
Terlihat Braheim dan semua orang yang ada di dalam pelindung tengah kompak melihat ke arah sana, tepatnya ke arah para terdakwa sidang beberapa hari silam, Ejlaal Awlya, empat orang Mausam*, dan mantan Kepala Sipir Kumari Kandam. Braheim memutuskan untuk meringankan hukuman para Mausam dan mantan Kepala Sipir dengan syarat, pun Ejlaal. Waktu hukuman untuk para Mausam yang semula tidak pasti, kini Braheim putuskan menjadi empat tahun. Sementara mantan Kepala Sipir yang mendapat vonis Billa*, akan diberi kesempatan untuk menghapus satu dari tiga hukuman yang melilitnya.
Mausam* adalah pengendali cuaca dan musim.
Billa* adalah hukuman bercabang. Billa dikhususkan untuk abdi kerajaan saja. Ketika seorang abdi dijatuhi Billa, maka yang didapatkannya tidak hanya pemecatan secara tidak hormat tetapi juga pemotongan gaji sebanyak setengah dari masa pengabdiannya dan tidak bisa mencalonkan diri sebagai abdi kerajaan selamanya.
Dan khusus untuk Ejlaal yang divonis hukuman kurung seratus tahun atau Tamaasha*, akan mendapat keringanan dari jerat vonis tersebut karena kesaksian Putri Gaurika Chander dan Haala. Bahkan jika hasil penglihatan Ejlaal di masa depan terbukti bisa menghindarkan Kumari Kandam dari bahaya, Braheim juga berjanji akan memberi keringanan pada Ejlaal. Sejujurnya Brahiem bisa menjanjijkan yang lebih, membebaskan Ejlaal sepenuhnya dari semua vonis itu misalnya. Hanya saja Braheim belum yakin Ejlaal memihak pada orang yang lurus atau sebaliknya.
Tamaasha* merupakan alat penggal raksasa yang sering digunakan untuk menghukum para penjahat.
"Hamba merasa ini sedikit keterlaluan, Yang Mulia."
"Lihatlah juga dari sisi kemurahan hatiku, Murat Iskender." Braheim turun dari puncak gerbang utama Kerajaan Kumari Kandam.
"Tapi sisi kekejaman Anda lebih kuat, Yang Mulia." Murat mengekori Braheim.
Braheim menggerutu, "Kau pikir aku mengirim mereka karena kesal? Kau tahu aku juga sangat pemaaf, bukan? Mereka akan baik-baik saja jika bekerja sama. Jika lawannya manusia, mantan Kepala Sipir bisa mengatasinya. Tapi jika lawannya Shaapit*, para Mausam bisa mengambil alih. Dan yang paling penting kemampuan Ejlaal yang bisa memberi kita petunjuk tentang rencana Sanjeev Rajak yang lain."
Shaapit* merupakan makhluk supernatural yang jahat.
"Hamba mengerti, Yang Mulia. Tapi bagaimana jika mereka tidak berhasil melakukannya?"
"Mereka akan mengirim tanda."
"Anda tahu bukan itu maksud hamba, Yang Mulia. Tolong la–"
"Ya, baiklah. Aku akan mengirim Aswin untuk menyusul mereka," sela Braheim.
Murat hanya menanggapi Braheim dengan helaan napas lega. Jelas saja. Enam orang itu dikirim ke luar pelindung untuk berburu abu. Ya, abu, bukan kelinci atau rusa. Dan lebih tepatnya, abu korban Gaana. Menurut penglihatan Ejlaal, sang ayah akan menggunakan abu tersebut untuk mengulang kebangkitan massal di masa depan. Ejlaal dan yang lain pun mendapat tugas berburu abu di desa-desa yang terletak di pedalamam Kumari Kandam dengan hadiah keringanan hukuman. Jika tidak terjadi kendala yang berarti, mereka pasti akan kembali dalam empat hari.
"Daripada itu, bagaimana dengan persiapan para pengajar Vinder?"
"Mereka sudah siap dan akan tiba secepatnya, Yang Mulia," balas Murat.
"Baguslah. Pencuri itu harus segera disekolahkan. Kau tahu? Dia memanggil Haala dengan sebutan wanita itu. Dia juga berteriak pada Aryesh, Birousk, serta Zerdad yang jelas-jelas jauh lebih tua. Dan bahkan, berani memelototiku. Jika saja aku tidak takut terpental, demi apapun aku sudah menyeretnya keluar dari portal suci dan menyerahkannya pada Kepala Pengurus Dapur Kumari Kandam untuk dijadikan kalkun."
"Sisi kekejaman Anda memang jauh lebih kuat, Yang Mulia."
...•▪•▪•▪•▪•...
