
Kepala Penyidik dan Sayee langsung beranjak dari duduknya masing-masing dan membungkuk memberi salam pada Braheim yang baru saja memasuki ruang interogasi bersama Haala. Braheim meminta Kepala Penyidik untuk tidak memedulikannya, dan interogasi pun dilanjutkan. Dilihat dari banyaknya sisa lilin di meja, interogasi itu jelas sudah berlangsung lama. Tapi entah bagaimana kertas laporan interogasi Kepala Penyidik masih kosong.
"Silakan lanjutkan."
Sayee mengangguk menanggapi Kepala Penyidik. "Kejadian seperti hari ini pernah terjadi, dulu sekali. Sebuah belati menancap di jantung penerus Pemimpin kami di usianya yang masih sangat kecil. Dan hambalah, hambalah orang pertama yang melihat pemandangan mengerikan itu."
Braheim menggenggam tangan Haala, membuat Haala akhirnya berhenti meremas pakaiannya sendiri.
"Apa alasan mereka melakukan itu?"
"Tidak ada yang tahu alasan pastinya. Sampai hari ini pun kami hanya menduga. Tapi tatapan itu, hamba ingat betul tatapan mereka hari itu. Itu adalah tatapan berkabung yang tak wajar," jawab Sayee.
"Maksudmu berkabung pada pemimpin suku pengembara? Bukankah kau berkata sebelumnya jika tradisinya memang begitu? Saat penerus pemimpin suku pengembara lahir dia akan mewariskan kekuatannya dan kemudian hidup abadinya akan berakhir."
"Benar. Tapi hanya jika mereka pergi dengan pamit. Karena amanah merekalah yang paling dinanti."
Kepala Penyidik bersandar di punggung kursi, mencerna kata-kata Sayee yang kian rumit seiring bertambahnya menit.
"Amanah itu seperti hadiah untuk kami. Karena melalui amanah itu, satu permohonan kami akan terkabul."
"Aku tidak mengerti. Bisakah kau mengatakannya dengan bahasa yang lebih mudah?"
Sayee diam, bukan untuk menuruti pinta Kepala Penyidik melainkan untuk mengenang lebih dalam. "Umumnya setelah berhasil mengajarkan cara mengendalikan kekuatan pada penerusnya, Pemimpin kami akan jatuh sakit. Saat itulah beliau akan memberikan amanah. Biasanya amanah itu berkaitan dengan menjaga tradisi leluhur ...."
Kepala Penyidik mengangguk-angguk, mulai menangkap perkataan Sayee, pun mulai menggerakkan penanya.
" ... Barang siapa yang menjalankan amanah, maka satu permohonannya akan dikabulkan. Dan itu benar-benar terkabul tak lama setelah Pemimpin kami wafat," imbuh Sayee.
"Jadi mereka melakukan itu karena marah tidak sempat membuat permohonan?"
"Entahlah. Bisa juga karena tidak bisa mengikhlaskan mendiang Pemimpin yang sempurna. Benar. Hamba yang sudah hidup selama empat generasi pun setuju. Beliau memang sempurna dalam segala aspek, sangat jauh jika dibandingkan dengan Pemimpin kami terdahulu."
Kepala Penyidik mengangguk-angguk. "Aku mulai mengerti alasan mereka melakukan penyerangan. Lalu apa yang akan terjadi pada mereka?"
"Apalagi yang bisa terjadi pada peliharaan yang mengincar piring Tuannya?"
Gerak pena Kepala Penyidik terhenti, bukan karena kembali kesulitan mencerna apa yang Sayee katakan. Justru sebaliknya, paham betul maksud perkataan Sayee. Lambat laun tangis Sayee mulai memenuhi ruangan berukuran sempit itu. Tidak akan ada yang didapatkan dari interogasi yang diwarnai air mata. Braheim sudah sangat berpengalaman dengan itu, dan meminta Kepala Penyidik melanjutkan interogasinya esok hari.
KLEK
__ADS_1
Haala memandangi pintu ruang interogasi cukup lama, hingga Braheim kembali menggenggam tangannya dan mengatakan padanya untuk membiarkan Sayee menenangkan diri. Haala setuju, dan berlalu setelah membalas genggaman tangan Braheim. Sementara itu di dalam ruang interogasi, Sayee justru kesulitan menenangkan diri. Karena kenangan lain yang tak dipancingnya ikut naik ke permukaan, satu per satu.
*FLASHBACK ON*
"Sayee, aku merasa kejadian hari itu akan terulang."
"Mungkinkah yang Anda maksud?"
Aryesh berbalik, mengangguk pada Sayee.
"Ya Tuhan." Sayee mulai menangis.
"Kita harus siap, Sayee. Sama seperti hari itu, hanya kita dan Pemimpin yang akan tersisa."
Sayee menggeleng-geleng, tangisnya semakin menjadi. "Hamba tidak sanggup melihatnya, Wakil Pemimpin. Bagaimana bisa hamba kembali melihat semua itu? Lebih baik hamba menjadi buta."
"Tapi itulah pilihan mereka, Sayee."
Sayee beranjak dari simpuhnya. "Tidak adakah cara untuk menyelamatkan mereka, Wakil Pemimpin? Pasti ada, bukan? Semua masalah diciptakan dengan satu jalan ke--"
"Apakah cahaya dari dua orang akan cukup untuk menerangi ratusan orang?" sela Aryesh. "Aku akan memantau mereka sedikit lagi. Kuharap ini hanya perasaanku saja. Pergilah, Sayee."
