TEARS OF KUMARI KANDAM

TEARS OF KUMARI KANDAM
CHAPTER 125


__ADS_3

Sudah dua hari Braheim dan Haala pergi berbulan madu, mereka pergi setelah memilah pekerjaan yang paling mendesak untuk dirampungkan. Kepergian Braheim dan Haala diiringi doa keselamatan oleh rakyat. Senyum bahagia Braheim dan Haala membuat duka mendalam di hati setiap orang sedikit meluruh. Wajar saja. Memang siapa yang tidak akan ikut berbahagia ketika sang penyelamat akhirnya mau mengakui jika dirinya pun hanya manusia biasa?


Namun meski semua pekerjaan yang paling mendesak sudah ditangani, pekerjaan yang dinomorduakan lambat laun berubah statusnya menjadi mendesak. Tak ingin sampai terbentuk kubu yang berpotensi mengacaukan bulan madu Braheim dan Haala, Vinder pun menyudahi rajukannya, dan tanpa ragu membuka ruang kerja Braheim. Kabar dibukanya ruang kerja Braheim menyebar cepat. Para petinggi pun berbondong mengira Braheim sudah kembali.


"Sampai kapan kalian akan bertingkah seperti tikus yang mengincar mentega? Masuklah jika ada yang ingin kalian katakan."


Para petinggi yang tertangkap basah tengah mengintip ke dalam ruang kerja Braheim itu spontan berpencar, berlomba-lomba berdeham, dan mulai mempersiapkan diri untuk menghadap Vinder, meski ragu.


"Salam, Pangeran."


Vinder hanya mengangguk menanggapi Menteri Kesehatan sembari menerima gelas berisi Goan Feni* dari seorang pelayan.


Goan Feni* adalah minuman beralkohol yang hanya diproduksi di Goa, India. Goan Feni dibuat dari getah kelapa atau apel mete dan kandungan alkohol di tiap botolnya mencapai 43-45%.


"Kita mengalami kesulitan karena kemarau panjang ini, Pangeran. Ki–"


"Kau pikir hanya kita? Lalu kau anggap apa Chamakadaar, Lagaam, Padachihn, Garjan, Hathelee, Jvaala dan Shushk? Kotoran telinga?"


"Bukan itu maksud hamba, Pangeran. Hamba harus menjelaskan secara rinci agar Anda me–"


"Jadi kau sedang meremehkanku hanya karena aku tidak pergi ke akademi? Katakan intinya dasar kau kotoran telinga," sela Vinder lagi pada Menteri Kesehatan.


"Penduduk mulai terserang penyakit kulit karena terpaksa mandi dengan air kotor, Pangeran."


"Lalu di mana air bersihnya?"


"Maaf?"


Vinder menggoyang-goyangkan gelasnya. "Apa air bersihnya hanya ada di sini dan di rumahmu?"


Menteri Kesehatan tergagap meski banyak sekali kata tangkisan yang berlalu-lalang dalam benaknya.


"Kita mendapatkan air bersih dari sumur ajaib yang ada di belakang istana selatan*, benar?" tanya Vinder lagi.


Istana selatan* merupakan istana di mana raja tinggal dan melakukan segala aktivitas yang bersifat pribadi. Istana ini dibangun di atas lahan seluas lima ratus hektar. Meski demikian hanya istana tersebut satu-satunya bangunan yang ada di sana. Selebihnya, istana selatan hanya ditanami pohon bambu.


"Benar, Pangeran."


"Maka buka gerbang istana selatan dan bagikan pada mereka."


"Itu, itu tampaknya agak sulit karena butuh izin Yang Mulia Raja."


"Maka bertanggung jawablah pada mereka sampai dia kembali." Vinder menenggak habis isi gelasnya. "Selanjutnya," teriak Vinder.


Menteri Kesehatan keluar dari ruang kerja Braheim dengan wajah kusut, dan langsung digantikan oleh perwakilan dari Aasha*.


Aasha* kuil terbesar di Kumari Kandam.


"Salam, Pangeran."


"Katakan langsung intinya jika tidak ingin kucekoki Goan Feni."


Seorang pria yang menjadi perwakilan dari kuil itu tampak terkejut namun buru-buru membungkuk. "Sudah beberapa hari ini rakyat membuat keributan di depan kuil, Pangeran. Mereka memaksa diberi air bersih. Anda pasti tahu kami tidak bisa memberikannya karena air di kuil adalah air suci, dan air suci merupakan bahan utama untuk membuat ramuan, peralatan ibadah dan bahkan senjata."


"Aku tidak tahu."


"Ya?"


