
"Kau melihatnya?"
"Ya, Tuan Putri. Dia memasuki Hutan Mook," balas salah satu pengawal Jihan.
"Apa ada manusia yang bisa berjalan secepat itu? Benar-benar suku yang aneh."
Sebelumnya Jihan memutuskan untuk mengejar Sayee yang berlari ke arah tenggara, tetapi sia-sia saja. Setiap Jihan berjalan selangkah, Sayee seperti berjalan seratus langkah. Jihan sempat meragukan Sayee yang mungkin bukan manusia. Sebab mustahil manusia bisa berjalan secepat itu, pun tidak akan ada manusia yang sudi pergi ke sana, Hutan Mook. Namun entah kenapa keyakinan itu semakin liar, membuat Jihan tanpa sadar sudah berada di mulut pintu Hutan Mook.
"Tuan Putri, hamba tidak melihatnya di mana pun. Haruskah kita kembali? Agaknya pergi lebih jauh akan berbahaya," lontar pengawal Jihan.
"Ya, kau benar. Tapi firasatku tidak mengatakan apa-apa." Jihan memberi kode pada pelayannya untuk membuka tirai jendela. "Hari sudah pagi tapi apa yang dilakukan matahari sialan itu?"
"Putri, sebaiknya kita kembali. Jika wanita itu benar bukan manusia, berada di sini hanya akan mendatangkan masalah lain untuk Anda."
Jihan diam, menimang saran dari pengawalnya. "Baiklah. Kita kembali."
Namun. Suara teriakan seorang wanita yang tiba-tiba menggema memecah kesunyian hutan angker itu membuat langkah kuda jantan berikut sang kusir mendadak dipenuhi keraguan.
"Apakah suara itu datang dari arah tenggara?" Jihan kembali bertanya pada pengawalnya.
"Tidak, Putri. Sebaliknya suara itu datang dari arah timur."
"Maka bergegaslah menuju timur."
"Sesuai perintah Anda, Putri."
Kereta kuda itu pun melanjutkan perjalanannya ke arah timur. Entah apa yang menanti di sana, namun keyakinan sialan yang tak henti mengusik Jihan benar-benar menolak pergi meski sudah dicaci-maki. Suara teriakan wanita yang Jihan harap bukan iblis itu semakin keras terdengar. Kereta kuda itu pun melambat, dan suara teriakan wanita itu berubah menjadi tangis, tangis yang untungnya Jihan kenal. Jihan pun turun dari kereta kudanya, lalu mengikuti arah yang ditunjukkan pengawalnya.
Terlihat Sayee tengah menangisi seorang pria yang tertelungkup tepat di depan portal berlatar siang hari. Ternyata ucapan Sayee bukanlah ucapan tahanan Kumari Kandam yang sudah kehilangan akalnya. Pria berpakaian serupa Daxraj Natesh itu belum membiru, tetapi entah kenapa Sayee menangisinya seolah pria itu telah membiru. Jihan pun memerintahkan pengawalnya untuk segera membawa pria berpakaian serba hitam itu ke istana utara* Kumari Kandam sebelum benar-benar membiru.
Istana utara* atau yang lebih dikenal dengan istana gaduh, merupakan istana yang paling banyak dikunjungi. Karena ada rumah sakit, akademi meramu obat, juga kebun tanaman herbal langka. Tabib Kerajaan juga tinggal di sini sebab selain bertanggung jawab pada para pasien selama dua puluh empat jam, dia juga mengajar di akademi.
"Tidak, Putri. Bukan ke istana utara tetapi ke sana." Sayee menunjuk ke dalam portal.
"Maka bergegaslah ke sana, dasar bodoh." Jihan menarik sebelah kaki pria itu ke dalam portal dengan susah payah. "Kenapa kau hanya berdiam di sana? Kau pikir menangis bisa menyelsaikan masalah? Setidaknya lakukanlah sesuatu meski itu sesuatu yang dilaknat oleh Dewamu."
