
Semilir angin malam yang berhembus menyambut hari kesebelas terasa sangat tenang. Setenang langkah Braheim yang kini tengah menyusuri lorong panjang seukuran satu orang dewasa, menuju sebuah tempat rahasia yang hanya diketahui oleh penerus tahta Kumari Kandam yang sah, yang pantas, dan yang memiliki tanda lahir emas.
Pintu tempat rahasia itu terbuka bersamaan dengan penerangan yang menyala dengan sendirinya. Braheim menjelajahkan pandangannya ke dinding, di mana tergantung lukisan Raja-raja Kumari Kandam terdahulu secara urut. Setelah puas menikmati satu per satu wajah leluhurnya, pandangan Braheim beralih ke jam pasir di meja.
Braheim mengambil jam pasir dengan serpihan berwarna jingga itu, memandangnya lekat, menggoyangkannya, sembari menjatuhkan tubuhnya pada satu-satunya kursi yang ada di sana. Tak lama, terdengar Braheim mengatur napasnya berulang kali sebelum menggumamkan kalimat berbahasa Videsh* dengan sangat khusyuk.
*Videsh* merupakan bahasa kumari kandam yang digunakan para leluhur terdahulu. Sudah tidak digunakan lagi di masa sekarang karena terlalu rumit*.
"He vaphaadaar thandee aatmaon, milane aana. Tumhaara maalik bula raha hai, shaasak Kumaaree Kandam ne pukaara."
T/N: Wahai jiwa-jiwa dingin yang setia, datanglah. Tuanmu memanggil, penguasa Kumari Kandam memanggil.
"Beri perintah pada jiwa-jiwa dingin ini, wahai penguasa Kumari Kandam yang diberkati." Suara dua orang pria terdengar kompak menjawab Braheim.
Braheim tersenyum tak percaya, mendapati kebenaran pesan terakhir sang ayah yang ternyata bukan sekadar basa-basi penenang hati. Dua orang pria berperawakan tinggi besar dengan jubah dan serban hitam kini benar-benar ada di hadapan Braheim. Bersimpuh dengan gagah, dan dengan tatapan yang seolah tak sabar diberi perintah.
Ternyata sebutan bayangan bukan sembarang sebutan. Sebab wujud kedua pria itu memang persis seperti bayangan, tak tersentuh, samar, hanya hitam, hitam pegam. Braheim menduga jika kedua pria yang sedari tadi bersimpuh sempurna di hadapannya bukanlah manusia, mengingat kulit keduanya yang sepucat mayat dan tidak memiliki bayangan.
Braheim beranjak, berjalan mengelilingi dua pengawal bayangannya. "Apa kalian manusia?"
"Bukan, Yang Mulia," jawab dua pengawal bayangan Braheim kompak.
Braheim mengangguk-angguk. "Apa kalian memiliki nama?"
"Tidak, Yang Mulia."
"Wujud kalian mengingatkanku pada seorang pria menyebalkan. Mungkinkah kalian berasal dari suku pengembara?" tanya Braheim lagi.
"Ya, Yang Mulia. Kami bersumpah pada Khairiya Patralekha untuk melindungi penerus tahta Kumari Kandam." Kedua pengawal bayangan Braheim masih menjawab bersamaan.
Braheim diam sesaat. "Khairiya Patralekha? Ratu Kumari Kandam yang pertama?"
"Benar, Yang Mulia."
Braheim kembali mengangguk-angguk. "Baiklah, langsung saja. Akan kujelaskan sedikit situasiku saat ini. Aku sedang diincar oleh Gaana*, dan oleh seorang wanita yang tiba-tiba menjadi ratuku."
*Gaana* makhluk pemakan jiwa-jiwa suci yang tinggal di Hutan Mook*.
Braheim kembali duduk di kursi. "Karena Gaana belum melancarkan serangan secara terang-terangan, aku akan mengesampingkannya. Sekarang aku ingin fokus mencari tahu rencana ratu palsu itu," imbuh Braheim.
