TEARS OF KUMARI KANDAM

TEARS OF KUMARI KANDAM
CHAPTER 40


__ADS_3

Terlihat seorang pelayan berlari tunggang langgang keluar dari gerbang istana prajurit, seakan nyawanya yang tak berharga tengah diincar malaikat maut. Tidak terhitung sudah berapa kali pelayan wanita itu tersungkur menabrak pelayan-pelayan yang lain.


Pelayan yang diketahui mengabdi untuk Ratu Kumari Kandam tersebut hanya terus memacu langkahnya, demi bisa segera menemui sang ratu untuk mendapatkan satu kantong koin emas, atas informasi berharga yang diperolehnya secara tidak sengaja.


" ... adik Komandan Haala dirasuki Gaana*, dan keberadaannya tidak diketahui sampai sekarang," terang si pelayan.


Gaana* makhluk pemakan jiwa-jiwa suci yang tinggal di Hutan Mook.


Jihan masih membisu. "Hamba bersumpah, Yang Mulia. Hamba benar-benar mendengar semua pembicaraan Komandan Haala dan kakeknya tanpa ada yang terlewat satu pun."


*FLASHBACK ON*


Kakek Haala menggeleng. "Bukan disembuhkan. Tapi dibunuh."


"Bagaimana bisa kakek melakukan hal semengerikan itu pada cucu kakek sendiri?"


"Saat jiwa seseorang dimakan sebagian oleh Gaana, dia menjadi bisu. Saat jiwa seseorang dimakan habis oleh Gaana, dia menjadi abu. Tapi saat seseorang dirasuki oleh Gaana, dia hanya tinggal cangkang," jawab kakek Haala.


Haala beranjak. "Tidak. Laasya belum mati. Kita hanya perlu mengeluarkan Gaana dari tubuhnya. Lalu setelah itu aku akan mencari ramuan untuk menyembuhkannya."


"Memang ada banyak ramuan untuk menjeda kematian, tetapi tidak ada ramuan untuk menghidupkan kembali orang mati. Bahkan sekali pun kau memintanya pada suku pengembara. Mereka tidak akan bisa meramunya."


Haala mengusap air matanya kasar. "Suku pengembara adalah suku terhebat di dunia. Aku yakin mereka memiliki ramuan apapun. Dan lagi, dari mana kakek tahu mereka tidak bisa meramu ramuan tertentu tanpa memastikannya?"


"Karena mereka bukan Tuhan, Haala."


"Aku akan melindungi Laasya sampai aku berhasil memastikan jika ramuan itu memang tidak ada di dunia ini."


"Dengan mengorbankan lebih banyak jiwa-jiwa orang tak berdosa?" tanya kakek Haala.


"Aku akan berusaha mencegahnya mendapat makanan."


Kakek Haala kembali menggeleng. "Justru sebaliknya, Haala. Kau memberinya kesempatan untuk mendapatkan lebih banyak makanan."


"Sudah kukatakan aku akan berusaha mencegahnya mendapat makanan!"


"Maka habislah Kumari Kandam karena usaha sia-siamu itu." Kakek Haala meninggalkan ruang tunggu istana prajurit.


*FLASHBACK OFF*


"Mohon izin berbicara, Yang Mulia."


Jihan mengangguk pada pelayannya yang lain. "Haruskah hamba mengusirnya?"


"Ya."


"Yang Mulia, mohon belas kasih Anda."


"Apa sekantong koin emas cukup?" tanya Jihan.


"Terima kasih, Yang Mulia. Terima kasih. Belas kasih Anda tiada tara."


Dan pelayan wanita yang baru empat hari mengabdikan diri pada Ratu Kumari Kandam itu pun diusir, dengan sekantong koin emas yang disembunyikan rapat-rapat di balik jubah putihnya yang lusuh. Tak ada kata menyesal. Dua hari pengabdian untuk sekantong penuh berisi koin emas adalah kemurahan Dewa.


Jihan masih memandangi punggung mantan pelayannya, yang tampak sangat jelas sedang kegirangan. Perkataan pelayan itu masih terasa hangat di telinga Jihan. Kata demi katanya yang membuat jantung Jihan kembali berdebar takut, sekaligus terpacu. Terpacu untuk mulai merancang seribu siasat licik.


Selama ini Jihan hanya sibuk memanjakan ketakutannya. Karena Jihan yakin, cepat atau lambat Gaana akan datang dan memberinya akhir yang mengerikan. Sebisa mungkin Jihan menghindari bertemu orang baru, mengingat Gaana yang dengan mudahnya bisa merampas raga milik seorang Jyostishee*.

__ADS_1


Jyostishee* peramal masa depan yang berasal dari wilayah Narak.


