
Terlihat Haala tengah sibuk melatih pasukan pemanah meski dengan perut yang semakin membesar. Apa boleh buat. Sebab sampai hari ini Haala masih belum menemukan pengganti mendiang tangan kanannya, Aswin Nadeem. Bahkan jika sekarang Aswin berdiri di samping Haala sekali pun, tidak akan ada yang bisa memberikan pelatihan sesempurna penerus sumpah setia Yusef Bahadir. Jadi mau tak mau Haala pun harus bertahan memikul dua tanggung jawab besar seorang diri.
"Sampai kapan Anda akan meminta tambahan waktu untuk melakukan tindakan tidak terpuji seperti ini, Yang Mulia?"
"Aku tidak akan melakukannya jika memiliki pilihan lain, Murat Iskender," balas Braheim.
"Tentu saja Anda memiliki pilihan lain, Yang Mulia."
Braheim menghela napas. "Benarkah? Jika berada di posisi yang sama denganku kau akan memilih menemuinya alih-alih mengintip?"
"Benar, Yang Mulia."
Braheim kembali menghela napas. "Itu karena kau tidak merasakan tatapan dinginnya yang menusuk."
"Wajar saja Yang Mulia Ratu memberikan tatapan seperti itu. Siapa pun pasti akan marah jika mengetahui sesuatu yang menyangkut dirinya bukan dari orang yang paling tahu."
"Memang jika berada di posisi yang sama denganku kau akan memberitahunya masalah tempo hari? Tentang pelayan serakah yang mencuri sisa sarapannya? Aku hanya memikirkan akan sesedih apa dia nantinya."
"Pertama, hamba tidak akan mau berada di posisi yang sama dengan Anda, Yang Mulia. Dan terakhir, Yang Mulia Ratu bukan wanita yang dibesarkan di dalam sangkar emas dengan dihujani kelembutan tetapi wanita yang ditempa tangis darah untuk memenangkan setiap pertempuran. Jadi alih-alih menangisi daun yang gugur, beliau malah akan menusuk daun itu dengan pedangnya."
Braheim menoleh pada Murat. "Apa itu puisi?"
Murat berdeham berulang kali sebelum menjawab Braheim. "Sebaiknya Anda bergegas menemui Yang Mulia Ratu sebelum ruang rapat berubah menjadi ruang makan siang, Yang Mulia."
Braheim diam, meski begitu dirinya beranjak dari balik tembok dan mengikuti saran Murat. Langkah Braheim sangat berat, seolah yang kini sedang dipijaknya adalah hamparan paku berkarat. Dan entah kenapa jarak yang memisahkannya dengan Haala terasa sangat jauh, padahal itu bisa dijangkau hanya dengan lima belas langkah. Keanehan yang dirasakan Braheim sudah pasti karena rasa takut yang teramat. Ya, Braheim takut beradu tatap dengan Haala.
"Panjang umur dan terberkatilah selalu, bulan Kumari Kandam."
Haala menoleh ke asal suara. "Kau tidak seharusnya memberi salam."
"Apa? Kau? Kau baru saja memanggilku ka–"
"Kau. Ya. Kau tidak salah dengar," sela Haala pada Braheim.
"Ah, ya. Itu bukan masalah." Braheim berdeham, "Daripada itu, aku ingin meminta maaf. Maaf karena membuatmu mengetahui insiden tempo hari dari orang lain."
Haala tak merespon, bahkan sekadar berkedip pun tidak.
Braheim berdeham lagi, "Aku hanya tidak ingin itu menjadi beban untukmu dan memengaruhi kondisi kesehatanmu serta anak kita de–"
"Bisakah kau minggir?"
"Apa? Di–"
"Kau menghalangiku memantau mereka," potong Haala lagi.
Namun tentu saja Braheim bergeming. Braheim tahu betul Haala marah, tetapi tak menyangka akan semarah itu. Sudah tiga bulan sejak insiden si pelayan serakah berlalu, namun amarah Haala masih setia mengekor. Perlahan Haala beranjak dari bangkai pohon raksasa yang biasa dijadikan tempat duduk itu, lalu menatap Braheim dengan tatapan yang masih dingin, dan berjalan menjauh dari Braheim. Braheim pun menyusul, tetapi segera menahan langkah keduanya.
Bagaimana tidak? Haala tiba-tiba saja mengarahkan panahnya tepat ke jantung Braheim. Sungguh, penguasa Kumari Kandam itu benar-benar akan langsung mati di tempat meski Haala sengaja membuat tembakannya meleset. Haala bersungguh-sungguh. Terbukti dari pengawal bayangan Braheim yang kini menampakkan diri. Tidak ada alasan bagi mereka melakukan itu jika nyawa tuannya tidak sedang dalam bahaya, bukan?
"Aku akan minggir. Ya. Bukankah itu yang kau inginkan? Sekarang juga aku akan minggir. Jadi turunkan itu, istriku."
...•▪•▪•▪•▪•...