"Beri kami perintah, Yang Mulia."
Braheim berdeham, "Entah ini perintah yang pantas atau tidak, tapi apa kalian mau menggantikanku menidurinya? Karena sepertinya wanita itu sudah tidak bisa lagi menahan berahi. Setiap malam dia selalu menungguku dengan bertelanjang bulat. Kurasa dia gila."
"Kami tidak memiliki nafsu duniawi, Yang Mulia."
"Ah. Begitu rupanya," balas Braheim.
"Tapi ada satu cara yang bisa menjadi jalan keluar, Yang Mulia." Salah satu pengawal bayangan Braheim merapal mantra untuk memunculkan sesuatu.
Braheim menerima sebotol ramuan dari pengawalnya. "Apa ini?"
"Itu adalah Romaans, Yang Mulia. Ramuan yang bisa membuat seseorang melihat orang lain seperti seseorang yang kita cintai."
"Romaans juga bisa mengubah wujud orang lain semirip wujud orang tercinta kita," timpal pengawal bayangan Braheim yang lain.
Braheim masih memandangi sebotol kecil ramuan digenggamannya, yang meski kecil ternyata memiliki kegunaan yang luar biasa besar. Sebuah rencana akbar mendadak terlintas di pikiran Braheim. Braheim berniat menggunakan ramuan itu untuk melindungi dirinya dari wanita-wanita yang tidak pantas mengandung penerus tahta Kumari Kandam.
"Apakah aku bisa mendapatkan Romaans kapan pun aku ingin?"
"Dan sebanyak apapun Anda ingin, Yang Mulia." Kedua pengawal bayangan Braheim kembali menjawab kompak.
__ADS_1
Braheim menyandarkan tubuhnya di punggung kursi. "Baiklah. Dengarkan baik-baik tugas pertama kalian. Untuk saat ini, terus berikan Romaans pada ratu palsu itu. Dan kelak jika aku memiliki selir, berikan juga pada mereka."
"Sesuai perintah Anda, Yang Mulia."
...¤○●¤○●¤○●¤...
Terlihat Haala tengah bersembunyi di balik dinding istana tenggara*, mengintai apapun yang dilakukan Jihan, putri angkat peternak susu yang dalam sekejap menjadi Ratu Kumari Kandam. Firasat Haala berkata jika kemungkinan besar Jihan melakukan sesuatu yang berhubungan dengan sihir atau semacamnya yang ada di luar batas akal sehat manusia.
*Istana tenggara* sering disebut istana ratu karena seluruh tugas harian ratu berlangsung di sini. Selain itu, istana tenggara juga menjadi tempat tinggal orang-orang dengan status tinggi seperti penasihat raja, menteri, komandan perang, kepala penyidik, serta tamu-tamu dari luar Kumari Kandam*.
Sebab firasatnya yang terus bertambah buruk itulah, Haala akhirnya mengekori ke mana pun Jihan pergi. Bahkan tanpa sadar, sampai ke kamar tidur Braheim. Haala yang terjebak memutuskan untuk bersembunyi di dalam lemari pakaian Braheim. Jantung Haala mulai berdebar, teringat kejadian di masa depan, ketika dirinya terpaksa menyaksikan Braheim melepas berahi dengan wanita lain.
Terlihat dari celah lemari pakaian beraroma citrus itu, Jihan tengah bersenandung bahagia seraya menanggalkan satu per satu perhiasan serta pakaian indahnya. Air mata Haala mulai berjatuhan saling mendahului, saat suara pintu kamar Braheim terbuka. Tak perlu ditanya siapa yang datang. Siapa lagi jika bukan pemilik kamar sekaligus pemilik tanah Kumari Kandam.
Spontan Jihan berlari menuju pintu masuk. "Yang Mulia."
"Ratuku."
DEG!
"Ratu Anda yang sangat cantik ini kedinginan. Bersediakah Anda menghangatkannya?"
"Dengan senang hati, ratuku."
DEG! DEG!
