
Haala merebahkan tubuhnya di atas ranjang kayu berukuran satu orang dewasa, sembari menikmati kenyamanan lewat gaun tidur tipisnya. Kenyamanan yang luar biasa langka untuk seorang komandan perang wanita yang hampir setiap hari mengenakan zirah lengkap dan dililit beragam senjata berbobot tidak main-main.
Jika direnungi, nampaknya takdir tidak hanya kejam pada urusan asmara Haala saja melainkan juga pada kodratnya sebagai wanita. Bukan belajar merajut tapi mengayunkan pedang. Bukan melihat hal-hal indah tapi kubangan darah di medan pertempuran. Dan bukan dilindungi pria tercinta tapi melindungi pria yang tak bisa sembarangan dicinta.
Haala tersenyum enggan, seraya beranjak dari ranjang kerasnya. Masih ada satu rutinitas yang wajib Haala lakukan sebelum tidur. Bukan. Bukan membubuhi wajahnya dengan bubuk mutiara atau membaluri bibirnya dengan madu, tetapi menerjemahkan salinan beberapa lembar buku kuno peninggalan leluhur suku pengembara.
SREK!
"Mereka kuat karena tidak berdarah campuran ... Sampai kekuatannya diwariskan pada penerus atau siapa pun yang mampu ... Mereka abadi."
SREK!
"Tetapi tidak semua dari kami mampu menerima kekuatan mereka ... Hanya yang dianugerahi tanda lahir ... Tanda lahir berwarnaa gelap namun bermakna terang."
SREK!
"Wanita yang berada di sisi mereka pun harus mampu ... Terutama dalam hal berahi ... Karena sampai dipertemukan dengan wanitanya, mereka hanya mengenal puasa duniawi."
Buku tebal bersampul kulit hewan itu buru-buru ditutup dan disimpan Haala ke tempat semula, sebab kenangan erotis yang mendadak terputar otomatis. Anehnya, bukan kenangan erotis bersama Braheim melainkan bersama Daxraj. Padahal yang seharusnya menyesaki pikiran Haala saat ini adalah penjelasan lebih rinci tentang darah campuran dan teka-teki tanda lahir.
"Dia berpuasa tapi mahir berciuman? Itu berarti dia sudah bertemu wanita lain sebelum bertemu denganku. Berhenti. Apa yang kupikirkan? Dan kenapa dia yang pertama kali muncul di pikiranku?" tanya Haala dalam hati.
*FLASHBACK ON*
Daxraj berjalan mendekati Haala yang masih sibuk berpakaian. "Jika aku memiliki dendam pribadi dengan mereka, aku hanya perlu meratakan Kumari Kandam. Lalu maaf, aku hanya akan mengakui satu wanita dalam hidupku, dan itu kau."
Spontan Haala berbalik menghadap Daxraj. "Aku tahu kau kesal menerima kenyataan ini, dan aku tidak ingin memaksa. Kau memiliki hak penuh untuk menolak. Tugasku hanya melakukan yang kumampu, dan selebihnya akan kuserahkan pada Tuhan," imbuh Daxraj.
"Aku belum bisa percaya padamu, buku itu, dan ramalan yang kau bicarakan."
Daxraj tersenyum. "Jika ada di posisimu aku pun akan mengatakan hal yang sama. Tapi bisakah kau menjaga dirimu lebih baik lagi?"
Haala enggan merespon pertanyaan Daxraj yang terdengar ambigu. Sampai Daxraj menanggalkan serbannya tiba-tiba, dan mengutarakan maksudnya melalui tindakan. Sebuah ciuman lembut baru saja mendarat di bibir Haala yang menggigil, diiringi dengan sentuhan-sentuhan yang tak kalah lembut. Sentuhan lembut itu seakan sudah diatur untuk menghapus jejak sentuhan kasar Braheim beberapa hari silam.
"Hanya lakukan ini denganku. Karena aku tidak akan meloloskan Braheim Bhaavesh untuk yang kedua kali jika sampai kau mengizinkannya melewati batas lagi."
*FLASHBACK OFF*
Haala memukul kepalanya keras. "Kubilang berhenti. Kenapa dia terus muncul?"
"Siapa?"
Spontan Haala menoleh ke asal suara. "Aku?"
Haala masih diam. "Tidak bisakah kau mengurus luka-lukamu sebelum pergi tidur?"
"Kau, masih hidup?"
