
Dengan hati-hati Braheim duduk di pinggir ranjang yang dipenuhi taburan bunga itu. Terlihat Haala terlelap di sana. Braheim tersenyum, berharap wajah damai yang dilihatnya sekarang pun tanda merah di belahan rambut berwarna langka itu bukan khayalan. Namun jika Dewa Krpaya* menakdirkan itu sebagai khayalan, Braheim sudah menyiapkan hati. Sebab sungguh, Braheim telah sangat terbiasa dengan kebahagiaan yang singkat.
Krpaya* merupakan Tuhan yang disembah orang Kumari Kandam.
"Sulit sekali mendapatkanmu, Haala Anandmayee," gumam Braheim dalam hati.
Tidak salah apa yang baru saja dikatakan Braheim, karena memang sesulit itu untuk bersatu dengan belahan jiwanya. Mereka sudah pernah mencoba melawan takdir, namun yang terjadi malah waktu yang diputar ke masa lalu. Mereka juga beberapa kali menyerah, tetapi sialnya perasaan mereka malah semakin kuat. Sambil memandangi wajah damai Haala, Braheim mengenang perjalanan cintanya yang terlampau terjal.
*FLASHBACK ON*
"Sama seperti ruang kerjaku yang memuakkan, pintu di ruangan ini juga hanya akan terbuka atas kehendakku."
Haala membungkuk pada Braheim yang baru saja memasuki ruangan. "Panjang umur, da--"
"Apa siluman itu yang mengubah sikapmu jadi semenjengkelkan ini?" sela Braheim seraya berdiri tepat di depan Haala.
"Beri hamba waktu untuk menjawabnya, Yang Mulia."
"Aku sudah memberimu satu pekan," balas Braheim.
"Hamba masih berusaha mencari jawabannya."
Braheim meraih kedua tangan Haala. "Maka ikut sertakan aku dalam usahamu."
Haala terdiam. "Apa aku salah mengartikan ciuman kita malam itu?" imbuh Braheim.
Haala masih diam, sudut-sudut matanya mulai terasa digelitik. "Bagiku itu bukan sekadar ciuman. Karena melalui ciuman itu aku memberikan hatiku padamu. Apa kau juga demikian?" imbuh Braheim lagi.
"Ya, Yang Mulia."
Braheim tersenyum sembari menghela napas lega. "Syukurlah. Aku tak peduli pada perubahan sikapmu dan apa yang dikatakan siluman itu. Aku sudah cukup dengan fakta bahwa kau juga telah memberikan hatimu."
"Hamba berharap bisa memberikan diri ini sepenuhnya hanya pada Anda, Yang Mulia."
Spontan Braheim memeluk Haala. "Maka berikanlah hanya padaku. Apapun rintangan di depan sana, ayo hadapi bersama."
Haala terhanyut dalam pelukan terlewat nyaman itu, tetapi enggan membalas meski lingkaran tangan Braheim di pundak serta pinggangnya terasa semakin erat, karena beragam pertanyaan yang mulai mengusik. Bagaimana bisa dirinya merasa dikotori oleh pria yang separuh hidupnya ada di hati, dan bagaimana bisa dirinya memberikan hati dan tubuhnya pada pria yang berbeda.
Ingin rasanya Haala mengutuk ramalan yang melilitnya dengan Daxraj, namun apa daya, takdir memang tak mengenal humor. Isi dalam buku misterius yang ditemukan Laasya di ruang bawah tanah bukanlah isi yang dibuat-buat. Lalu tak ada alasan bagi Daxraj untuk memilihnya dibanding wanita-wanita suci bak peri yang setiap hari berkeliaran di sekitar pemimpin suku terlampau rupawan itu.
Ya, tak ada alasan. Namun Haala tetap bersusah payah mencari-cari alasan, demi mempertahankan pria yang hampir tiga belas tahun dicintainya dalam diam. Tak terhitung sudah berapa kali Haala berniat menjadi egois, melupakan sisi pahlawan dalam dirinya yang mendarah daging. Haala pun melepas pelukan Braheim, dan dengan pandangan tertunduk mengikis senyum di wajah memesona itu.
