TEARS OF KUMARI KANDAM

TEARS OF KUMARI KANDAM
CHAPTER 56


__ADS_3

"Ah, kau menemukanku."


Spontan Haala menarik pedangnya, diikuti para prajurit. "Biar kutebak. Dari halaman seribu sembilan puluh, bukan?" imbuh Gaana."


"Komandan, kami siap untuk menyerang."


Haala menggeleng menanggapi salah satu prajurit. "Tahan."


"Buku yang takut pada sinar matahari itu, aku mengingat semua yang tertulis di sana. Mengagumkan, bukan? Aku yakin kau kesulitan mencernanya. Mau kubantu?"


...Sebagian menganggapnya kutukan, tetapi sebagian yang lain, menganggapnya anugerah. Apakah tidak bisa mati adalah benar sebuah anugerah? Mereka yang membutuhkan udara untuk bernapas, sudah pasti milik Tuhan. Jika sebaliknya?...


...Pecundang di malam Shukravaar adalah milik iblis. Dia membutuhkan udara hanya untuk dicemari. Dia tidak mati meski sudah melewati kerongkongannya. Dia menyapa ajal sesaat layaknya bayi yang terkejut karena lolongan serigala....


...Meski begitu dia tetap diciptakan oleh Tuhan. Tuhan berbelas kasih memberikan persinggahan terakhir untuknya. Kelak, ketika dendamnya terbalaskan, Tuhan akan membukakan gerbang neraka, dan menjadikannya sumbu hingga kiamat datang....


Gaana masih melanjutkan, "Bagiku tidak bisa mati adalah benar sebuah anugerah. Itulah kenapa aku tetap baik-baik saja meski tersangkut di kerongkongan ikan sialan itu. Aku malah memakan jiwanya sedikit demi sedikit tanpa sepengetahuannya. Pasti tidak ada yang menyangkanya."


"Apa?"


"Ayahmu tidak memberitahumu? Jika jiwa ikan sialan itu setara dengan tujuh ribu jiwa suci? Ah, mungkinkah kali ini dia mati sungguhan?" Gaana balik bertanya pada Haala.


"Komandan, kita harus segera menyerangnya."


"Hei, jangan terprovokasi. Dia bisa saja berbohong karena takut. Bukankah begitu, Ko--"


Tawa geli Gaana seketika memotong bisik-bisik sepuluh prajurit pilihan dari Kumari Kandam itu. Perlahan Gaana mengangkat sebelah tangannya, dan bersamaan dengan gerakan tangannya yang indah, bangkai Ghinauna* keluar dari dalam danau, melesat ke udara selama sekian detik, dan kemudian jatuh ke tanah setelah menumbangkan sepuluh buah pohon berukuran raksasa.


Ghinauna* ikan raksasa penjaga Danau Baadal.

__ADS_1


"Biar kuberi tahu satu hal. Jika kalian berhadapan dengan wujudku yang indah seperti sekarang, tidak ada yang bisa membuatku terluka selain pemimpin suku pe--"


"Berlutut. Lalu angkat kedua tanganmu ke udara," sela Haala pada Gaana.


Gaana kembali tertawa, semakin geli. "Bukan main memang keberanian wanita milik dua pria terkuat di bumi."


"Aku bukan milik siapa pun."


Gaana masih tertawa. "Kau tahu? Aku ingin sekali mencabik-cabikmu. Tatapan yang sangat mirip dengan bawahanku yang membelot itu, aku tidak ingin menatapnya lagi. Tapi aku harus menahan diri. Karena kau adalah pion balas dendamku. Ka--"


Spontan Gaana menceburkan dirinya ke dalam danau, saat ratusan panah tiba-tiba dilepaskan ke arahnya. Itu adalah panah milik prajurit Chamakaadar yang langsung bergerak menuju tenggara setelah mendengar suara dentuman. Haala berlari menuju danau, berniat mengejar Gaana, diikuti prajuritnya serta prajurit Chamakadaar. Namun tentu saja, Gaana lagi-lagi menghilang bak ditelan bumi.


"Kenapa dia kabur?"


"Tentu saja karena takut pada Dhabba*. Kami sudah melumuri panah kami dengan itu."


Dhabba* senjata baru buatan Kumari Kandam yang terbukti bisa melemahkan Gaana. Dhabba terbuat dari campuran garam dan air suci. Reaksi yang akan muncul jika Dhabba mengenai bagian tubuh Gaana adalah rasa perih yang perlahan berubah menjadi rasa seperti terbakar.


"Salam. Perkenalkan aku ma--"


"Kau mengacaukan semuanya," sela Haala pada komandan perang Chamakadaar.