"Ya Tuhan, apa yang terjadi?" tanya Haala dalam hati.
Jantung Haala kian berdebar hebat, bukan sebab pergelutan penuh berahi yang kini tengah berlangsung tepat di depan matanya, melainkan karena pria yang bukan Braheim yang sedari tadi terus disebut-sebut Jihan sebagai Braheim. Haala mengerjapkan matanya berulang kali, memastikan jika pria yang sedang sibuk menggoda bagian-bagian sensitif Jihan itu memang bukan Braheim.
"Mungkinkah? Romaans? Tapi bagaimana bisa Yang Mulia Raja mendapatkannya?" Haala masih bertanya dalam hati.
"Panjang umur, da--"
"Lanjutkan saja," sela Braheim pada si pria.
"Siapa dia, Yang Mulia? Teman Anda? Apa dia juga mau menghangatkan ratu Anda yang sedang kedinginan ini? Jika Anda tidak keberatan, hamba pun tidak keberatan." Jihan membuka lebar kedua kakinya.
Braheim hanya memasang wajah jijik. "Apa benar tidak masalah hamba melakukannya dengan Yang Mulia Ratu, Yang Mulia?"
"Ya. Kau pun akan melakukannya dengan selir-selirku kelak," balas Braheim pada si pria.
"Tapi kenapa, Yang Mulia?"
"Aku tidak akan membiarkan penerus tahta lahir dari rahim wanita yang masih haus akan urusan duniawi." Braheim keluar dari kamar tidurnya.
DEG! DEG! DEG!
"Jadi benar apa yang dikatakan Penasihat Murat waktu itu," gumam Haala dalam hati.
*FLASHBACK ON*
Haala kian terhanyut dalam kenyataan pedih, hingga seseorang menghentikan langkah beratnya. Haala masih menunduk, memandangi ujung alas kaki orang tersebut juga ujung alas kakinya yang kini dihujani air mata. Usapan kasar yang tiba-tiba mendarat di sebelah bahunya spontan membuat Haala mendongak karena terkejut.
"Jangan percaya pada apapun yang wanita gila itu katakan padamu."
Haala tak menjawab. "Aku tidak akan membiarkan penerus tahta lahir dari rahim wanita yang masih haus akan urusan duniawi. Yang Mulia Raja pernah mengatakan itu padaku," imbuh Murat.
"Kurasa kau tidak boleh memberitahukannya pada sembarang orang, penasihat."
Murat mengangguk-angguk menanggapi Haala. "Ya, kau benar. Seharusnya aku memberitahukannya pada Yang Mulia Ratu. Mungkin dengan begitu kegilaannya bisa berkurang. Tapi entahlah. Terkadang aku suka bertindak tanpa berpikir."
__ADS_1
*FLASHBACK OFF*
Haala masih bergumam, "Mungkinkah, di masa depan pun Anda tidak melakukannya dengan Yang Mulia Ratu dan para selir, Yang Mulia?"
Pergelutan penuh berahi yang seolah tak ada akhirnya itu membuat Haala lelah, dan tertidur hingga menjelang fajar. Gilanya, Jihan dan seorang pria yang terus disebutnya Braheim itu masih sama-sama mengerang nikmat di atas ranjang yang terbengkalai. Haala pun memutuskan untuk melanjutkan tidurnya, sesaat sebelum matanya menangkap pengawal bayangan Braheim di balkon.
"Mereka? Bukankah di masa depan mereka yang mengantarku ke tempat rahasia Yang Mulia Raja? Mungkinkah mereka dikirim oleh Daxraj dari masa depan?"
...¤○●¤○●¤○●¤...
KKKEEEKKK.. KKKEEEKKK..
"Tidak kusangka semudah ini membunuh orang terkuat di Kumari Kandam. Aku membunuhmu dengan cara yang sama seperti yang kau lakukan padaku di masa depan."
KKKEEEKKK.. KKKEEEKKK..