"Ya," jawab Daxraj pada Haala.
Haala berlari memeluk Daxraj. "Syukurlah. Terima kasih, Tuhan. Tapi bagaimana bisa? Jadi siapa Daxraj Natesh yang ada di masa ini? Lalu di mana kau selama ini? Dan apa ma--"
__ADS_1
"Balurkan ini pada luka-lukamu terlebih dahulu," sela Daxraj.
Haala mengeratkan pelukannya. "Tidak sampai kau menjawab setidaknya satu pertanyaanku."
"Aku yang ada di masa ini hanyalah halusinasi untuk mengelabui Gaana*," imbuh Daxraj.
*Gaana* makhluk pemakan jiwa-jiwa suci yang tinggal di Hutan Mook*.
"Jadi selama ini kau benar-benar ada di dalam portal itu?" Haala melepas pelukannya karena sebuah portal berlatar pagi hari yang perlahan terbuka tepat di depan matanya.
"Ya."
"Lalu, apa Yang Mulia Raja adalah pemimpin suku pengembara?" tanya Haala ragu.
"Ya."
Haala menggeleng. "Tidak mungkin. Bagaimana bisa? Beliau tidak memiliki kekuatan sepertimu."
"Aku harus pergi."
Haala kembali memeluk Daxraj. "Tidak. Kau harus tetap di sini sampai semua pertanyaanku terjawab. Atau, atau setidaknya beritahu aku bagaimana cara menemuimu?"
Daxraj melepas pelukan Haala. "Saat Gaana melemah."
"Sejak kematianmu Gaana menghilang. Kurasa dia terpaksa keluar dari Hutan Mook karena tidak memiliki kaki tangan yang memberinya makanan lagi."
"Dia tidak akan menghilang selama Braheim Bhaavesh masih memiliki bayangan," sahut Daxraj.
...¤○●¤○●¤○●¤...
Namun pemandangan di kamar tidur Braheim pagi itu terlihat berbeda, karena seorang wanita yang tak lain adalah Putri Gaurika tampak tertidur pulas di ranjang megahnya. Sementara si pemilik ranjang, baru saja keluar dari kamar mandi dengan raut wajah santai. Seperti biasa, Braheim menerima segelas susu dari kepala pengurus istana raja, dan mendengarkan seluruh agendanya dari Murat.
"... Yang terakhir, rapat dengan menteri sosial yang tertunda beberapa hari lalu, Yang Mulia," terang Murat.
"Baiklah."
Murat menoleh ke kamar tidur Braheim. "Haruskah hamba membereskan kekacauan yang dibuat Putri Gaurika, Yang Mulia?"
"Kenapa kau berpikir dia yang membuat kekacauan?"
"Karena Anda tidak bertambah tampan," jawab Murat.
Spontan Braheim tertawa. "Biarkan saja dia bertindak sesukanya."
"Tapi hamba khawatir suatu hari nanti Putri Gaurika akan membuat kekacauan yang lebih besar, Yang Mulia."
Braheim beranjak. "Maka hadapi saja itu nanti."
"Sesuai perintah Anda, Ya--"
KLEK!
__ADS_1
Ucapan Murat terjeda, karena pintu kamar tidur Braheim yang terhubung dengan pintu ruang kerjanya yang tiba-tiba terbuka. Di balik pintu yang terbuka setengah itu terlihat Putri Gaurika tengah berdiri dengan lilitan selimut, melihat ke arah Braheim dengan tatapan marah. Murat yang merasa akan segera terjadi percekcokan sengit itu pun sadar untuk segera balik kanan.
Braheim kembali duduk di kursi kerjanya, menyeruput susu hangat, sambil menanti penjelasan dari Putri Gaurika. Sebab Braheim sama sekali tidak mengingat apapun yang terjadi semalam. Braheim hanya ingat dirinya terbangun dalam kondisi tidak senonoh. Meski tidak merasakan kelegaan layaknya seusai melepas berahi, namun milik Braheim benar-benar ada di sana, di dalam gua nirwana.
"Jangan katakan Anda tidak mengingat apa yang telah kita lakukan, Yang Mulia."
"Sayangnya aku memang tidak ingat," balas Braheim pada Putri Gaurika.
"Anda marah pada Yang Mulia Ratu karena melihat langsung Beliau bercinta dengan pria lain. Lalu hamba yang kebetulan melintas, menjadi pelampiasan kemarahan Anda."