"Maaf? Sepertinya siapa pun yang mempunyai mata tahu jika aku baru saja menyelamatkanmu dan prajuritmu."


Haala tak menjawab. Hanya menunjuk ke dalam hutan. Komandan perang Chamakadaar pun tak menjawab, hanya bergegas. Namun di tengah perjalanan, langkah komandan perang berusia belia itu terhenti. Bagaimana tidak? Seekor ikan dengan ukuran berkali lipat dari kapal pesiar menghalangi jalannya. Ikan yang sudah hidup bahkan sebelum Chamakadaar berdiri itu mati mengenaskan.


"Ya Dewa. Siapa yang berani melakukan ini pada makhluk paling suci di Chamakadaar?"


"Gaana."

__ADS_1


Komandan perang Chamakadaar menoleh pada Haala. "Gaana membunuhnya karena jiwanya setara dengan tujuh ribu jiwa suci."


"Apa?"


"Aku juga baru mengetahuinya hari ini," jawab Haala.


"Kalau begitu tidak ada waktu lagi. Kita harus menyelamatkan Namakeen* yang tersisa."


Namakeen* sejenis Ghinauna yang mendiami salah satu danau keramat di Benua Chamakadaar.


Haala mengangguk menanggapi rekan seprofesinya itu. Raja pertama yang mendengar kabar itu tentu saja raja dari Benua Chamakadaar, Arshaq Zamir. Raja Arshaq tampak sangat murka, tapi di luar dugaan reaksi murkanya hanya sebatas mengepalkan tangannya yang kekar. Dan yang lebih di luar dugaan, Raja Arshaq tiba-tiba beranjak dari singgasananya, sembari melepaskan mahkotanya.


"Ya Dewa. Kiamat sudah," gumam komandan perang Chamakadaar.


Ya. Kiamat. Arti dari seorang raja yang melepas mahkotanya memang beragam. Bisa karena sakit kepala, sedang dalam penyamaran, atau sedang ingin melepaskan berahi. Tetapi di sini, di delapan benua termasuk Kumari Kandam, arti dari seorang raja yang melepas mahkotanya hanya satu. Sang raja siap bergabung dengan pasukan tempurnya untuk berperang sampai titik darah penghabisan.


"Aku, Arshaq Zamir, berdiri di sini bukan lagi sebagai raja tetapi prajurit Chamakadaar. Aku bersumpah, akan terus mengangkat pedang sampai malapetaka berlutut memohon belas kasihku. Demi Chamakadaar."


Dan tidak hanya Raja dari Chamakadaar. Raja-raja dari benua lain pun ikut melakukan hal yang sama, seolah mereka memiliki isi kepala yang sama. Kabar pecahnya perang itu datang bergantian mendatangi para raja di tujuh benua tersisa. Raja dari Garjan. Raja dari Shusk. Raja dari Padachihn. Raja dari Lagaam. Raja dari Jvaala. Raja dari Hathelee, dan Raja dari Kumari Kandam.


" ... berdiri di sini bukan lagi sebagai raja tetapi prajurit Garjan. Aku bersumpah, akan terus mengangkat pedang sampai malapetaka berlutut memohon belas kasihku. Demi Garjan."


" ... berdiri di sini bukan lagi sebagai raja tetapi prajurit Shusk. Aku bersumpah, akan terus mengangkat pedang sampai malapetaka berlutut memohon belas kasihku. Demi Shusk."


" ... berdiri di sini bukan lagi sebagai raja tetapi prajurit Padachihn. Aku bersumpah, akan terus mengangkat pedang sampai malapetaka berlutut memohon belas kasihku. Demi Padachihn."


" ... berdiri di sini bukan lagi sebagai raja tetapi prajurit Lagaam. Aku bersumpah, akan terus mengangkat pedang sampai malapetaka berlutut memohon belas kasihku. Demi Lagaam."


" ... berdiri di sini bukan lagi sebagai raja tetapi prajurit Jvaala. Aku bersumpah, akan terus mengangkat pedang sampai malapetaka berlutut memohon belas kasihku. Demi Jvaala."

__ADS_1


" ... berdiri di sini bukan lagi sebagai raja tetapi prajurit Hathelee. Aku bersumpah, akan terus mengangkat pedang sampai malapetaka berlutut memohon belas kasihku. Demi Hathelee.


"Aku, Braheim Bhaavesh, berdiri di sini bukan lagi sebagai raja tetapi prajurit Kumari Kandam. Aku bersumpah, akan terus mengangkat pedang sampai malapetaka berlutut memohon belas kasihku. Demi Kumari Kandam."


__ADS_2