
SREK! SREK! SREK!
Satu per satu lembar buku kuno dibalik kasar oleh Braheim, sebab dirinya sudah tidak sabar untuk bisa segera tiba di halaman yang membahas tentang ramalan leluhur suku pengembara. Hingga yang dicari-cari Braheim akhirnya terpampang tepat di depan matanya. Sebaris kalimat berisi ramalan konyol yang telah berhasil diubah Gaana*.
*Gaana* makhluk pemakan jiwa-jiwa suci yang tinggal di Hutan Mook*.
Braheim mulai membaca. "Dunia akan binasa karena penerus sumpah setia Yusef Bahadir memberikan hatinya pada orang yang salah."
"Mungkinkah bagian itu yang telah diubah Gaana, Yang Mulia?"
"Ya," balas Braheim pada Haala.
"Lalu, apa bunyi ramalan yang asli?"
Braheim diam sesaat. "Perang kebinasaan akan terjadi dalam waktu dekat. Bukan Raja Kumari Kandam yang akan menghentikan perang itu, melainkan putra dari pemimpin suku pengembara dan penerus sumpah setia Yusef Bahadir."
Haala tampak terkejut, sebab isi ramalan palsu yang bermakna sangat jauh dengan isi ramalan asli. Kini Haala baru mengerti maksud pesan terakhir Putri Gaurika yang dititipkan melalui komandan perang Narak. Bahwa Haala tidak mencintai orang yang salah karena dalam ramalan yang asli tidak ada bahasan tentang orang yang benar pun orang yang salah.
Dan entah Haala harus merasa berduka atau bersuka cita karena bebas memilih prianya. Mengingat Braheim dan Daxraj sama-sama pemimpin suku pengembara, rasanya tidak ada alasan lagi untuk Haala berhati-hati memberikan hati. Karena pada siapa pun hati Haala berlabuh, perang kebinasaan di masa depan tetap akan terjadi. Namun.
"Tapi bagaimana jika perang kebinasaan datang lebih cepat? Lalu bagaimana jika musuh Kumari Kandam saat itu bukanlah manusia, akan lebih tepat jika hamba memilih Daxraj."
Braheim menutup kasar buku kuno di genggamannya. "Karena Anda tidak memiliki kekuatan pemimpin suku pengembara. Ditambah lagi, hamba khawatir Gaana juga mengubah isi buku yang lain," imbuh Haala.
"Apa?"
"Bagaimana jika Gaana juga mengubah asal-usul nenek moyang Anda yang ternyata bukan berasal dari suku pengembara? Bukankah itu artinya Anda bukan pemimpin suku pengembara?" tanya Haala ragu.
"Kurasa sekali pun Daxraj Natesh dan pengawal bayanganku mengatakan jika aku pemimpin suku pengembara, kau tetap tidak akan memercayainya."
"Tidak, Yang Mulia. Anda memang pemimpin suku pengembara. Tidak hanya tertulis di dalam buku kuno, bahkan Daxraj pernah mengatakannya langsung pada hamba. Tapi, perasaan apa ini?" tanya Haala dalam hati.
"Kenapa? Kau masih tidak percaya? Aku bisa memanggil Daxraj Natesh sebagai bukti. Meski sangat berisiko karena akan membahayakan rakyatku," tambah Braheim.
"Hamba tidak mengerti."
Braheim beranjak, mendekati Haala. "Aku memanggil Daxraj Natesh dengan ramuan Smrti*. Tapi hasil yang didapat setelahnya bukan pelangi atau hujan, melainkan gempa bumi."
*Smrti* merupakan ramuan pemulih ingatan yang terlupakan. Smrti terbuat dari air mata peri, dan hanya bisa dikonsumsi saat siang hari, karena hasilnya akan langsung muncul dalam bentuk hujan atau pelangi. Jika hujan yang muncul, maka mimpi yang terjadi hanyalah bunga tidur, tetapi jika pelangi yang muncul, maka bisa dipastikan itu adalah ingatan yang terlupakan*.
"Sudah semestinya Anda mengutamakan keselamatan rakyat Kumari Kandam."
Braheim menggeleng. "Aku bisa berubah pikiran jika kau memintanya."