"Ada sebuah buku yang menyebutkan jika dunia akan binasa, dan kebinasaan itu hanya bisa diredam oleh putra dari pemimpin suku pengembara dan penerus sumpah setia Yusef Bahadir," ujar Haala.
"Jadi itu alasan kepercayaan dirinya menyebutmu wanitanya?"
Haala mengangguk menanggapi Braheim. "Hamba masih akan terus mencari tahu kebenarannya."
"Bawa aku menemui siluman itu."
Haala menggeleng. "Anda hanya akan mati jika menemuinya dalam keadaan kotor seperti ini."
"Apa maksudmu?"
"Tempat itu sangat suci, Yang Mulia. Selain tidak mengizinkan membawa benda peninggalan orang mati, tempat itu juga menolak siapa pun yang sengaja mengotori dirinya. Ada satu cara untuk menyucikan diri, tapi itu tak ada bedanya dengan bunuh diri," terang Haala.
"Berendam di Baadal*."
__ADS_1
Baadal* adalah salah satu danau keramat di Kumari Kandam. Konon Baadal dijaga oleh ikan raksasa bernama Ghinauna. Mereka yang berendam di Baadal akan disucikan dari sisa perbuatan kotor manusia, sisa makanan serta minuman haram, atau racun yang mengendap di tubuh. Namun Ghinauna dikenal tidak ramah, sehingga hanya sedikit sekali orang yang bisa berendam di sana.
Spontan Haala mendongak. "Akan kucoba demi bisa meludahi wajah menjengkelkan siluman itu," tambah Braheim.
"Tidak, Yang Mulia. Mustahil untuk diterima oleh Ghinauna."
Braheim kembali memeluk Haala. "Maka jika Ghinauna menolakku, itu adalah rencana Yang Maha Kuasa untuk menyelamatkan dunia dari kebinasaan."
*FLASHBACK OFF*
"Ternyata aku pernah segila itu." Braheim menggeleng-geleng sembari menahan tawanya. "Dan pernah menyerah sekali."
*FLASHBACK ON*
"Yang Mulia. Yang Mulia, tolong kembali. Kondisi Anda masih belum stabil," teriak kepala pengurus istana selatan*.
Istana selatan* merupakan istana di mana raja tinggal dan melakukan segala aktivitas yang bersifat pribadi. Istana ini dibangun di atas lahan seluas lima ratus hektar. Meski demikian hanya istana tersebut satu-satunya bangunan yang ada di sana. Selebihnya, istana selatan hanya ditanami pohon bambu.
Spontan Haala berlari menghampiri Braheim yang tengah dikejar kepala pengurus istana selatan serta beberapa orang tabib kerajaan. Haala menangkap Braheim yang hampir tersungkur, dibantu semua orang. Ada yang ingin dikatakan Braheim, Haala bisa merasakan itu melalui tatapannya. Namun entah mengapa Haala seperti tidak berkenan untuk mendengar sepatah kata pun dari bibir pucat itu.
"Pergilah, Komandan," lirih Braheim.
Haala diam, sudut-sudut matanya mulai digenangi air mata.
"Ratu Kumari Kandam sudah melakukan yang harus dilakukannya. Begitu pun aku. Pergilah. Takdirmu adalah memberikan pahlawan untuk tanah Kumari Kandam."
Haala masih diam, namun air matanya yang tak berhasil diajak kompromi sudah cukup memberi jawaban keengganannya pada Braheim.
Braheim mengusap air mata Haala. "Mari bersatu di kehidupan yang lain. Pergilah. Aku merestuimu."
*FLASHBACK OFF*
Waktu sudah menunjukkan pukul dua pagi, tetapi tawa dan bunyi gelas Goan Feni* yang saling diadu masih terdengar jelas di aula pesta. Braheim pun berniat kembali untuk menemani para tamu. Namun di tengah perjalanannya, Braheim melihat Vinder, putra angkat resminya tengah duduk di atas menara lonceng Kerajaan Kumari Kandam. Entah apa yang sedang dilakukan Vinder. Braheim pun penasaran dan memutuskan menyusul.