Sudah empat hari. Namun mereka, Ejlaal, para Mausam dan mantan Kepala Sipir Kumari Kandam belum juga terlihat batang hidungnya. Tak ada pula tanda apapun yang mereka kirimkan ke langit Kumari Kandam. Sang langit masih tampak tenang seperti hari-hari lalu. Entah kabur atau akhirnya menjadi pemburu yang diburu, yang jelas mereka belum juga kembali sampai hari ini. Dan sesuai janji Braheim, Aswin dan beberapa orang prajurit Kumari Kandam pilihan ditugaskan untuk menyusul mereka.
" … Dan segera kirimkan tanda jika kalian bertemu iblis penjiplak itu."
"Sesuai perintah Anda, Yang Mulia." Aswin dan para prajurit membungkuk pada Braheim.
Namun ketika Aswin dan para prajurit baru akan menaiki pelana kuda masing-masing, bumi yang mereka pijaki mendadak bergetar. Bukan. Sungguh bukan karena kehadiran iblis penjiplak atau kesabaran Vinder yang kembali dipermainkan amarah, melainkam karena Balavaan* yang kini tengah berlari mendekati pelindung Kumari Kandam. Sosok singa raksasa berbulu emas itu sudah sangat membuat takjub, tetapi nyatanya ada sosok lain yang berkali lipat lebih menakjubkan. Jangan tanya siapa. Sebab sudah jelas siapa, bukan?
Balavaan* satu dari tiga makhluk supernatural peliharaan Daxraj Natesh yang berbentuk singa raksasa.
Ya. Vinder. Namun bukan Vinder berusia lima tahun yang sering berkeliaran dengan memamerkan perutnya yang gemuk, pun bukan Vinder berusia sepuluh tahun yang masih gemar menyisir rambut dengan sisir favoritnya. Tetapi Vinder berusia sembilan belas tahun yang demi apapun, memiliki ketampanan yang tidak cukup digambarkan dengan kata sempurna. Melihat sosok Vinder dewasa membuat semua orang mulai tersadar, jika ternyata Dewa Krpaya* hanya memberikan sedikit sekali ketidakadilan pada Daxraj Natesh.
Krpaya* merupakan Tuhan yang disembah orang Kumari Kandam.
"Beri salam."
"Salam matahari," balas Vinder pada Braheim.
Braheim menahan tawanya. "Katakan keperluanmu."
Vinder melompat dari Balaavan. "Untuk makan siang."
"Makan siang hanya bisa didapatkan dengan keringat."
"Kau tidak melihat keringatku yang bercucuran sederas ini, matahari?" Vinder menunjuk wajahnya yang ya, memang cukup berkeringat.
"Tidak jika itu keringat dari hasil perbuatan kotor seperti mencuri."
__ADS_1
Vinder menepuk Balavaan. "Dengan rupa sesempurna ini siapa pun akan memberikan apapun padaku meski aku tidak memintanya. Jadi untuk apa mencuri?"
Braheim mulai kesal, ketika menyadari ada satu sifat Daxraj Natesh yang diwariskannya pada bocah laki-laki yang lain daripada pemimpin suku pengembara lainnya itu.
"Mereka diserang Serigala Jaadoo," imbuh Vinder.
"Apa? Maksudmu Ejlaal dan yang lain?"
Vinder hanya mengangguk sambil terus menepuk Balaavan.
"Lalu di mana mereka sekarang?"
Vinder tak bersuara, hanya menunjuk ke arah barat laut. Tak berselang lama, terlihat dari arah itu Bhookamp* sedang berlari menuju Vinder. Ada sesuatu di belakang Bhookamp, entah apa, masih terlalu samar. Namun setelah Bhookamp semakin mendekat, barulah sesuatu yang membuat penasaran itu terlihat jelas. Ternyata Bhookamp menarik sebuah alas yang terbuat dari kulit pohon, dan di atas alas itu tampak Ejlaal, para Mausam, dan mantan Kepala Sipir Kumari Kandam terbaring tak sadarkan diri dengan luka cakaran di sana sini.
Bhookamp* satu dari tiga makhluk supernatural peliharaan Daxraj Natesh yang berbentuk gajah raksasa.
"Cepat bawa mereka ke istana utara*." Spontan Murat berteriak.
Istana utara* atau yang lebih dikenal dengan istana gaduh, merupakan istana yang paling banyak dikunjungi. Karena ada rumah sakit, akademi meramu obat, juga kebun tanaman herbal langka. Tabib Kerajaan juga tinggal di sini sebab selain bertanggung jawab pada para pasien selama dua puluh empat jam, dia juga mengajar di akademi.