Spontan Haala menoleh pada Braheim. "Anda sudah memberikan hati Anda sepenuhnya pada rakyat, bagaimana bisa Anda berkata seperti itu?"
"Dan bagaimana bisa aku memberikan hatiku sepenuhnya pada rakyat ketika kau merampas separuhnya?"
Haala tampak terkejut. "Ramuan Smrti membuatku mengingat semua kenanganku bersamamu di masa depan," imbuh Braheim.
Haala tak bisa berkata-kata mendengar apa yang baru saja dikatakan Braheim, dan semakin tak bisa berkata-kata ketika Braheim menjatuhkan kepala di sebelah pundaknya. Ingin sekali Haala mengusap punggung kesepian itu, namun dirinya sadar sedikit sentuhan bisa membuat Braheim benar-benar mengosongkan singgasana Ratu Kumari Kandam.
Lalu sepertinya, debaran jantung kebahagiaan hanya berkenan singgah sesaat. Setelah berdebar bahagia karena bebas memilih pria yang akan menemaninya sampai renta, Haala juga harus berdebar sesak karena tangung jawab turun-temurun yang mengharuskannya menjadi perisai hidup demi perdamaian tanah Kumari Kandam.
Dan andai saja tidak mengalir darah pahlawan di nadi Haala, sudah tentu Haala memilih Braheim. Tak peduli meski Gaana mengubah seluruh isi di dalam buku kuno. Tak peduli meski Braheim bukan pemimpin suku pengembara. Dan tak peduli meski di masa depan tanah Kumari Kandam akan luluh lantak oleh sebab perang kebinasaan yang entah melawan siapa.
"Hamba ingin mengakhiri perasaan ini sekarang juga, Yang Mulia."
__ADS_1
Braheim tersenyum paksa menanggapi Haala. "Jadi pada akhirnya kau tetap memilih Daxraj."
"Karena tidak ada yang tahu siapa musuh Kumari Kandam di masa depan. Beruntunglah jika manusia, tapi bagaimana jika iblis yang lebih kuat dari Gaana? Dan beruntunglah jika perang kebinasaan itu tiba tepat waktu, tapi bagaimana bila tiba lebih cepat?"
Braheim mengangkat kepalanya. "Putra dari Daxraj Natesh sudah tentu akan mewarisi kekuatannya. Jadi, akan lebih tepat jika hamba memilih Daxraj Natesh," tambah Haala.
"Meski aku mencintaimu?"
Haala diam sesaat. "Ya, Yang Mulia."
"Dan meski kau mencintaiku?"
Haala kembali diam. "Ya, Yang Mulia."
Braheim mengangguk-angguk. "Maka mari akhiri perasaan ini sekarang juga."
...¤○●¤○●¤○●¤...
"Tunggu saja, Jihan Joozher. Akan kukoyak jiwa kotormu itu," gumam Gaana sembari terbahak.
Tawa mengerikan beriring tangis bayi-bayi yang memanggil ibunya memecah kekhidmatan sepertiga malam. Tubuh mungil bayi-bayi perempuan itu seketika berubah menjadi abu sesaat setelah jiwa sucinya dilahap habis oleh Gaana yang sangat kelaparan. Meski tak seberapa lezat, Gaana merasa lebih baik daripada hanya menjadi seonggok daging.
Perlahan, wujud asli Gaana pun berubah menjadi wanita muda yang menawan. Gaana lalu menceburkan dirinya ke dalam sungai, dan bertapa di sana untuk memulihkan kekuatan. Bersamaan dengan hilangnya sosok Gaana di kedalaman sungai, Kumari Kandam juga kehilangan celoteh berisik khasnya. Celoteh para bayi yang meronta meminta botol susu.
Hingga sinar hangat mentari pagi menyadarkan semua makhluk hidup bahwa bencana baru saja terjadi di tanah Kumari Kandam yang damai. Dan lagi, untuk yang kedua kali selama pemerintahan Braheim. Rakyat berbondong menyesaki gerbang utama kerajaan berukir burung phoenix itu, mereka hendak berkeluh kesah atas bencana yang datang tanpa aba.
"Apa yang terjadi?"
"Putri hamba, Yang Mulia. Putri hamba tidak ada di ranjangnya," balas salah seorang penduduk wanita pada Braheim.