"Aku bilang aku tidak tahu jika air suci di kuil digunakan untuk membuat ramuan, peralatan ibadah dan senjata." Vinder memberi kode pada pelayan untuk kembali mengisi gelasnya. "Berikan saja yang mereka minta. Biar Aryesh, Birousk serta Zerdad yang mengurus pembuatan ramuan, peralatan ibadah dan senjata."


"Tapi kuil belum pernah melakukan itu, Pangeran."


"Maka jadikan ini kesempatan," sahut Vinder.


"Sepertinya Ketua kami tidak akan setuju."


"Maka nikmatilah keributan mereka sembari menyantap sarapan. Selanjutnya."


Perwakilan dari Aasha itu pun meninggalkan ruang kerja Braheim dengan wajah tak kalah kusut dari Menteri Kesehatan. Bukan sebab tidak mendapatkan solusi dari Vinder melainkan lebih merasa yakin jika solusi itu keluar dari mulut Braheim.


"Salam, Pangeran." Menteri Dalam Benua membungkuk pada Vinder.

__ADS_1


"Apa kali ini soal air bersih lagi?"


"Tidak, Pangeran. Ini lebih mendesak dari itu."


Vinder tak menjawab, hanya menenggak isi gelasnya.


"Ini soal Penasihat Murat, Pangeran. Hamba rasa beliau harus diberhentikan karena terlalu lama mengambil cuti. Batas paling banyak pengambilan cuti untuk abdi pemegang lencana tinggi hanya lima hari, tapi beliau sudah mengambil cuti hampir sepuluh hari, Pangeran."


"Dia kehilangan keluarga satu-satunya. Jadi wajar saja."


"Kita semua kehilangan, Pangeran. Tetapi tanggung jawab tetaplah tanggung jawab. Beliau sudah melanggar peraturan dan harus segera diberi sanksi tegas agar menjadi contoh untuk yang lain," jawab Menteri Dalam Benua.


"Kau benar."


"Jika mematuhi peraturan, memang hanya kebenaran da–"


"Tapi bukankah Murat Iskender layak mendapat  pengecualian karena Adiknya sudah menyelamatkan nyawa kalian yang tidak berharga itu?"


Menteri Dalam Benua seketika kehilangan kata-kata, pun kepercayaan dirinya.


"Jika saat itu Adiknya tidak membebaskan Sayee, aku akan mati muda. Jika saat itu Adiknya tidak merawat Aryesh, tidak akan ada yang tersisa dari sukuku. Dan jika tidak ada yang tersisa dari sukuku aku akan diam saja melihat Kepala Kutu itu membantai kalian," imbuh Vinder.


"Mohon am–"


"Hanya karena ingin mengganti Murat Iskender dengan anak-anak kalian, kalian sampai tak sadar telah bersikap lancang pada kekasih matahari? Kau pikir kepala keledaimu itu masih akan ada di tempatnya jika kau mengatakan itu langsung pada matahari? Memang kalian tidak sadar jika matahari dan Murat Iskender memiliki kelainan ya–"


Murat berdeham, "Masih banyak yang menunggu Anda dengan masalah yang lebih mendesak, Pangeran.


"Sejak kapan kau ada di sana? Tidak. Sejak kapan kau kembali bekerja?"


...•▪•▪•▪•▪•...


Hadiah pernikahan dari ketujuh raja benar-benar berlebihan, sampai membuat Braheim dan Haala lelah mengirimkan surat terima kasih. Awalnya Haala berencana mengajak Braheim berbulan madu ke tempat kencan pertama mereka, Bukit Prashansaneey. Selain dijamin keindahannya, jarak Prashansaneey ke Kerajaan Kumari Kandam juga dekat. Braheim dan Haala bisa langsung kembali jika tiba-tiba terjadi keadaan darurat, namun mereka terpaksa balik kanan karena kini tidak ada lagi keindahan di Prashansaneey, kemarau ekstrem sudah memorak-porandakannya.


Sadar akan kesedihan dan rasa bersalah sang istri, Braheim pun teringat dengan hadiah pernikahan dari ketujuh raja. Ya, para raja kompak menghadiahi sebuah pulau yang biasa dijadikan sebagai alat transaksi. Sungguh pulau-pulau tersebut sangat indah dan terawat meski belum pernah dijamah. Braheim dan Haala pun bergegas menuju pulau pertama dan terdekat, Chamakadaar. Braheim dan Haala hanya menghabiskan waktu satu malam di tiap-tiap pulau, dan saat ini mereka tengah singgah di Shaadval, pulau indah lain yang berada di Benua Lagaam.


"Apa balas dendamku terlalu berlebihan?" Braheim menyudahi kegiatannya memandang wajah tampannya di cermin, lalu melirik ke ranjang.