"Masuk." Vinder menunjuk sembarang arah dan seketika portal suci terbuka. Balavaan dan Bhookamp pun langsung berlari saling mendahului memasuki portal suci.
"Ada yang lain yang kau inginkan selain makan siang?" tanya Braheim.
Vinder kembali tak bersuara, sibuk memandangi lautan orang di sekitar yang juga tengah memandanginya dengan sorot mata terpana.
"Mereka." Vinder menunjuk sekumpulan wanita yang tak lain adalah selir-selir Kumari Kandam.
"Apa?"
"Beri aku harem."
...•▪•▪•▪•▪•...
Sepertinya Kumari Kandam tidak hanya pantas menyandang sebutan benua paling bermasalah tetapi juga benua paling gaduh. Bagaimana tidak? Setelah memasuki gerbang utama Kerajaan Kumari Kandam, Vinder langsung membuat Kepala Pengurus Istana Baru* serta semua pelayan seakan sedang bermaraton. Vinder berkata ingin langsung tidur setelah makan tetapi dirinya ingin tirai di kamar tidurnya diganti dengan tirai berwarna hitam, lalu ingin dibuatkan tempat khusus untuk sisir favoritnya, dan ingin semua penerangan diganti dengan seratus lentera yang digantungkan di langit-langit.
Istana selatan* merupakan istana di mana raja tinggal dan melakukan segala aktivitas yang bersifat pribadi. Istana ini dibangun di atas lahan seluas lima ratus hektar. Meski demikian hanya istana tersebut satu-satunya bangunan yang ada di sana. Selebihnya, istana selatan hanya ditanami pohon bambu.
" … Satu lagi."
Kepala Pengurus Istana baru beserta para pelayan hanya membungkuk sembari berusaha menelan air liurnya.
"Panggilkan Kepala Pengurus Dapur dalam tiga menit," imbuh Vinder.
Gila! Ya. Tampan tapi gila. Bagaimana mungkin bertolak dari istana baru ke dapur utama kerajaan hanya dalam waktu tiga menit? Meski berlari tunggang langgang sekali pun tidak akan sempat. Tapi apa boleh buat jika mereka harus melayani Tuan yang menjengkelkan sekaligus mendebarkan? Dan Kepala Pengurus Dapur bertubuh buntal itu pun tiba di istana baru tepat sebelum tiga menit itu berakhir. Padahal Kepala Pengurus Dapur sudah berniat memaki Vinder jika sudah berhadapan dengannya. Tapi bagaimana cara memaki ciptaan berlebihan Dewa Krpaya yang kini tengah berbaring di ranjang dengan bertelanjang dada?
"Maaf."
"Maaf?" Kepala Pengurus Dapur mengulangi ucapan Vinder secara spontan.
"Waktu itu aku yang mencuri."
"Ya?"
"Aku sangat lapar. Dan tiga makhluk abadi itu hanya memberiku ubi setiap hari. Mereka mengatakan suku kami hanya memakan itu. Menyedihkan, bukan? Kupikir kita hidup untuk Tuhan, koin emas, dan makanan. Apa kau setuju?"
"Ya. Anda benar. Tidak masalah. Selain memasak hamba juga pandai membersihkan dapur. Dan lagi, Yang Mulia Braheim sangat kaya. Jadi tidak masalah jika Anda bahkan mencuri persediaan makanan kami untuk tujuh generasi," sahut Kepala Pengurus Dapur sambil sesekali menoleh menyembunyikan wajahnya yang memerah.
"Terima kasih. Kalau begitu, bisa beri aku makanan?"
"Ya. Tentu-tentu. Hamba akan memberikan apapun. Silakan katakan apa yang ingin Anda makan."
"Idli* dan Tandoori*."
Idli* bentuk idli ini menyerupai pancake atau mirip dengan serabi ala Indonesia. Idli terbuat dari fermentasi lentil dan beras yang dikukus dan biasanya dimakan bersama dengan kari sayuran pedas.
Tandoori* merupakan masakan ayam yang berasal dari daerah Punjab. Tandoori telah ada sejak zaman kesultanan Mughal di Asia Selatan dan bahkan menyebar hingga di Asia Tengah dan Asia Tenggara. Tandoori dibuat dari daging ayam yang direndam adonan susu asam kental dengan garam masala, bumbu, dan lada khas India.
__ADS_1
Kepala Pengurus Dapur membungkuk. "Akan segera hamba siapkan."
"Dalam lima belas menit?"
