
"Apa Anda baik-baik saja, Yang Mulia?"
Braheim menoleh pada Firdoos Shyamali, penasihat raja sementara. "Apa aku perlu menjawabnya?"
"Mohon ampuni kekurangan hamba, Yang Mulia."
Braheim tak menjawab, hanya meregangkan tubuhnya yang terlilit zirah. Zirah mengilap dengan warna merah menyala itu resmi menjadi pakaian sehari-hari Braheim sejak Gaana diketahui masih hidup. Dari sekian banyak pakaian yang dikenakannya selama menjadi raja, Braheim paling membenci Sherwani karena tak jarang pakaian itu membuatnya hampir terjungkal.
...Sherwani...
Namun sungguh, Braheim sangat ingin memakai Sherwani sekarang. Tak apa meski bayarannya harus terjungkal berkali-kali. Zirah tidak hanya membuat Braheim kesulitan bergerak dan ke kamar kecil, tetapi juga menggaruk anggota tubuhnya yang gatal. Braheim pun hanya bisa mengumpat dalam hati, sembari tetap mempertahankan fokusnya pada kegiatan hari itu.
" ... Utamakan yang paling dibutuhkan seperti obat-obatan dan selimut. Akan repot jika sampai ada yang jatuh sakit di situasi seperti sekarang."
"Sesuai perintah Anda, Yang Mulia." Menteri keuangan membungkuk pada Braheim.
"Selanjutnya, biarkan para lalat itu masuk."
Lalat. Julukan yang tepat memang, untuk yang gemar menghilangkan nafsu makan seperti lalat, seperti utusan pendamping para selir. Braheim menyandarkan tubuhnya ke punggung kursi, seraya menyunggingkan senyum formalitas. Empat utusan pendamping dari Selir Ghaaliya, Selir Hameeda, Selir Jasoda, dan Selir Praveena itu membalas senyuman Braheim dengan salam khas Kumari Kandam.
"Panjang umur, dan terbekatilah selalu, matahari Kumari Kandam."
Braheim mengangguk. "Silakan. Langsung saja."
"Baik, Yang Mulia. Hamba baru saja mendapat kabar jika Garjan sudah tidak lagi bekerja sama dalam perang ini. Oleh karenanya, raja hamba meminta harta milik Garjan, yakni Selir Ghaaliya untuk dipulangkan. Begitu juga dengan yang lain."
Braheim mengangguk-angguk menanggapi utusan pendamping Selir Ghaaliya. "Jika aku menolak?"
"Itu bukan keputusan yang bijak, Yang Mulia. Meminta kembali harta sama dengan memutus semua kesepakatan yang sudah dibuat sebelumnya. Anda tidak bisa menolak karena konsekuensinya adalah turun dari tahta. Sepertinya Anda mengetahui itu lebih baik dari hamba yang masih belajar ini."
__ADS_1
"Ah, benar juga. Aku melupakan bagian konsekuensi," balas Braheim pada utusan pendamping Selir Jasoda.
Utusan pendamping Selir Hameeda membungkuk, diikuti utusan pendamping yang lain. "Karena Anda sudah mengingatnya, mohon segera proses surat pencabutan status untuk para selir dan juga surat izin untuk keluar dari Kumari Kandam, Yang Mulia."
"Tentu saja itu perkara mudah. Aku bisa membuatnya sekarang juga."
"Terima kasih, Ya--"
"Tapi tahanan yang masa hukumannya sedang ditangguhkan, tidak bisa meninggalkan Kumari Kandam," sela Braheim pada utusan pendamping Selir Praveena.
Para utusan pendamping terkejut. Mereka melupakan hukuman para selir yang tempo hari bersikap kurang ajar pada Haala, karena terlalu lelah memikirkan iming-iming. Hingga kabar tentang raja-raja mereka yang berselisih dengan Braheim disampaikan burung pembawa pesan. Mereka yang merasa menang telak itu pun bergegas menghadap Braheim, dengan tanpa membawa isi kepala.
Braheim masih melanjutkan, "Aku sudah menyetujui tuntutan dari Komandan Haala. Jadi kapan pun itu, nama orang-orang yang dituntutnya akan diseret ke pengadilan."