Sayee tak menjawab, hanya menunjuk-nunjuk Jihan seraya beranjak dari sujudnya. "Bagaimana Anda bisa masuk ke sana?"
"Apa?"
"Tidak sembarang orang bisa masuk ke dalam sana, Putri." Sayee menyentuh portal dan langsung terpental menabrak para pengawal dan pelayan Jihan.
Jihan menyelisik tempat berlatar siang yang mendung itu. "Jangan katakan tempat ini hanyalah jahanam yang dibuat seperti firdaus."
Sayee menggeleng menanggapi Jihan. "Tempat itu adalah tempat tinggal suku kami, Putri. Makhluk yang kotor dan benda-benda peninggalan orang mati tidak akan bisa melewati portal itu dengan cara apapun."
Jihan menunjuk dirinya sendiri. "Dan aku tidak termasuk satu dari dua yang kau sebutkan itu?" Jihan menggeleng. "Bahkan tempat tinggal mereka pun aneh."
"Fakta bahwa Anda bisa melewati portal itu adalah jawabannya, Putri." Sayee kembali mendekati portal. "Putri, maaf jika terus bersikap tidak tahu malu tapi mohon bantuan Anda sekali lagi."
"Kau tidak melihat ini?" Jihan menunjuk perban di tangannya yang mulai dirembesi darah. "Hei kalian, cepat masuk ke sini."
Para pengawal dan pelayan Jihan tampak ragu mendekati portal, dan keraguan itu tidak berakhir menjadi sekadar keraguan. Nasib mereka bahkan lebih buruk dari Sayee. Mereka terpental cukup jauh meski baru ujung jari mereka saja yang menyentuh portal.
"Hah, sialan," imbuh Jihan. "Baiklah cepat katakan apa yang harus kulakukan sebelum iblis kembali merasukiku."
__ADS_1
Sayee mengangguk antusias. "Di sana. Ada tenda berwarna putih. Tolong bawa Wakil Pemimpin ke sana, baringkan beliau di salah satu ranjang, dan tolong ganti pakaian beliau dengan yang baru."
Jihan tak menjawab, hanya menoleh memandangi pria setengah raksasa itu kesal. Sudah bisa dipastikan, darah di tangan kiri Jihan yang dibalut perban itu tidak hanya akan merembes tetapi mengalir deras karena harus menyeret si pria setengah raksasa ke dalam tenda yang jaraknya dua kali lipat dari Kerajaan Sitaaara ke Kerajaan Kumari Kandam. Namun apa boleh buat, Jihan sudah mengiyakan pinta Sayee, dan lagi, iblis yang dibicarakan Jihan tidak akan bisa merasukinya di tempat suci itu.
"Apa? Meramu obat? Aku?"
"Benar, Putri. Anda hanya perlu menumbuknya hingga halus, lalu mencampurnya dengan air hangat dan meminumkannya pada Wakil Pemimpin."
Jihan menghela napas kasar menanggapi Sayee. "Baiklah, sebutkan bahan-bahannya."
" ... Tanaman ini ada di dalam tenda berwarna hijau. Kemudian tanaman ini dan ini ada di tenda berwarna biru, dan tanaman terakhir ada di sekitar pohon maple."
Jihan tak menjawab, hanya menyeka peluh di dahinya seraya berlalu.
"Putri, Tunggu," tambah Sayee ragu. "Itu, pohon maple itu dijaga Balavaan."
"Balavaan?"
"Benar. Singa raksasa peliharaan mendiang Pemimpin. Tapi Anda tidak perlu khawatir, Putri. Balavaan tidak berbahaya pada siapa pun yang berhasil melewati portal ini. An--"
"Cih. Ternyata menyebalkan sekali menjadi orang lurus. Pastikan ini yang terakhir kalinya kau bersikap tidak tahu malu, Sayee." Jihan kembali melanjutkan langkahnya.
...•▪•▪•▪•▪•...