Kepala Pengurus Dapur tidak menjawab, hanya keluar dari kamar tidur Vinder dengan langkah secepat angin. Namun perlombaan maraton itu tidak hanya berakhir di Kepala Pengurus Istana Baru dan Kepala Pengurus Dapur melainkan merata ke semua Kepala Pengurus dan para pelayan. Dan di tengah kegaduhan itu serta rasa puas Vinder memanipulasi caci maki orang-orang dengan rupa berlebihannya, Haala datang, membawakan sisir Vinder yang tertinggal di dalam portal suci sekaligus menanyakan keadaannya setelah bertarung melawan Serigala Jaadoo demi menyelamatkannya, Ejlaal dan yang lain.
"Apakah kau terluka?" Haala meletakkan sisir favorit Vinder di meja di samping ranjang.
"Siapa yang terluka dan siapa yang khawatir. Konyol sekali."
"Aryesh sudah membuatkan ramuan untukku. Aku sudah merasa lebih baik."
Vinder tak mersepon, masih setia membuang pandangannya ke langit-langit kamar.
"Kalau begitu be–"
"Seharusnya biarkan saja mereka menjadi santapan Serigala Jaadoo. Lagipula umur mereka hanya tinggal menghitung hari, jadi tidak ada gunanya sampai keluar dari portal suci dan mempertaruhkan nyawa sendiri."
Haala tersenyum. "Setidaknya masih ada yang bisa mereka lakukan sebelum hari mereka habis, bukan?"
"Jika aku tidak datang kalian semua hanya akan mati."
"Kurasa tidak. Aku bisa mengalahkan Serigala Jaadoo bahkan jika mereka berjumlah sepuluh kali lipat. Aku hanya kesulitan karena mengenakan ini." Haala menunjuk Saree* yang dikenakannya.
Saree* atau shari adalah jenis kain yang dipakai wanita di negara India, Bangladesh, Nepal, dan Sri Lanka. Saree atau shari terdiri dari helaian kain yang tidak dijahit, variasinya beragam dengan panjang 4-9 meter yang dipakaikan di badan dengan bermacam-macam gaya.
"Keras kepala." Vinder memunggungi Haala.
Haala beranjak. "Sudah cukup membuat semua orang sibuk. Lanjutkan lagi esok hari. Biarkan mereka beristirahat, dan kau juga."
Tak ada jawaban. Vinder bergeming. Haala pun berlalu sembari tersenyum. Ya, walau bagaimanapun Vinder tetaplah anak-anak. Tak peduli meski usianya di dalam dan di luar portal suci sudah dewasa, faktanya usia Vinder yang asli tetaplah masih hitungan bulan. Vinder adalah bayi, jadi Haala tidak pernah ambil hati akan perlakuan Vinder padanya. Terlebih, Vinder pasti tahu jika Haala tidak pernah mencintai sang ayah.
"Ah, jadi di sini pahlawan yang sebenarnya."
Haala membungkuk menanggapi Braheim. "Panjang umur, dan terberkatilah selalu, matahari Kumari Kandam."
"Apa kau terluka?"
"Hamba baik-baik saja, Yang Mulia. Aryesh sudah membuatkan hamba ramuan."
"Tidak ditempatkan di dalam botol hitam, bukan?"
Spontan Haala tertawa, diikuti Braheim setelahnya.
"Berkatmu Ejlaal dan yang lain bisa diberikan pertolongan tepat waktu oleh tabib dan berhasil melewati masa-masa kritis."
"Sudah menjadi tugas hamba, Yang Mulia," balas Haala.
"Berhentilah bertugas jika sudah mengenakan Saree yang indah ini. Beri kesempatan pada Aswin dan pasukan tempurmu itu agar terlihat becus sedikit."
Haala kembali tertawa.
"Jadi apa yang kau minta sebagai imbalan?"
"Tidak ada, Yang Mulia. Hamba sudah cukup dengan Ejlaal dan yang lain yang selamat.
"Seharusnya pencuri itu menjawab seperti ini dan bukan malah meminta harem."
"Meminta harem?" Haala tampak terkejut.
"Ya. Dia meminta harem sebagai imbalan. Memangnya apa yang bisa dilakukan bayi sepertinya di harem? Bukankah usianya yang sebenarnya baru tiga bulan? Apa dia berniat menyaingi Murat di–"
"Bumi akan dilanda kekeringan selama sepuluh tahun sebagai akibat dari perang kebinasaan."
Spontan Braheim serta Haala berbalik mengikuti suara yang berasal dari kamar tidur Vinder, dan terlihat si pemilik kamar, tengah berdiri di mulut pintu sambil berkecak pinggang menghadap Braheim serta Haala.
"Jadi menikahlah sebelum itu. Hah, dasar lambat," tambah Vinder seraya berlalu membanting pintu kamarnya.
__ADS_1
Braheim menggeleng-geleng. "Sepertinya Daxraj Natesh pernah berselingkuh dengan Jihan Joozher."