"Seperti oasis di tengah padang pasir, seperti sumur di tengah kemarau yang tak berkesudahan de––"


Lanjutan puisi yang tengah dirangkai Braheim itu menggantung menjadi misteri, sebab dirinya merasa ada seseorang yang diam-diam mengawasi. Segera Braheim pun menyelisik sekitar, dan tak butuh waktu lama untuknya membuktikan instingnya yang tak pernah meleset satu kali pun itu. Benar, ada yang mengawasi Braheim. Seorang wanita yang entah bagaimana cara menggambarkan paras cantiknya. Terlihat wanita itu bersembunyi di balik semak, dan tak ragu membalas tatapan Braheim. Namun sialnya itu bukan tatapan biasa, tatapan cantiknya sudah dibubuhi mantra.


Sebab tak lama setelah menatap wanita itu, tubuh Braheim bergerak dengan sendirinya. Braheim tiba-tiba meninggalkan balkon, dan berjalan setengah berlari menuju meja rias. Seperti sudah tahu di mana letak benda yang dicarinya, Braheim langsung membuka laci pertama meja rias, mengobrak-abrik isinya, dan kemudian memamerkan sebuah gunting yang masih baru. Setelahnya Braheim langsung mendekati Haala di ranjang, lalu tanpa ragu mengarahkan gunting itu pada Haala. Kesadaran Braheim kembali, sesaat setelah percikan darah mengganggu tatapan kosongnya.


"Yang Mulia?"


"Tanganku bergerak se–, tidak. Maksudku tubuhku, tubuhku bergerak sendiri saat membunuhnya." Braheim menunjuk sesuatu di samping Haala.


Haala melihat sekilas bangkai ular yang mati dengan kepala tertancap gunting itu, dan kemudian mengulurkan tangannya pada Braheim yang terduduk di lantai. "Anda baik-baik saja?"


"Entahlah." Braheim menerima uluran tangan Haala dan beranjak, lalu perlahan, menoleh ragu ke luar jendela. "Firasatku campur aduk."


Haala ikut menoleh. "Mungkinkah telah terjadi sesuatu yang buruk?"


"Kuharap tidak."


...•▪•▪•▪•▪•...


Sejak insiden aneh yang menimpanya pagi tadi, Braheim memutuskan untuk mencari wanita misterius itu. Sebab tak bisa dibiarkan begitu saja. Semua orang bahkan baru mulai mengumpulkan semangat hidup pascaperang kebinasaan. Meski wanita itu terbukti tidak bermaksud jahat, tetap saja kemisteriusan adalah sesuatu yang mengganggu. Dan apapun itu yang mengganggu pasti akan bermuara pada kerugian, bukan?


"Anda benar-benar tidak melihat mereka?"


Braheim mengangguk menanggapi Haala. "Bahkan berkedip pun tidak sempat. Itulah kenapa aku ingin mencari wanita itu. Aku tidak percaya meski dia sudah menyelamatkanmu. Aku lebih memercayai kemunculan pengawal bayanganku."


"Kenapa Anda tidak memanggil mereka saja, Yang Mulia?" tanya Haala lagi.


"Sudah kucoba sampai mulutku kram."


Haala tak merespon, sibuk menyibak rerumputan.


"Di masa lalu yang palsu, mereka juga tidak menjawab panggilanku. Ternyata mereka merasakan kehadiran Sannidhi Hessa dan terpaksa menyerang tanpa izinku. Aku khawatir kejadian saat itu terulang saat ini," imbuh Braheim.

__ADS_1


"Semua akan baik-baik saja, Yang Mulia."


Dan tak butuh waktu pun usaha lebih untuk Braheim dan Haala menemukan wanita misterius itu. Sama seperti Vinder, wujudnya yang terlalu berlebihan membuatnya mudah untuk ditemukan. Wanita dengan rambut dikepang satu itu terlihat duduk seorang diri di mulut tebing, sibuk menantang terik. Braheim sengaja mendekati wanita itu sembari mencari keberadaan pengawal bayangannya, namun nihil.


"Siapa kau?"


Wanita itu enggan menoleh. "Gaana."


"Apa kau ada di pihak Kumari Kandam?" Braheim kembali melempar tanya.


"Tidak."


Spontan Haala menarik pedangnya, sesaat setelah mendengar jawaban wanita itu.


"Aku berasal dari Minciuna, jadi kenapa aku harus berpihak pada Kumari Kandam?" Wanita ita beranjak, lalu berdiri menghadap Braheim dan Haala. "Aku tertinggal oleh rombongan."