Braheim kembali beranjak. "Lalu kenapa kita tidak bermain catur?"
"Apa?"
Braheim berjalan mendekati Putri Gaurika. "Saat marah aku akan melampiaskannya pada permainan catur. Dan kalau pun aku ingin melampiaskannya pada selain catur, aku akan mendatangi komandan perangku. Bukan kau."
"Jadi Anda tetap menampik meski terbukti sudah menghabiskan malam bersama hamba?"
"Ya. Karena aku memang tidak merasa bertambah tampan," sahut Braheim.
"Hamba tidak menyangka ternyata Anda adalah orang yang seperti ini."
Braheim menghentikan langkahnya tepat di depan Putri Gaurika. "Seperti apa?"
"Seperti baji*gan."
Braheim tersenyum. "Aku sungguh tidak mengingat apapun tentang apa yang kulakukan semalam. Padahal aku masih mengingat dengan baik yang kulakukan satu pekan lalu. Mungkinkah Jyotishee* juga bisa melakukan semacam sihir?"
*Jyostishee* peramal masa depan yang berasal dari wilayah Narak*.
"Yang Mulia!" seru Putri gaurika.
Braheim hanya tersenyum menanggapi Putri Gaurika. Wanita berparas cantik dengan wajah yang sangat lelah itu benar-benar lebih berbahaya dari Ratu Kumari Kandam. Braheim sudah merasakannya, sejak kali pertama dirinya beradu tatap dengan Putri Gaurika. Entah apa yang berbahaya dari wanita bermata polos dan bertubuh kurus itu, Braheim hanya merasa harus selalu siaga dan memasang tameng.
"Aku tidak tahu apa tujuanmu datang ke sini. Tapi biar kuberitahu satu hal jika tujuanmu memang seperti dugaanku. Raja Kumari Kandam dikaruniai kejelian di atas rata-rata, jadi sewa saja pembunuh bayaran."
Kini berganti Putri Gaurika yang hanya tersenyum menanggapi apa yang baru saja dikatakan Braheim. Perlahan senyum Putri Gaurika berubah menjadi tawa mengerikan, sesaat setelah Braheim hilang sepenuhnya dari balik pintu kamar tidur megah itu. Tawa mengerikan Putri Gaurika terhenti saat tidak sengaja melihat lukisan raksasa ayah Braheim yang tergantung di dinding ruangan.
"Tidak. Tidak semua Raja Kumari Kandam dikaruniai kejelian. Ada satu, yang hanya dikaruniai kelihaian berucap omong kosong," gumam Putri Gaurika.
...¤○●¤○●¤○●¤...
PRANG!
Sebuah cermin raksasa pecah menjadi kepingan berukuran sedang, ketika Jihan menghantamnya dengan peti perhiasan. Jihan kesal mendengar desas-desus tentang Putri Gaurika yang akan menjadi selir. Sudah tentu Jihan tidak akan membiarkan itu terjadi. Sebab pria yang diinginkan Jihan saat ini bukan lagi Daxraj Natesh yang sudah menjadi bangkai, melainkan orang nomor satu di Kumari kandam, Braheim Bhaavesh.
Jihan memutar otaknya, mencari cara untuk memulangkan Putri Gaurika ke Kerajaan Narak. Namun apa yang dikatakan Putri Gaurika beberapa waktu lalu mendadak terlintas. Sang putri memiliki dendam kesumat pada Braheim atau Haala. Jihan masih bergulat dengan kebingungannya memilih siapa di antara Braheim dan Haala, hingga rimbun Hutan Mook yang tampak dari kejauhan memberinya sebuah jawaban.
Haala. Ya, Jihan yakin jika dendam Putri Gaurika ditujukan pada Haala. Karena Narak kabarnya menjadi tempat favorit ayah Haala menculik gadis-gadis untuk dijadikan makanan Gaana. Keyakinan buru-buru itu membuat Jihan langsung mengurungkan niatnya. Kini Jihan berharap desas-desus tentang Putri Gaurika yang akan menjadi penghuni harem pertama, tidak berakhir hanya menjadi desas-desus belaka.
"Jika Haala sudah disingkirkan, maka selanjutnya dia yang akan kusingkirkan. Barulah setelahnya aku bisa tenang. Karena mahkota Ratu Kumari Kandam dan Braheim Bhaavesh, akan selamanya menjadi milikku."
__ADS_1