"Keluar dari sana."
Jihan menyeringai menanggapi Murat. "Kenapa tidak kau saja yang masuk ke sini, Kakak?"
Spontan Aswin kembali menahan Murat yang hendak mendekati portal tempat tinggal suku pengembara. Aswin tak tega melihat Penasihat Raja Kumari Kandam itu terpental untuk yang kelima kalinya karena bersikeras menyeret keluar Jihan dari dalam portal. Benar-benar tidak ada seorang pun yang bisa menembus portal itu, baik orang-orang yang dibawa Jihan maupun yang dibawa Murat. Di mana itu mengartikan jika di antara mereka semua hanya Jihan seorang yang bersih dari segala jenis kotoran duniawi.
"Penasihat, tenanglah." Aswin masih menahan Murat.
"Apa katamu? Tenang? Di tengah situasi yang sudah jelas artinya ini? Dia pasti sudah membunuh orang yang berjasa dalam perang kebinasaan seperti yang dikatakan Yang Mulia Braheim."
"Yang Mulia Braheim hanya mengatakan untuk menyelamatkan orang itu, Penasihat. Beliau sama sekali tidak menyebut Tuan Putri Jihan," balas Aswin.
"Dia memang tidak pernah berprasangka baik terhadapku. Padahal kita saudara." Jihan menggeleng-geleng. "Daripada itu, lepaskan dia Aswin. Melihatnya terpental benar-benar menghibur."
"Kau!" seru Murat.
"Penasihat." Aswin semakin mengeratkan kedua tangannya untuk menahan Murat.
"Katakan padaku. Apa kau membunuhnya?"
"Siapa? Orang-orang yang mayatnya kalian temukan di Maan*? Di tempat tinggal Daant*? Atau di Lagaam?"
Maan* merupakan pohon yang memiliki fungsi seperti pengawet. Di zaman pemerintahan Raja Kumari Kandam I, maan banyak dimanfaatkan untuk menyimpan daging hewan saat hari qurban umat muslim.
Daant* buaya yang biasanya menghuni sungai yang masih belum terjamah manusia.
Murat tak menjawab, deru napasnya kian tak beraturan, dan Aswin pun kembali memasang kuda-kuda, bersiap kapan saja untuk menahan Murat.
"Sudah kukatakan aku tidak membunuh mereka yang kalian temukan di Maan atau di tempat tinggal Daant. Itu ulah Sanjeev Rajak. Lalu aku juga tidak membunuh siapa pun di Lagaam. Mereka berubah menjadi gila setelah menenggak Vakr* dan melompat ke jurang. Kenapa itu jadi salahku? Bukankah itu salah mereka sendiri," imbuh Jihan.
Vakr* merupakan ramuan yang bisa membuat mata batin seseorang terbuka.
__ADS_1
"Sialan! Dasar wanita gila! Sudah membunuh sesamamu pun masih tidak punya sedikit rasa bersalah!"
Jihan tak menghiraukan seruan Murat, dan berniat melanjutkan kegiatannya berkeliling tempat tinggal suku pengembara. Namun kedatangan tiba-tiba prajurit Kumari Kandam yang berhasil menangkap Sayee dan dua orang pengawal Jihan membuat Jihan mengurungkan niat. Jihan berbalik mendekati portal, melihat Sayee dan dua pengawalnya yang tengah dipaksa bersimpuh di hadapan Murat. Murat pun menginterogasi mereka, tidak, lebih tepatnya mencari penyangkalan.
"Katakan. Apa dia membunuh orang itu? Maksudku Aryesh Farorz?"
Sayee menggeleng pada Murat. "Tuan Putri malah menyelamatkan beliau."
Spontan Murat menoleh pada Jihan yang kembali menyuguhinya seringai menjengkelkan.
"Berkat Tuan Putri yang memercayai hamba, Wakil Pemimpin masih sempat diselamatkan," tambah Sayee.
"Lalu ke mana kau akan pergi?"