Goan Feni* adalah minuman beralkohol yang hanya diproduksi di Goa, India. Goan Feni dibuat dari getah kelapa atau apel mete dan kandungan alkohol di tiap botolnya mencapai 43-45%.
Ketika tiba di menara lonceng, Braheim tak berkata sepatah kata pun pada Vinder. Braheim hanya mengikuti ke arah mana mata berwarna emas itu memandang. Namun tidak ada yang aneh. Langit Kumari Kandam yang sedari tadi dipandang Vinder itu tampak tenang-tenang saja. Vinder menyudahi aktivitasnya mendongak entah apa, dan berganti menujukan mata emas tajamnya itu ke luar pelindung.
"Dia lumayan." Vinder menunjuk ke luar pelindung.
"Siapa? Iblis penjiplak?"
Spontan Vinder tertawa menanggapi Braheim. "Apa yang membuatnya menjadi salah langkah seperti itu?"
Braheim ikut memandang ke luar pelindung, meski hanya terlihat kegelapan yang pekat. "Dia bersekongkol dengan Jihan Joozher untuk menyingkirkan Ibumu. Dia meminta bantuan Chhota* namun Daxraj Natesh datang mengusirnya. Lalu setelah itu dia menghilang, dan tiba-tiba muncul dengan menjadikan Daxraj Natesh sebagai bahan lelucon."
Chhota* atau Faot adalah makhluk berwujud setengah manusia setengah peri dan setengah banteng.
"Dasar tidak jelas." Vinder kembali menunjuk ke luar pelindung. "Apa itu rupa Daxraj Natesh?"
"Ya."
"Kau juga melihatnya?"
Braheim menggeleng. "Aku hanya melihat gelap, dan bagiku wajah Daxraj Natesh itu gelap."
Vinder kembali tertawa. "Dia sangat gigih. Aku suka."
__ADS_1
"Apa yang dilakukannya?"
"Tersenyum padaku seperti penyuka sesama jenis," balas Vinder.
Braheim berganti tertawa. "Apa kau tahu yang direncanakannya?"
"Ya. Tapi aku tidak akan memberitahumu." Vinder beranjak seraya meregangkan tubuhnya. "Kejutan tidak boleh sampai bocor."
"Jangan membuat Daxraj Natesh mengacak-acak surga karena tak sanggup menahan malu melihat kekalahanmu."
Vinder diam sesaat. "Bukankah pasukan tempur terhebat dari tujuh benua ada di sini? Mereka pasti bisa mengalahkannya, bukan?
"Apa?"
"Daripada itu, matahari. Ambilkan tangga. Kakiku mulai kram."
...•▪•▪•▪•▪•...
"Ya Dewa. Siapa yang bertamu selarut ini? Apa dia tidak punya tata krama?"
KLEK
BRUK
Wanita paruh baya itu terjatuh, sesaat setelah mendapati siapa tamu yang kini berdiri di hadapannya. Suaminya. Bukan. Lebih tepatnya mendiang suaminya. Suami tercintanya yang mati sebelas tahun lalu itu ada di hadapannya dengan pakaian terakhir yang dikenakannya sebelum dikremasi. Perlahan wanita berselendang biru itu beranjak, mendekati mendiang suaminya dengan langkah ragu, dan akhirnya mendaratkan sentuhannya di sebelah pipi pria bertubuh kurus itu.
"Oh, Ya Dewa. Jadi ini benar dirimu?" Wanita itu memeluk mendiang suaminya. "Kau hidup. Ya, kau hidup. Ini pasti hadiah dari Dewa Krpaya untuk pernikahan Yang Mulia Braheim dan Yang Mulia Haala."
"Ibu?"
Wanita itu menoleh pada putri semata wayangnya yang baru saja muncul. "Guneet. Lihat, Ayahmu kembali. Ayo, Guneet. Peluk Ayahmu. Ayo, Nak."