__ADS_1
Hubungan Braheim dan Haala masih setegang kemarin. Seperti cacing yang langsung bersembunyi ketika melihat bayangan burung murai di tanah, begitulah gambaran pas kondisi Braheim dan Haala. Dan tentu saja Braheim yang menjadi cacing di sini. Meski begitu Braheim dan Haala tetap terlelap di ranjang yang sama, mengenakan pakaian senada setiap hari, pun memberi kecupan penyemangat sebelum berpisah ke ruang kerja masing-masing.
Alih-alih khawatir, seisi kerajaan malah menganggap hubungan Braheim dan Haala semakin manis. Namun keharmonisan itu hanyalah selingan pelepas penat sesaat, sebab kekacauanlah yang nyatanya harus mereka sambut setiap hari. Ya, Kumari Kandam memang kacau, dan semakin kacau karena ulah Devraaj Narvinder. Rumor tentang Vinder akhirnya menyebar, membuat sang pahlawan perang kebinasaan seketika menjadi bahan olok-olokan.
Lima orang selir yang dituding sebagai penyebar rumor tersebut pun diseret ke hadapan Kepala Penyidik dan diinterogasi hampir setiap hari. Lalu kekacauan yang paling parah, musim kemarau yang kian menggila membuat para petinggi memberi usulan tak kalah gila. Mereka mengusulkan Braheim agar meminta Vinder membuka portal suci selama musim kemarau berlangsung untuk mendapatkan air dan apapun itu yang bisa menekan angka kematian yang terus melonjak.
" … Itu adalah satu-satunya cara yang paling mungkin untuk dilakukan, Ya–"
"Dia pemimpin suku pengembara, bukan pesuruh. Dan lagi, tugasnya hanya membagikan ramuan penyembuh, bukan menimba air untuk membasahi kerongkongan kalian," sela Braheim pada Menteri Sosial.
Menteri Dalam Benua berdeham, "Sejujurnya masih ada usulan kedua, Yang Mulia."
"Aku tahu. Dengan membuka portal ke Minciuna, bukan?" Sela Braheim lagi. "Tak peduli seterdesak apapun kondisi kita, bukankah hutang sebelumnya harus dilunasi terlebih dahulu jika berniat untuk kembali berhutang?"
"Mohon ampuni kekurangan kami, Yang Mu–"
Ucapan Menteri Dalam Benua kembali terjeda entah untuk yang keberapa kali. Namun kali ini bukan Braheim penyebabnya melainkan Murat. Dengan langkah tergopoh Murat langsung menghampiri meja raksasa ruang darurat. Tak ada yang bertanya, semua orang termasuk Braheim kompak menunggu Murat membuka mulut. Tanpa mengatur napasnya yang tak beraturan, Murat mengatakan jika Haala dilarikan ke istana utara* karena mengalami tanda-tanda akan melahirkan.
Istana utara* atau yang lebih dikenal dengan istana gaduh, merupakan istana yang paling banyak dikunjungi. Karena ada rumah sakit, akademi meramu obat, juga kebun tanaman herbal langka. Tabib Kerajaan juga tinggal di sini sebab selain bertanggung jawab pada para pasien selama dua puluh empat jam, dia juga mengajar di akademi.
Spontan Braheim beranjak. "Bukankah seharusnya empat hari lagi?"
"Tabib mengatakan hal seperti itu sering terjadi, Yang Mulia."
"Masalahnya dia baru mengatakannya sekarang," sahut Braheim pada Murat.
Lautan manusia tampak memenuhi sepanjang koridor lantai enam belas istana utara. Mereka buru-buru memberi salam seraya membungkuk, ketika sosok Braheim muncul dari ujung lorong. Braheim menghentikan langkah lebarnya tepat di depan pintu, di mana terdengar teriakan Haala dengan sangat jelas. Itu kali pertama Braheim mendengar Haala berteriak, dan entah kenapa dirinya merasa sesak hingga tanpa sadar mulai terisak.
Spontan Braheim menoleh ke asal suara, pun semua orang.
"Bukankah itu aneh?" tanya Vinder lagi sambil melompat keluar dari portal suci. "Bulan baik-baik saja. Mereka hanya terlalu bulat."
"Apa?"
"Maksudku Nazzaha dan Nazeeya. Mereka seperti ikan buntal. Kau tidak tahu? Ikan yang berbentuk seperti gelembung big babol?"
Braheim tak menjawab, tetapi perlahan mulai tersenyum. Lalu tak berselang lama, pintu ruangan itu pun terbuka, menampakkan tabib dan seorang pelayan yang menggendong dua orang bayi berbungkus kain berwarna putih gading.
"Selamat, Yang Mulia. Yang Mulia Ratu melahirkan putri kembar." Seorang tabib wanita tersenyum sangat bahagia. "Beliau yang pertama."
"Selamat datang, putriku."
"Dan beliau yang kedua." Tabib itu kembali menyerahkan bayi yang digendongnya dengan sangat hati-hati pada Braheim.
"Selamat datang, putriku."