"Putri hamba juga, Yang Mulia. Hamba mencarinya di setiap tempat tapi tidak ada. Tolong, Yang Mulia. Tolong kembalikan putri hamba," timpal penduduk wanita yang lain.
Seorang penduduk pria mulai bersuara. "Bagaimana mungkin ada jalan keluar jika semua ini perbuatan iblis?"
Penduduk pria yang lain ikut bersuara. "Benar. Jika ini benar perbuatan iblis, komandan perang Kumari Kandam sekali pun tidak akan bisa melakukan apa-apa."
"Lancang! Beraninya kaian berkata tidak sopan di hadapan Yang Mulia Raja!" seru Murat.
"Tidak, Murat. Mereka benar. Jika ini memang perbuatan iblis, kita yang hanya manusia biasa ini sudah pasti tidak bisa melakukan apa-apa."
Murat berdeham, "Tapi, Yang Mulia, bukankah terlalu cepat untuk menyimpulkan jika semua ini adalah perbuatan iblis?"
Seorang penduduk pria mendekati Murat. "Penasihat, siapa lagi pelakunya selain iblis? Jika pun hewan buas, kenapa tidak ada satu jejak pun yang mereka tinggalkan?"
Penduduk pria yang lain mengangguk. "Benar. Dan jika pun pencuri, kenapa mereka lebih tertarik pada bayi-bayi kami dibandingkan perhiasannya?"
"Cukup. Rakyatku, kembalilah dan perbanyak memuji Tuhan. Aku berjanji tidak akan membuat kalian lebih takut dari ini. Murat, persiapkan rapat darurat." Braheim meninggalkan gerbang utama.
Rapat darurat pun langsung digelar sesaat setelah Braheim membuka mulutnya. Urat-urat kemarahan di wajah lelah Braheim membuat semua orang yang menghadiri rapat itu kompak kesulitan bernapas. Tak ada yang bersuara, sebab si pemimpin rapat yang masih setia dengan kebisuannya sejak menduduki kursi megahnya.
"Aku merasakannya. Ini ulah Gaana."
Menteri sosial tampak terkejut. "Mohon izin berbicara, Yang Mulia."
Braheim hanya mengangguk menanggapi menteri sosial. "Bukankah Gaana sudah mati sejak kaki tangannya tertangkap? Dan kalau pun masih hidup, bukankah mustahil untuknya bertahan karena Anda sudah membuatnya kelaparan dengan undang-undang pernikahan dini?"
"Tidak jika dia memiliki kaki tangan yang baru," jawab Braheim pada menteri sosial.
__ADS_1
"Mohon izin berbicara, Yang Mulia."
Braheim kembali mengangguk pada menteri agama. "Hamba sependapat dengan Anda, Yang Mulia. Hamba rasa Gaana terpaksa menjadikan bayi-bayi tak berdosa itu sebagai korbannya karena undang-undang baru yang Anda buat berhasil membuatnya kelaparan."
"Kurasa juga begitu. Apa ada yang memiliki pendapat lain?"
Menteri politik berdeham, "Mohon izin berbicara, Yang Mulia."
"Katakanlah."
"Tapi, siapa kemungkinan kaki tangan Gaana yang baru?" tanya menteri politik ragu.
Braheim menoleh pada Murat. "Aku dan penasihatku sudah mengantongi sebuah nama, tapi bukan itu yang penting sekarang. Kita harus mencari cara untuk membunuh iblis itu sebelum jatuh lebih banyak korban."
"Beri kami perintah, Yang Mulia." Semua orang yang ada di ruang rapat itu kompak bersuara.
Braheim kembali bergelut dengan kebisuannya. Hanya ada satu cara untuk melawan Gaana. Cara yang tergolong mudah jika dilakukan oleh pemimpin suku pengembara berdarah murni, Daxraj Natesh. Sebab hanya perlu menyebut nama asli Gaana, dan dalam sekejap iblis berwujud tak senonoh itu akan langsung dilahap api neraka jahanam.