"Ayah." Guneet berlari memeluk sang ayah.
Berbeda dengan respon Guneet dan Ibunya, penduduk Kumari Kandam lain yang juga didatangi keluarganya yang sudah mati malah naik pitam. Mereka yakin itu ulah iblis penjiplak. Tanpa ragu mereka pun mengubur keluarganya hidup-hidup. Bangkit dari kubur adalah lelucon. Siapa yang memercayainya berarti sedang menjadikan Dewa Krpaya sebagai bahan lelucon. Makhluk yang sudah mati tidak akan hidup lagi. Jika pun itu terjadi, maka pasti ada mantra sesat dibaliknya.
"Kuburkan! Lalu siram pusaranya dengan Gandh*! Terkutuklah iblis penjiplak itu yang sudah mengganggu istirahat keluarga kita!"
"Benar! Dasar iblis penjiplak sialan! Tunggulah Dewa Krpaya menendang bokongmu ke jahanam!" Pria lain menimpali rekannya dengan seruan yang tak kalah memekakkan telinga.
Gandh* merupakan senjata baru buatan Kumari Kandam di masa lalu, berupa campuran garam dan air suci. Garam diketahui ampuh melemahkan Gaana yang setengah lintah, dan air suci memang sudah digunakan untuk mengusir iblis sejak ratusan tahun silam. Reaksi yang akan muncul jika Gandh mengenai tubuh Gaana adalah rasa perih yang perlahan berubah menjadi rasa seperti terbakar.
Dan berbeda pula dengan respon kedua pria yang kini tengah sibuk menggali liang lahad, pun respon Guneet dan sang ibu yang kini tengah sibuk menyiapkan makan malam untuk orang tercinta yang delapan tahun lalu meregang nyawa. Ada yang berdebat hebat setelah mendapati keluarganya yang telah lama mati datang bertamu di malam hari. Sebagian dari mereka memercayai, namun sebagian yang lain membawa nama Dewa Krpaya.
"Itu adalah keajaiban karena akhirnya singgasana Ratu Kumari Kandam menemukan pemiliknya!" Seorang istri melempar segala perkakas ke arah suaminya.
"Kebangkitan hanya akan terjadi saat sangkakala ditiup! Jika kebangkitan terjadi sekarang tapi kau tidak mendengar bunyi sangkakala, itu artinya iblis ada di sekitar kita! Sadarlah! Anak kita sudah mati!"
Kumari Kandam mulai kacau. Penerangan di tiap-tiap rumah yang biasanya baru akan dinyalakan kembali pukul empat pagi, kini menyala jauh lebih awal. Ibu Makshi, gadis baik hati yang berasal dari Benua Lagaam, pun terbangun sebab penerangan yang terlewat silau. Ibu Makshi langsung beranjak ketika mendapati putri sulungnya tak ada di sampingnya, dan mulai mencari keluar rumah. Namun.
"Ya Tuhan. Apa itu?" Ibu Makshi membekap mulutnya yang membulat.
Terlihat di luar pelindung, lautan orang berwajah pucat berdiri mematung dengan tatapan kosong. Ibu Makshi pun kian terkejut saat mendapati ada satu orang yang dikenalnya dalam kerumunan itu. Tanpa sadar ibu Makshi melangkah mendekat, namun langkahnya langsung terhenti saat melihat orang lain yang juga tengah berjalan keluar dari pelindung itu dicekik, dilemparkan ke tanah, dan berakhir menjadi bahan injak-injakan.
"Oh tidak. Ini bencana." Ibu Makshi balik kanan dan berlari berteriak, "Makshi. Di mana kau? Makshi. Ibu mohon kembalilah. Makshi."
"Sudah kubilang, bukan? Jika kalian tidak mengizinkanku bergabung dalam pesta, maka akan kubuat kalian keluar untuk bergabung denganku di pesta yang lain." Sanjeev terbahak memandangi suasana kacau di dalam pelindung yang dianggapnya begitu damai.
__ADS_1