"Dia Nazzaha, si mulut pedas." Vinder menunjuk bayi di tangan kanan Braheim. "Dia Nazeeya, si tidak masuk akal." Vinder berganti menunjuk bayi di tangan kiri sang ayah.
"Kurasa mereka menyukai nama yang kau berikan."
"Apa karena mereka tersenyum?" Vinder menghela napas sembari berlalu menyibak kerumunan. "Andai kau tahu arti dari senyum itu, matahari."
"Aku tidak tahu."
__ADS_1
"Lebih baik begitu daripada kau pun ikut mengisi ranjang kosong di sini." Vinder melambaikan tangannya tanpa menoleh. "Aku pergi. Rodion Szilard menungguku untuk pesta barbeque."
...•▪•▪•▪•▪•...
Kemarau panjang kian bersemangat menggelitik kewarasan mereka yang masih setia berpegang teguh pada keimanan. Sampai hari ini, masih banyak yang memilih mengakhiri hidupnya di dalam Hutan Mook, pun masih banyak pula yang membawa rumah tangganya ke meja pengadilan. Serta yang semakin bertambah banyak, kelompok pencuri yang nekat menerobos kerajaan-kerajaan kecil demi memenuhi tuntutan perut.
Berbeda dengan situasi di luar Kerajaan Kumari Kandam. Para abdi kerajaan pun sama tersiksanya dengan dampak perang kebinasaan, namun yang lebih membuat tersiksa, rumor menggoda yang kerapkali membuat mereka diseret ke panggung Tamaasha*. Meski demikian mereka selalu saja dibuat bertekuk lutut oleh godaan rumor. Dan rumor yang tengah santer beredar saat ini adalah, apa yang diucapkan Vinder saat hari kelahiran adik-adiknya.
Tamaasha* merupakan alat penggal raksasa yang sering digunakan untuk menghukum para penjahat.
"Memiliki anak perempuan tidak akan mendatangkan kesialan jika itu terjadi pada rendahan seperti kita. Tapi sebaliknya, itu benar-benar akan mendatangkan kesialan jika terjadi pada seorang raja."
Pria paruh baya yang menjabat sebagai Kepala Pengurus Kebun itu menggeleng menanggapi putranya. "Begitulah takdir. Mereka akan semakin kejam pada orang-orang yang beriman."
"Bukan itu maksudku, Ayah. Aku sedang membicarakan maksud ucapan Pangeran Vinder. Semua orang mencerna ucapan beliau dengan akan datangnya cobaan yang lebih megerikan daripada kemarau ini."
"Jadilah bangkai jika tidak ingin menghadapi ujian Dewa Krpaya*."
Krpaya* merupakan Tuhan yang disembah orang Kumari Kandam.
"Oh ayolah, Ayah. Kenapa kau terus mengaitkan semua hal dengan Dewa Krpaya." Putra Kepala Pengurus Kebun menjeda kesibukannya menggunting daun bunga mawar. "Maksudku adalah, kita harus segera keluar dari Kumari Kandam seperti yang lain."
Kepala Pengurus Kebun ikut menjeda kesibukannya. "Ada Raja penyayang di sini, ada Komanan Perang tak terkalahkan di sini, pun ada pahlawan perang kebinasaan di sini. Lalu apa alasanku keluar dari sini?"
"Hah, dasar keras kepala. Lihat saja, kelak pasti Ayah akan menyesalinya."
"Meski menyesal, aku akan mati dengan mata tertutup karena telah diberi kesempatan untuk melihat pemandangan luar biasa itu setiap hari." Kepala Pengurus Kebun menunjuk sesuatu dari kejauhan.
Ternyata sesuatu yang ditunjuk Kepala Pengurus Kebun adalah Braheim yang sedang menggendong Nazzaha dan Nazeeya. Entah apa yang tengah dikatakan dua anak perempuan berambut hitam dan bermata emas itu, yang pasti Braheim tak bisa berhenti tertawa. Jelas saja. Siapa ayah yang tidak akan tertawa beradu debat dengan putri-putrinya yang bahkan belum bisa mengucapkan banyak huruf dengan benar itu?
"Apa lagi yang kau lihat kali ini?"
Nazeeya hanya menunjuk kupu-kupu yang melintas.
"Ah, kupu-kupu. Kau menyukainya?" tanya Braheim lagi.
"Bisakah aku menaikinya, Yang Mulia Ayah?"
"Kurasa tidak. Kau butuh sesuatu yang jauh lebih besar darimu untuk menaiki sesuatu."
"Kakak Vinder?"
Braheim kembali tertawa. "Ya. Kau bisa menaikinya."
"Tapi sudah dua puluh enam jam sebelas menit aku tidak melihat Kakak Vinder."
Braheim menoleh pada Nazzaha dengan tawa yang terus mengekor. "Jangan menunggunya. Itu hanya akan membuatmu jengkel, putriku."
"Dan jika aku sudah terlanjur jengkel?"
Braheim mengecup kening Nazzaha. "Maka sudah saatnya bertemu Yang Mulia Ibu."
"Ya." Nazzaha dan Nazeeya berteriak girang.
__ADS_1