Sejujurnya Braheim ingin mencoba merealisasikan satu-satunya cara tersebut. Namun keraguan Haala tentang dirinya yang tidak memiliki kekuatan pemimpin suku pengembara, serta peringatan pengawal bayangannya tentang dirinya yang hanya berdarah campuran, membuat Braheim ikut menjadi tidak yakin.
Dan inilah saatnya Braheim membahas dongeng anak-anak setinggi lutut. Braheim sudah siap menerima tatapan omong kosong dari semua orang yang ada di ruang rapat itu, karena tidak ada cara lain lagi yang bisa meminimalisir jatuhnya korban jiwa. Sungguh, hanya Daxraj Natesh dari masa depan yang bisa menghentikan pembantaian keji Gaana selama ini.
"Untuk sekarang, kita sembunyikan bayi-bayi yang tersisa dan wanita hamil di dalam kuil. Meski kecil kemungkinan Gaana akan takut, percayakan saja pada Tuhan."
"Sesuai perintah Anda, Yang Mulia," balas semua orang pada Braheim.
Braheim beranjak. "Lalu aku akan mengadakan rapat susulan yang membahas undang-undang baru tentang penekanan angka kelahiran. Jadi siapkan saran terbaik kalian."
"Sesuai perintah Anda, Yang Mulia."
"Yang terakhir, cari cara untuk memanggil suku pengembara. Terlepas dari cara yang di luar nalar sekali pun. Karena pemimpin suku itu bisa langsung menyudahi bencana di tanah kita. Rapat selesai." Braheim meninggalkan ruang rapat.
...¤○●¤○●¤○●¤...
HOSH.. HOSH.. HOSH..
Jihan terbangun dari mimpi buruk tentang Gaana. Bahkan Jihan sempat meyakini jika yang baru saja mengganggu tidurnya bukan sekadar mimpi buruk melainkan memori beberapa hari silam yang sengaja diputar oleh ketakutannya. Ya, dua hari silam Jihan benar-benar hampir mati. Dengan berbekal nekat, Jihan menantang Gaana bermain teka-teki.
Teka-teki tentang siapa sebenarnya yang telah memutar waktu selama ini. Gaana yang tertarik pun menerima tantangan Jihan, namun gilanya Jihan enggan berbicara lebih banyak sebelum Gaana bersedia mencium punggung kakinya. Gaana pun naik pitam dan langsung menyerang Jihan. Tetapi beruntungnya Jihan lebih dulu menyiapkan serangan.
Sebotol kecil air suci yang Jihan selipkan di setiap sudut kamarnya untuk berjaga-jaga berhasil membuat Gaana semakin lemah. Merasa belum puas, Jihan kembali menyiramkan dua botol air suci yang diselipkannya di balik jendela ke tubuh Gaana. Dan perlahan, sosok iblis mengerikan itu menghilang dengan meninggalkan aroma busuk yang pekat.
Jihan beranjak dari ranjang. "Dia tidak akan mati semudah itu. Benar. Aku harus melakukan sesuatu untuk kembali berjaga-jaga."
Keyakinan bahwa Gaana masih hidup membuat Jihan semakin didekap erat oleh ketakutan. Jihan pun bergegas menemui ayah Haala yang merupakan mantan kaki tangan Gaana, berniat mencari tahu cara untuk membunuh iblis berwujud lintah itu. Namun sudah tentu Jihan tidak mendapat jawaban yang diinginkannya. Jihan pun terpaksa melancarkan upaya terakhirnya.
"Pelayan."
Seorang pelayan wanita buru-buru berlari menghampiri Jihan. "Beri hamba perintah, Yang Mulia."
Jihan menghentikan langkahnya. "Bakar Hutan Mook. Tidak. Bakar semua hutan yang ada di Kumari Kandam sehingga iblis itu tidak memiliki tempat untuk bersembunyi lagi."
"Sesuai perintah Anda, Yang Mulia."
Jihan kembali menghentikan langkahnya. "Tunggu. Ada satu lagi. Buat seolah-olah Murat Iskender yang melakukannya."
"Sesuai perintah Anda, Yang Mulia."
__ADS_1
"Ini adalah balasan karena kau sudah manjadi kakak yang tidak berguna, Murat Iskender," ujar Jihan dalam hati seraya menyeringai dan melanjutkan langkahnya keluar dari penjara bawah tanah.