Jihan juga selalu membawa air suci, menyanyikan pujian ini itu, dan bahkan meminta siapa pun yang ingin menemuinya untuk terlebih dahulu membasuh wajah dengan air suci. Tanpa terkecuali, Raja Kumari Kandam. Hal tersebut Jihan lakukan demi menutup semua celah yang bisa diterjang malaikat mautnya.


"Rasa takut ini hanya membuatku lemah. Sekali pun ditakdirkan untuk mati, setidaknya aku harus melakukan perlawanan terakhir, bukan?" gumam Jihan dalam hati.


" ... Menurut pendapat hamba, sebaiknya pelayan itu disingkirkan, Yang Mulia ...."


Jihan masih bergumam dalam hati, "Haruskah aku memberitahu Haala ke mana makhluk terkutuk itu pergi?"


" ... Hamba tidak ingin pelayan itu membuat situasi Anda di masa depan menjadi sulit ...."


"Mereka pasti akan langsung bertarung. Jadi secara tidak langsung, aku berhasil menyingkirkan dua makhluk terkutuk sekaligus," gumam Jihan lagi.


" ... Yang Mulia? Yang Mulia?"


"Apa? Kau mengatakan sesuatu?"


"Ya, Yang Mulia. Hamba khawatir pelayan itu akan membuka mulut, jadi akan lebih baik jika disingkirkan," balas pelayan Jihan.


Jihan beranjak. "Biarkan dia bersenang-senang dengan koin emasnya sedikit lebih lama. Daripada itu, ada yang harus kau lakukan."


"Beri hamba perintah, Yang Mulia."


...¤○●¤○●¤○●¤...


"Pengawal! Bawa Haala Anandmayee ke hadapanku sekarang juga!" seru Braheim.


Seketika istana yang tersohor akan kedamaiannya itu pun menjadi kacau balau. Kekacauan tersebut bermula ketika kakek Haala tiba-tiba meminta izin untuk menghadap Braheim. Braheim pun langsung mengizinkan, sebab sedari pagi terus merasakan sebuah firasat yang sangat menjengkelkan.


Beruntungnya kakek Haala tidak lihai berbasa-basi, sehingga sesaat setelah Braheim menerima salamnya, dirinya langsung menyampaikan maksud kunjungannya. Sebaris kalimat yang diringkas dengan keyakinan, kekalutan, dan kepasrahan itulah yang sukses mengacaubalaukan istana selatan*.


"Cucu termuda hamba telah dirasuki Gaana, dan cucu tertua hamba berniat melindunginya meski harus mengorbankan dirinya sendiri."


Butuh waktu lama untuk Braheim mencerna apa yang dikatakan pria paruh baya di depannya. Hingga kenyataan menamparnya, menyeret kesadarannya, dan membuatnya meluapkan kemurkaan lewat sebuah titah yang terlintas begitu saja dalam pikirannya yang kian didekap firasat menjengkelkan.


"Cucu tertua hamba sangat keras kepala," tambah kakek Haala.


"Aku tahu. Aku tahu lebih dari siapa pun."


"Cucu tertua hamba juga tidak mempan dengan iming-iming."


Braheim kembali menghela napas. "Jika mempan dengan iming-iming, dia sudah mengandung penerus tahta sekarang."


Kakek Haala berdeham, "Cucu tertua hamba juga tidak mudah menyerah."


"Benar. Bahkan tak terhitung sudah berapa kali dia menolak kunaiki."


Kakek Haala kembali berdeham, "Maksud hamba, tidak mudah melawan orang keras kepala yang tidak mempan dengan iming-iming dan tidak mudah menyerah."


Braheim hanya menoleh pada kakek Haala. "Mohon serahkan masalah ini pada keluarga hamba. Lalu mohon ampuni permintaan yang lancang ini, tapi mohon bebaskan menantu hamba hanya sampai masalah ini selesai, Yang Mulia."


"Alasannya?"


"Karena hanya orang mati yang bisa menemukan jejak sesamanya."


"Apa maksud da--"

__ADS_1


"Yang Mulia, istana tenggara* dalam bahaya. Gaana muncul di sana." Seorang pengawal tiba-tiba muncul.


Istana tenggara* sering disebut istana ratu karena seluruh tugas harian ratu berlangsung di sini. Selain itu, istana tenggara juga menjadi tempat tinggal orang-orang dengan status tinggi seperti penasihat raja, menteri, komandan perang, kepala penyidik, serta tamu-tamu dari luar Kumari Kandam.


Lagi-lagi Gaana berhasil membobol gerbang pertahanan Kerajaan Kumari Kandam. Entah karena menemukam kaki tangan yang baru, atau kaki tangan yang lama kembali mengabdi, yang pasti tidak mungkin makhluk dari jahanam itu tahu ada makanan segar di dalam istana tenggara hanya dengan berbekal penciumannya.