"Bagaimama mungkin ha--"
*FLASHBACK OFF*
"Tolong maafkan hamba, Wakil Pemimpin. Demi Tuhan hamba tidak bisa melihat hari itu kembali terulang." Sayee mengeluarkan belatinya.
...•▪•▪•▪•▪•...
Terlihat Kepala Penyidik keluar dari ruang kerja Braheim dengan wajah penuh tanda tanya. Jelas saja. Apapun yang menyangkut suku pengembara memang sangat rumit, melebihi konflik antara Kumari Kandam dan kubu kontra. Kepala Penyidik bergegas kembali ke istana tenggara*, untuk sejenak mendinginkan kepala. Namun di tengah perjalanan, Menteri Pertahanan, Ghanzafer El-Amin, tiba-tiba muncul dan memaksanya memperlambat langkah.
Istana tenggara* sering disebut istana ratu karena seluruh tugas harian ratu berlangsung di sini. Selain itu, istana tenggara juga menjadi tempat tinggal orang-orang dengan status tinggi seperti penasihat raja, menteri, komandan perang, kepala penyidik, serta tamu-tamu dari luar Kumari Kandam.
"Kau tampak kacau."
"Karena semuanya memang kacau." Kepala Penyidik menerima cerutu dari Ghanzafer.
"Berbagilah denganku."
__ADS_1
Kepala Penyidik mendekatkan cerutunya pada korek api yang baru saja disulut Ghanzafer. "Ini bukan sesuatu yang bisa dibagi ke sembarang orang karena dampaknya sama seperti memprovokasi kobaran api dengan Aasaan*."
Aasaan* getah pohon yang mudah terbakar.
"Wah, itu perumpamaan yang sangat gawat. Kalau begitu jangan ragu untuk meminta bantuan padaku jika kelak kau berada dalam kesulitan. Kau tahu aku sudah menganggapmu seperti saudara kandungku sendiri, bukan?"
Kepala Penyidik menoleh pada Ghanzafer. "Sepertinya aku membutuhkan bantuan itu sekarang."
"Oh, benarkah? Maka cepat katakan padaku. Akan kuusahakan semampuku."
"Kau memiliki teman seorang Mausam*, bukan? Kira-kira berapa usianya sekarang?"
Mausam* adalah pengendali cuaca dan musim.
"Kenapa tiba-tiba?" Ghanzafer berbalik melempar tanya.
"Aku sedang mengira-ngira usia Sayee. Dia berkata sudah hidup selama empat generasi. Aku berpikir mungkin saja teman Mausammu itu sebaya dengannya. Karena terakhir kali melihatnya di festival tahun lalu, dia sama sekali tidak menua. Jika terbukti mereka sebaya, itu artinya temanmu juga hidup di masa yang diceritakan Sayee, dan aku jadi bisa membuktikan benar tidaknya ucapannya."
"Begitu rupanya. Aku juga tidak tahu pasti berapa usia temanku itu. Bagaimana jika kuantar saja kau untuk menanyakannya langsung?"
Kepala Penyidik menyesap cerutunya cepat. "Apa tidak masalah?"
"Sekali pun itu akan menjadi masalah, sudah kukatakan akan membantumu, bukan? Jadi ayo bergegas." Ghanzafer merangkul Kepala Penyidik. "Tapi bukankah aku harus mengetahui hasil interogasi? Maksudku, untuk berjaga-jaga jika kelak temanku bertanya. Ya, meski dia pendiam tapi tak jarang rasa penasarannya cukup menyulitkanku."
"Begitu. Ya, baiklah. Akan kuceritakan dalam perjalanan."
Kepala Penyidik pun menceritakan hasil interogasinya dengan Sayee. Pria yang gemar mengenakan kopiah putih itu sama sekali tidak menyadari jika perbuatannya hari ini akan membuat banyak korban tak berdosa berjatuhan di kemudian hari. Sungguh, Kepala Penyidik itu pun menganggap Ghanzafer El-Amin layaknya saudara kandungnya sendiri. Benar-benar saudara kandung dalam artian yang sebenarnya.
Keduanya pun tiba di sebuah pondok di tepi danau. Ghanzafer langsung memperkenalkan Kepala Penyidik pada temannya yang seorang Mausam, menjelaskan maksud kedatangannya, dan memberi waktu untuk mereka bercakap empat mata. Sementara Ghanzafer sendiri, duduk di tepi danau, menghisap cerutunya sambil berpikir, Jika suku pengembara saja menganggap Devraaj Narvinder sebagai ancaman, lalu kenapa yang lain tidak?
"Siapa sebenarnya yang tersesat di sini?" gumam Ghanzafer. "Siapa pun itu yang pasti bukan aku." Ghanzafer memberi kode pada bawahannya untuk mendekat.
"Beri hamba perintah, Tuanku." Seorang pria bersimpuh di samping Ghanzafer.
"Cari tempat persembunyian suku pengembara. Kudengar mereka ada di sekitar Kerajaan Kumari Kandam, jadi fokuskan pencarian di sana. Geledah semua penginapan dan rumah-rumah penduduk. Geledah semua tempat dan temukan setidaknya satu dari mereka."
"Sesuai perintah Anda, Tuanku."
"Lalu sampaikanlah pada mereka jika aku, Ghanzafer El-Amin, ada di pihak mereka dan siap memberi bantuan untuk menyukseskan misi mereka dalam menyingkirkan ancaman."
__ADS_1
Seringai Ghanzafer semakin terlihat jelas saat kepulan tebal cerutu itu hilang tertiup angin.
"Sesuai perintah Anda, Tuanku."