"Mengejar suku hamba," balas Sayee.
"Apa? Maksudmu sukumu ada di luar dan bukan di dalam sana?" Murat menunjuk portal.
Sayee mengangguk, dan lambat laun mulai menangis. "Jika tidak mendapatkan amanah seperti hamba, suku pengembara tidak boleh menginjak bumi untuk keperluan selain mengembara. Jika itu sampai terjadi, maka tidak akan ada lagi suku pengembara."
Semua orang yang mendengar kesaksian Sayee itu kompak membulatkan matanya.
"Suku pengembara tidak boleh musnah. Jika kami musnah, siapa lagi yang bisa membantu Raja Kumari Kandam meratakan keadilannya? Tolong lepaskan hamba. Hamba harus segera menemui suku hamba dan menghentikan mereka."
"Tunggu. Aku tidak mengerti. Menghentikan? Menghentikan dari apa? Memang apa yang akan mereka lakukan?"
Tangis Sayee kian menjadi, dan butuh waktu lama untuknya menjawab tanya Murat. "Mereka akan membunuh Pemimpin kami."
Lagi. Semua orang yang kini tengah mendengar kesaksian Sayee, lagi-lagi kompak membulatkan matanya.
"Hamba bisa merasakannya. Mereka sudah ada di dalam sana." Sayee menunjuk Kerajaan Kumari Kandam.
Spontan semua orang mengikuti ke mana arah telunjuk gemetar itu menunjuk, dan segera Murat memerintahkan prajurit untuk mengirim tanda pada Braheim. Kembang api berwarna oranye itu melesat ke langit fajar yang murung, dan tak lama setelahnya terdengar bunyi lonceng dari kejauhan, menandakan jika sinyal itu berhasil ditangkap oleh prajurit Kumari Kandam yang ada di dalam kerajaan. Kemudian Murat, Aswin dan semua prajurit langsung melompat ke atas pelana kuda masing-masing.
"Tetap di sana."
"Dengan senang hati," balas Jihan seraya berjalan menjauhi portal.
"Dan lakukan sesuatu pada lukamu agar tidak mengganggu pandanganku."
Spontan Jihan menghentikan langkahnya, lalu menoleh memandangi punggung sang kakak yang semakin mengecil. "Cih."
...•▪•▪•▪•▪•...
Tanda oranye, adalah tanda yang mengartikan jika musuh berhasil masuk ke dalam kerajaan. Segera setelah mendapat tanda itu, Braheim langsung memerintahkan untuk mengumpulkan semua penghuni Kerajaan Kumari Kandam di aula. Braheim lalu menempatkan prajurit di setiap pintu masuk, sehingga mustahil untuk bisa meloloskan diri meski itu hanya seekor semut.
"Ada musuh di antara kita."
Hening. Suara penuh penekanan berikut tatapan menelanjangi itu benar-benar memiliki kuasa merangkul keheningan. Semua orang yang berdesakan di aula kompak menahan napas. Jika pemimpin suku pengembara adalah yang paling ditakuti para iblis, maka Raja Kumari Kandam adalah yang paling ditakuti para manusia. Dan manusia sinting mana yang berani menjadi musuh sang raja?
"Jadi barang siapa yang tidak memiliki identitas, temui aku di panggung Tamaasha*," imbuh Braheim seraya berlalu.
Tamaasha* merupakan alat penggal raksasa yang sering digunakan untuk menghukum para penjahat.
Sementara Braheim sibuk mengancam, sosok yang mengintipnya dari kejauhan itu menyeringai menikmati ketololan Braheim. Ternyata musuh yang dicari-cari Braheim sudah ada di istana baru, tepatnya di depan pintu kamar tidur Vinder. Setelah puas memandangi kilau belatinya, sosok itu pun masuk ke dalam kamar tidur Vinder, melangkahi mayat para prajurit penjaga yang terkapar di lantai penuh darah.
__ADS_1
KLEK