut dengan strategi cerdas. Dan atas belas kasih Raja Lagaam II, Lipito pun dipulangkan ke tempat asalnya, Minciună. Sejak saat itulah pemimpin suku pengembara mengambil alih tugas Lipito sebagai pelindung Benua Lagaam, dan menjadikan Lagaam, Kumari Kandam serta Jvaala sebagai wilayah kekuasaannya.


"Anda tidak berpikir mereka semua setuju untuk dipulangkan, bukan? Tentu ada beberapa yang menolak secara diam-diam." Sanjeev tak henti memamerkan seringainya.


"Masuk akal. Kalau begitu aku hanya perlu menenggak Vakr, menemukan satu dari Gaana yang bersembunyi, dan menawarkan kerja sama."


"Benar sekali, Tuanku. Lalu jika mereka menolak atau terlihat membahayakan Anda, katakan saja jika ada seseorang yang bisa membuka mulut tentang keberadaan mereka pada Raja Lagaam detik itu juga."


Jihan beranjak. "Aku mengerti."


Sanjeev ikut beranjak. "Kalau begitu, haruskah kita berangkat sekarang, Tuanku?"


"Ya. Tapi hanya aku. Pengawal," teriak Jihan tiba-tiba.

__ADS_1


"Apa maksud Anda?"


Dua orang pengawal sebelumnya kembali memasuki ruangan. "Beri hamba perintah, Tuan Putri."


Jihan memberi kode pada pengawalnya untuk menunggu. "Berkacalah, Sanjeev Rajak. Wajahmu itu sungguh menyiratkan dengan jelas apa yang sebenarnya kau inginkan dalam hati. Kau pikir aku tolol? Sama sepertimu?"


"Anda terlalu berlebihan. Bukankah nyawa hamba sudah menjadi milik Anda?"


"Kau juga pasti mengatakan itu pada Raja Arshaq Zamir sebelum melarikan diri dari penjara Chamakadaar, bukan? Cih." Jihan memberi kode pada pengawalnya untuk mendekat. "Telanjangi dia. Pastikan tidak ada ramuan yang disembunyikannya di balik pakaian itu. Lalu kurung dia di menara sampai aku kembali."


"Sesuai perintah An--"


"Tunggu-tunggu. Hamba bersumpah tidak akan melarikan diri, Tuanku. Bawalah hamba. Hamba harus berada di samping Anda untuk melakukan pertolongan jika ada efek yang ditimbulkan Vakr. Itu ramuan baru, Tuanku. Itu belum diuji pada siapa pun."


"Lalu kau pikir aku akan menenggaknya begitu saja?" Jihan berjalan keluar dari ruangan.


"Tunggu, Tuanku. Tunggu. Hamba berdoa untuk keberhasilan Anda. Lalu kelak hamba berharap Anda akan memutar waktu ke masa ketika hamba masih menjadi orang biasa."


Spontan Jihan menghentikan langkahnya. "Seperti yang kau katakan, Gaana hanya bisa mengendalikan pikiran."


"Apa? Tidak, Tuanku. Orang-orang itu mengatakan jika di masa lalu Gaana telah beberapa kali memutar waktu."


"Aku pernah menjadi bawahan Gaana. Kau pikir orang-orang itu lebih mengenalnya daripada aku?"


"Kalau begitu untuk apa Anda ingin menjadi Gaana? Bukankah tujuan utama Anda adalah untuk membangkitkan Firdoos Shyamali?"


"Dan seperti yang kau katakan, tidak ada yang bisa membangkitkan orang mati."


"Lantas? Untuk apa?"

__ADS_1


"Aku hanya ingin bersenang-senang dengan cara yang jarang dipilih orang lain. Lalu mati menyusulnya tanpa penyesalan." Jihan berlalu.


__ADS_2