"Tapi, Yang Mulia. Raja kami memberi perintah seperti itu."
"Maka katakanlah pada mereka yang sebenarnya," sahut Braheim pada utusan pendamping Selir Ghaaliya.
Para utusan pendamping diam, hanya saling melirik ke arah satu sama lain. "Ah. Mungkinkah mereka belum mengetahuinya? Jika harta mereka itu akan diadili atas sikap tidak sopannya pada orang yang statusnya lebih tinggi?"
"Selanjutnya adalah surat dari Komandan Haala, Yang Mulia."
Braheim mengatur napasnya. "Bacakan."
...Panjang umur, dan terbekatilah selalu, matahari Kumari Kandam. Hamba ingin memberi kabar jika prajurit kita yang dikirim ke Garjan, Hathelee, Jvaala, dan Padachihn meminta untuk dipulangkan. Mereka mengaku tidak lagi diperlakukan dengan baik. Apakah terjadi sesuatu antara Kumari Kandam dan empat benua? Tolong segera kirim balasan, Yang Mulia. Salam....
"Katakan padanya untuk mempertahankan prajurit kita yang ada di empat benua. Kita masih belum tahu benua mana yang akan menjadi target Gaana selanjutnya."
"Sesuai perintah Anda, Yang Mulia," jawab Firdoos pada Braheim.
"Selanjutnya."
__ADS_1
"Selanjutnya adalah Penasihat Murat, Yang Mulia."
Murat langsung berlari, bahkan meski Firdoos baru membuka sedikit sekali pintu ruang kerja itu. Braheim yang peka dengan sikap buru-buru Murat itu pun menjeda salam Murat, dan meminta Murat langsung menyampaikan keperluannya dan pergi beristirahat. Murat pun langsung meminta penjelasan lebih rinci tentang isi surat yang dikirimkan Braheim satu bulan lalu.
" ... Gaana masih hidup. Kita mengirim Gandh* dan sepuluh ribu prajurit ke tujuh benua sebagai bentuk kerja sama. Begitu pun mereka. Lalu rakyat dievakuasi ke tempat aman...."
Gandh* merupakan senjata baru yang baru-baru ini dibuat Kumari Kandam, berupa campuran garam dan air suci. Garam diketahui ampuh melemahkan Gaana yang setengah lintah, dan air suci memang sudah digunakan untuk mengusir iblis sejak ratusan tahun silam. Reaksi yang akan muncul jika Gandh mengenai tubuh Gaana adalah rasa perih yang perlahan berubah menjadi rasa seperti terbakar.
"Lalu bagaimana dengan Yang Mulia Ratu, Yang Mulia? Bukankah beliau juga harus segera dievakuasi ke tempat aman?" tanya Murat.
Braheim menggeleng. "Rakyat akan takut. Lalu besar kemungkinan dia akan memberi tahu Gaana tempat itu."
"Tapi setidaknya Yang Mulia Ratu tetap harus dievakuasi ke tempat aman yang lain, Yang Mulia. Bagaimana jika terjadi sesuatu yang buruk pada beliau? Seperti didatangi Gaana?"
"Seorang tuan mendatangi bawahan itu hal yang lumrah."
"Tapi, Ya--"
"Cukup, Murat Iskender. Jika memang kau sekhawatir itu pada Ratu, maka temani dia. Bawalah sepuluh ribu prajurit bersamamu," sela Braheim.
"Hamba akan memikirkannya, Yang Mulia. Tidak ada lagi yang ingin hamba sampaikan. Hamba mohon undur diri."
Braheim hanya mengangguk. "Selanjutnya."
"Selanjutnya Anda bisa beristirahat, Yang Mulia."
Braheim menoleh pada Firdoos. "Kurasa belum bisa."
"Maaf?"
Braheim menunjuk wajah Firdoos. "Itu wajah yang ingin menyampaikan sesuatu. Sampaikanlah. Dan panggil pelayan untuk membantuku melepas zirah sialan ini."
__ADS_1
"Itu. Jika anda mengizinkan, hamba ingin menggantikan Penasihat Murat, Yang Mulia."
Braheim diam, sambil menatap Firdoos cukup lama. "Alasannya?" jawab Braheim akhirnya.