"Ah." Haala menurunkan pedangnya.


"Apa ada yang kulewatkan?"


"Hamba sempat membaca surat dari Penasihat Murat yang dikirimkan kemarin malam. Dia mengatakan Rodion Szilard sudah menjemput semua rakyatnya," jawab Haala pada Braheim.


"Aku mengerti. Lalu, apa kau melihat pengawal bayanganku?"


Wanita itu mengangguk. "Mereka pergi menghadap Devraaj Narvinder."


"Apa? Ada perlu apa bayi itu dengan pengawal bayanganku?"


"Dia meminta mereka untuk mengantarkan sisir yang dibuat khusus oleh Raja Lagaam dan enam raja lainnya," jawab wanita itu.


Braheim tertawa, rasa jengkel yang sebelumnya membuat sesak seketika sirna. Tingkah putra sambungnya yang tumbuh lebih cepat dari lobak itu memang tidak bisa diumpat. Sebab bagaimanapun Vinder adalah bayi, bayi yang tepat di hari ini genap berusia empat bulan. Sekarang tidak ada lagi alasan untuk Braheim menolak percaya jika Gaana berwujud wanita bak dewi kahyangan di depannya memang tidak memiliki niat jahat.


"Kalau begitu tunggulah. Aku akan meminta Vinder untuk menghubungi Rodion Szilard agar segera menjemputmu."


Wanita itu kembali mengangguk.


"Ada yang ingin kutanyakan sebelum pergi," tambah Braheim seraya berjalan mendekati wanita itu. "Aku tahu kau yang menggerakkan tubuhku, tapi dari mana kau tahu ada ular di ranjang panasku?"


"Aku melihatnya dari matamu."


Braheim memegang ujung sarung pedangnya, pun Haala.


"Seorang Jyostishee* berjanji memberikan kemampuannya padaku jika aku berhasil membuat Jihan Joozher tidak lagi membuat kontrak dengan Gaana," imbuh wanita itu.


Jyostishee* peramal masa depan yang berasal dari wilayah Narak.


"Seorang Jyostishee? Maksudmu Firdoos Shyamali? Ah, begitu rupanya. Jadi baik di masa lalu yang palsu maupun di masa depan dia adalah Jyostishee. Aku mengerti. Tapi tunggu, kenapa kami bisa melihatmu tanpa Vakr*?


Vakr* merupakan ramuan yang bisa membuat mata batin seseorang terbuka. Diketahui baru-baru ini jika ternyata Vakr memiliki efek jangka pendek serta jangka panjang. Efek jangka pendek yakni membuka mata batin, dan efek jangka panjang yakni menjadi sensitif terhadap mantra.


Wanita itu menggeleng. "Aku juga penasaran. Mungkin Devraaj Narvinder bisa menjawabnya."


Braheim mengangguk-angguk. "Ya, bayi itu memang seperti buku jawaban. Daripada itu, berarti kau bisa melihat masa depan? Kalau begitu bisakah kau melihat apakah kelak anak perempuanku benar-benar akan bersama Ejlaal Awlya?"


"Anak perempuanmu yang mana?"


"Apa maksudmu? Memangnya aku akan memiliki berapa banyak anak perempuan?"


"Dua," jawab wanita itu.


"Apa? Lalu yang mana yang akan bersama dengan Ejlaal Awlya?"


"Yang menjadi penerusmu."


Braheim tampak terkejut, pun Haala. Wajar saja. Selama ini yang mereka pikirkan hanya memiliki dua orang penerus, satu untuk mengisi singgasana Raja Kumari Kandam, serta satu yang lain untuk mengisi garis terdepan medan pertempuran. Mungkin karena sudah muak dengan pikiran buruk dan yakin jika kali ini Dewa Krpaya* akan sedikit melunak. Namun sayangnya tidak ada kata lunak untuk menempa iman sebuah umat.


Krpaya* merupakan Tuhan yang disembah orang Kumari Kandam.


Kini terpecahkan sudah teka-teki ucapan Vinder tentang Kumari Kandam yang ditakdirkan berisik. Bagaimana tidak? Komandan Perang yang dipimpin wanita saja nyaris membuat Kumari Kandam luluh lantak, bayangkan jika Ratunya? Dan lagi, hubungan beda kasta saja sudah membuat nenek moyang meringis, bayangkan jika hubungan antara Ratu Kumari Kandam dan putra dari tokoh antagonis dalam perang kebinasaan?


"Sepertinya kisah kita masih terbilang tenang, istriku."

__ADS_1


Haala hanya tertawa menanggapi Braheim, sambil meraih gandengan tangan hangatnya dan meninggalkan hutan.


__ADS_2