"Lalu, banyak saksi melihat Komandan Haala pergi ke arah timur. Bersama Gaana," imbuh si pengawal.


...¤○●¤○●¤○●¤...


Haala tersenyum memandangi puluhan kapal raksasa yang serentak melepas rantai jangkarnya, meninggalkan langit Kumari Kandam yang memesona, sememesona penguasanya. Akhirnya Haala bisa bernapas lega, setelah memastikan sendiri kekhawatirannya yang menjadi sekadar kekhawatiran belaka.


Empat hari yang lalu, setelah berdebat hebat dengan sang kakek perihal nasib adik perempuan semata wayangnya, Haala langsung pergi ke Aasha*. Haala bersujud di kaki Dewa Krpaya* dengan tangis tertahan. Tak ada protes, umpatan, atau kutukan. Hanya tangis yang ditahan mati-matian agar tidak pecah.


Aasha* kuil terbesar di Kumari Kandam.


Krpaya* merupakan Tuhan yang disembah orang Kumari Kandam.


Sekian menit memasrahkan diri pada Sang Dewa, membuat semangat Haala yang semula berkobar perlahan mulai padam. Semangat untuk melindungi adiknya yang telah dirasuki Gaana dengan cara apapun. Dewa Krpaya menyadarkan Haala jika semangatnya hanya akan membawa Kumari Kandam pada kesakitan.


Meski sulit untuk diterima, faktanya yang harus Haala prioritaskan saat ini bukan lagi sang adik, tetapi Gaana. Dan meski tidak mungkin membunuh Gaana dengan pasukan tempurnya atau pedang pusaka peninggalan leluhurnya, setidaknya Gaana masih bisa dilemahkan jika tidak mendapat makanan.


Haala pun mulai berpikir tentang keberadaan Gaana saat ini. Dan belas kasih Dewa Krpaya pun membantu Haala terbebas dari pikiran peliknya. Entah bagaimana Haala tiba-tiba meyakini jika Gaana ada di Kam*, mengikuti arak-arakan rombongan selir yang dipulangkan karena gagal pada ujian tahap pertama.


Kam* sebuah jalan pintas di Kumari Kandam yang biasa digunakan para nelayan menuju pelabuhan.


"Syukurlah mereka bisa pulang dengan selamat."


"Semua berkat Dewa Krpaya yang telah mengirim Anda," jawab seorang pria pada Haala.


Haala hanya tersenyum. "Apa Anda berencana untuk menginap? Hamba akan segera mencarikan penginapan."


"Terima kasih, tapi aku harus kembali."


"Semoga Dewa Krpaya selalu melindungi Anda, komandan. Mohon maaf karena hamba tidak bisa mengantar kepulangan Anda."


"Bagaimana bisa aku merepotkan nelayan nomor satu di Kumari Kandam lebih dari ini?"


Si nelayan tersenyum. "Sebuah kehormatan bisa menjadi bantuan untuk Anda, komandan."


"Sekali lagi terima kasih. Aku tidak akan melupakan bantuanmu."


Si nelayan hanya membungkuk hormat, dan tak lama ikut menarik tali kekang kudanya. Namun betapa kagetnya nelayan berusia pertengahan dua puluh tahun itu, saat mendapati gerombolan pria asing yang menatapnya curiga. Terlebih, menuduhnya berkomplot dengan Haala yang adalah kaki tangan Gaana.


"Tunggu, apa maksud kalian? Itu tidak mungkin."


"Kami melihat dengan mata kepala kami sendiri kau sangat akrab dengan bawahan iblis itu!" balas salah seorang pria pada si nelayan.


"Aku hanya membantu Komandan Haala untuk mengejar arak-arakan rombongan selir da--"


"Itulah tujuannya! Dia ingin menangkap para selir untuk dijadikan makanan Gaana!" Pria lain menunjuk Haala dari kejauhan.


"Tidak mungkin. Komandan Haala malah melindungi rombongan selir itu. Beliau membekali mereka dengan sebotol air suci. Aku saksinya karena aku turut serta membagikannnya."


Gerombolan pria itu melihat ke arah satu sama lain. "Dan kalau pun benar Komandan Haala adalah kaki tangan Gaana, untuk apa beliau malah kembali ke Kumari Kandam? Bukankah itu sama saja dengan bunuh diri?" imbuh si nelayan.


"Tapi dia buronan. Lihatlah ini. Yang Mulia Raja sendiri yang mengeluarkan perintah ini."

__ADS_1


Si nelayan menerima selebaran dari salah satu gerombolan sambil bergumam, "Ya Dewa."


__ADS_2