"Tapi sayang sekali. Masa depanku akan berubah karena yang membunuhku, kubunuh lebih dulu," imbuh Gaana seraya terbahak.
Suara tawa Gaana yang terlewat bahagia, berikut suara seorang pria yang tengah meronta karena cekikan, kompak mengundang burung-burung pemakan bangkai ke Hutan Mook. Daxraj yang selama ini sibuk mencari tahu tentang siapa pemimpin suku pengembara yang asli, secara tidak sengaja malah menemukan cara untuk membunuh Gaana.
Ternyata sangat mudah. Hanya tinggal menyebut nama asli Gaana dalam satu tarikan nafas. Setelah nama aslinya menggema, Gaana akan marah, dan menyerang apa saja sampai energinya terkuras. Namun sialnya Gaana tidak menunjukkan reaksi apa-apa meski Daxraj sudah menyerukan nama aslinya berulang kali.
"Ya. Itu memang nama asliku. Tapi hanya Daxraj Natesh di masa depan yang bisa membuatnya terdengar sangat menyakitkan."
"A-a-apa m-m-maksudmu?" tanya Daxraj.
"Baiklah. Agar tak mati penasaran. Aku akan berbaik hati memberi tahumu sesuatu." Gaana melepaskan cekikannya dari Daxraj.
BRUK!
UHUK! UHUK! UHUK!
"Aku bersujud memohon untuk setidaknya bisa menuntaskan dendamku sebelum mati, tapi kau memang sialan."
Gaana berbalik, menoleh pada Daxraj. "Ya. Kau. Kau dari masa depan yang sangat kuat sampai-sampai mustahil untuk membuat kulitmu tergores meski hanya sedikit."
"Apa maksudmu? Kau bisa melihat masa depan? Lalu benarkah masa depan akan binasa karena Haala memberikan hatinya pada orang yang salah?"
Gaana kembali terbahak. "Luar biasa, bukan? Aku bisa menyentuh buku menjengkelkan itu dan bahkan, mengubah salah satu isi di dalamnya."
"Apa? Jadi kau mengubahnya?"
"Juga membuatmu serta semua orang percaya jika yang kuubahlah yang merupakan kebenaran," balas Gaana.
"Apa isi yang sebenarnya?"
Gaana berjalan mendekati Daxraj yang tergeletak lemas di tanah sembari berkata, "Nikat bhavishy mein vinaash ka yuddh hoga. Yah Raaja Kumaaree Kandam nahin hai jo yuddh ko rokenge, balki ghumantoo janajaati neta ke putr aur Yuseph Bahaadir ke prati nishtha kee shapath ke uttaraadhikaaree hain."
"Perang kebinasaan akan terjadi dalam waktu dekat. Bukan Raja Kumari Kandam yang akan menghentikan perang itu, melainkan putra dari pemimpin suku pengembara dan penerus sumpah setia Yusef Bahadir," gumam Daxraj.
"Benar sekali. Itu adalah isi yang sebenarnya. Kurasa cukup. Saatnya untuk mati, pemimpin suku pengembara yang sangat lemah."
KKKEEEKKK.. KKKEEEKKK..
Pandangan Daxraj mulai memutih. Kesadarannya pun mulai terkikis. Hal terakhir yang menyesaki benak Daxraj sesaat sebelum malaikat pencabut nyawa mengawalnya bertemu Dewa adalah, fakta tentang ramalan leluhur suku pengembara yang terukir di tubuhnya yang hanyalah ukiran sampah.
Namun Daxraj tidak sepenuhnya mati dalam penyesalan. Karena sebelum pergi menemui Gaana, Daxraj sudah mengirim surat pada Braheim yang berisi cara untuk membunuh Gaana. Dan begitulah akhirnya Daxraj Natesh mati. Mati dengan membawa serta rahasia besar tentang isi ramalan leluhur suku pengembara yang asli.
BRUK!
Gaana berjalan menuju pintu keluar Hutan Mook. "Sekarang giliranmu, Braheim Bhaavesh."
__ADS_1