TEARS OF KUMARI KANDAM

TEARS OF KUMARI KANDAM
CHAPTER 63


__ADS_3

Seorang prajurit penjaga gerbang utama Kerajaan Padachihn menyerukan nama Dewa keselamatan berulang kali, ketika mata teropongnya menangkap sosok Gaana yang tengah berjalan angkuh bersama jutaan makhluk berwujud mengerikan. Si prajurit penjaga pun langsung memberitahu semua rekannya untuk bersiap perang, sementara dirinya, bergegas menemui sang raja.


Raja Padachihn mengembalikan teropong milik si prajurit penjaga. "Kenakan zirah kalian. Kita akan berperang."


"Sesuai perintah Anda, Yang Mulia."


Zirah menyilaukan layaknya cahaya khas yang keluar dari tubuh peri itu tidak hanya mengganggu pandangan Gaana, tetapi juga sang surya. Bersamaan dengan Raja Padachihn yang menghentikan langkahnya di tangga terakhir puncak menara, Gaana pun menghentikan langkahnya di depan gerbang utama Kerajaan Padachihn yang hanya berjarak sepuluh langkah.


"Panjang umur, dan terbekatilah selalu, matahari Padachihn." Gaana membungkuk.


"Sebelum kita berperang, aku ingin tahu kenapa Padachihn yang menjadi target pertamamu?"


"Hmm target? Kurasa akan lebih tepat jika disebut tujuan. Kalian adalah tujuan terakhirku karena pelindung kalian yang sama merepotkannya dengan si sialan Daxraj Natesh itu."


Raja Padachihn diam. "Tapi aku sudah mengurusnya. Maksudku pelindung kalian. Aku sudah membunuhnya," imbuh Gaana.


"Apa katamu?"


"Ah, pasti sulit dipercaya mengingat pelindung kalian adalah yang terkuat di antara pelindung yang lain. Aku paham. Jadi ini, aku membawakan bukti." Gaana melempar sesuatu pada Raja Padachihn.


"Ya Dewa," batin Raja Padachihn setelah menangkap sesuatu yang ternyata adalah jasad peri.


"Aku turut berduka cita. Lalu sebagai ungkapan rasa bersalah, aku akan mencarikan pelindung yang baru untuk Padachihn."


"Tidak cukup dengan membunuh rakyat yang tidak berdosa dan membunuh Namakeen*, kau bahkan juga membunuh pelindung tanah kami?"


Namakeen* sejenis Ghinauna yang mendiami salah satu danau keramat di Benua Chamakadaar.


"Ya. Kenapa? Kau marah? Ayolah, Yang Mulia. Jangan terbawa suasana. Aku sudah menjanjikan pelindung yang baru, bukan? Daripada itu, aku datang bukan untuk berperang."

__ADS_1


Raja Padachihn kembali diam. "Aku akan berperang dengan Kumari Kandam. Jika Padachihn berjanji tidak akan ikut campur, aku juga berjanji tidak akan menginjakkan kakiku lagi di sini," tambah Gaana.


Raja Padachihn masih diam. "Tentu saja kau berhak menolak, Yang Mulia. Tapi kau tahu apa bayarannya, bukan?"


"Apa?"


Gaana mendecak, "Dasar naif. Tentu saja bayarannya adalah kematian rakyatmu yang kau sembunyikan di bekas tempat tinggal si sialan Daxraj Natesh itu. Kau pikir aku tidak bisa menyentuh tempat itu? Satu detik. Aku benar-benar bisa meratakan tempat itu hanya dalam satu detik. Haruskah?"


Raja Padachihn melepas penutup kepalanya. "Turunkan senjata kalian."


Gaana tak menjawab, hanya mengangguk pada Raja Padachihn sambil memberi kode pada pasukannya untuk keluar dari benua penghasil madu itu dan bergerak menuju benua selanjutnya, Shushk. Berbeda dengan Raja Padachihn yang menyambut kedatangan Gaana melalui teropong, Raja Shushk menyambut iblis wanita berpenampilan tak senonoh itu secara langsung.


"Panjang umur, dan terberkatilah selalu, matahari Shushk."


Raja Shushk tampak terkejut. "Bagaimana bisa? Pelindung kami?"


"Ya. Seperti yang kau lihat, Yang Mulia. Aku dan pelindung tanahmu sudah bekerja sama untuk menghancurkan Kumari Kandam."


"Apa?"


Raja Shushk menarik pedangnya. "Lebih baik aku mati."


"Boleh saja. Tapi bagaimana dengan rakyatmu yang kau sembunyikan di dalam batu itu?"


Raja Shushk diam. "Kau tahu aku akan berperang dengan Kumari Kandam, bukan? Jika Shushk berjanji tidak akan ikut campur, aku juga berjanji tidak akan menyakiti rakyatmu. Bagaimana?"


Raja Shushk masih diam. "Bagaimana, Yang Mulia?" tanya Gaana lagi.


Raja Shushk melepas penutup kepalanya. "Hanya orang tolol yang membuat janji dengan iblis."

__ADS_1


Gaana membungkuk. "Kalau begitu Anda adalah orang tolol pertama yang akan hamba hormati, Yang Mulia."


Gaana pun kembali bergerak menuju benua selanjutnya, Lagaam. Satu dari tiga benua yang dipercayakan Dewa pada Daxraj Natesh. Sama seperti di dua benua sebelumnya, Gaana mengancam Raja Lagaam untuk membuatnya melepas penutup kepala. Dan tak perlu waktu lama, Gaana pun kembali mengantongi kartu hijau dari Lagaam, juga Jvaala, Garjan, Hathelee, dan Chamakadaar. Namun.


"He vaphaadaar thandee aatmaon, aao. Tera svaamee bula raha hai, Chamakadaar ka svaamee bula raha hai."


T/N: Wahai jiwa-jiwa dingin yang setia, datanglah. tuanmu memanggil, penguasa Chamakadaar memanggil.


"Beri perintah pada jiwa-jiwa dingin ini, wahai penguasa Chamakadaar yang diberkati." Dua pengawal bayangan Raja Chamakadaar, Arshaq Zamir, bersimpuh di hadapannya.


"Pergilah ke sisi Raja Kumari Kandam. Jadilah bayangannya. Kini apapun yang dikehendakinya juga adalah kehendakku. Di mana itu berarti, nyawanya yang sama berharganya dengan nyawaku."


"Sesuai perintah Anda, Yang Mulia."


Begitu pun dengan Raja Padachihn, Hathelee, Garjan, dan Jvaala yang sebelumnya memutus kerja sama dalam perang dengan Kumari Kandam karena merasa dipermainkan oleh kepercayaan Braheim tentang pemimpin suku pengembara yang hanya ada di dalam dongeng. Mereka juga ikut mengirim pengawal bayangannya masing-masing untuk melindungi Braheim.



" ... Aku memerintahkan kalian untuk melindungi Raja Kumari Kandam ...."



" ... Dari segala yang hitam. Baik itu roh-roh yang hitam, ilmu-ilmu sihir yang hitam, dan orang-orang yang berhati hitam ...."



" ... Lindungilah dia seperti kalian melindungiku. Jangan biarkan tubuhnya tergores meski hanya setitik ...."


__ADS_1


" ... Dan jangan pernah kembali jika hanya membawa kabar duka.""


__ADS_2