TEARS OF KUMARI KANDAM

TEARS OF KUMARI KANDAM
CHAPTER 107


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan selama lima jam penuh, akhirnya Jihan tiba di rumah mendiang sang kekasih. Rumah itu terletak di salah satu desa di pesisir yang kabarnya juga pernah didatangi pemimpin suku pengembara yang bangkit dari kubur. Hawa yang tetap panas meski di musim penghujan, debur keras ombak yang selalu terjaga, dan aroma ikan makerel di sana sini, membuat Jihan tak ragu mengatakan jika penjara bawah tanah Kumari Kandam jauh lebih layak disebut sebagai tempat tinggal.


"Ini jahanam," gumam Jihan seraya turun dari kereta kuda.


Jihan memandangi rumah di depannya. Itu adalah rumah paling besar dan paling bagus di antara rumah yang lain. Ya, wajar saja. Upah mereka yang bekerja untuk Svarg* memang tak main-main. Mereka bisa mendapatkan satu kantong koin emas dari pelanggan biasa, dan lima kantong koin emas dari ratu atau selir. Itu hitungan untuk satu pelanggan dalam dua jam, dan mereka biasa bekerja selama dua puluh empat jam. Meski begitu tetap saja tidak ada gunanya membangun rumah besar dan bagus di jahanam, bukan?


Svarg* adalah tempat penampungan para budak pria berwajah rupawan. Sebagian dari mereka dikirim ke rumah bordil, dan sebagian lagi dikirim secara rahasia ke istana ratu atau harem.


"Ayo melihat-lihat sebentar dan pergi. Aku benci de--"


"Salam. Maaf atas keterlambatan hamba, Putri. Perkenalkan hamba Faakhir Samama."


Jihan menoleh ke asal suara, dan cukup terkejut mendapati pria yang sangat mirip dengan mendiang sang kekasih.


"Silakan. Ini kuncinya, Putri." Faakhir menyerahkan kunci.


"Kenapa kau berikan padaku?"


"Karena rumah ini sudah menjadi milik Anda, Putri," balas Faakhir.


"Apa?"


"Tuan Murat sudah membelinya atas nama Anda." Faakhir menyodorkan sebuah gulungan pada Jihan. "Hamba juga sudah mengganti hak kepemilikan rumah ini sesuai perintah Tuan Murat."


"Dia tidak pernah memberiku hadiah, dan sekali memberi hadiah, dia memberiku sebuah rumah di jahanam. Murat Iskender memang yang paling sialan di dunia." Jihan mengambil kasar kunci dan gulungan itu dari Faakhir.


"Jika ada yang ingin Anda tanyakan tentang rumah ini atau tentang Firdoos, Anda bisa mengirim pelayan ke sana." Faakhir menunjuk kapal di ujung pesisir. "Hamba tinggal di sana."


"Aku tidak akan pernah mengirim pelayanku ke sana."


Faakhir membungkuk. "Kalau begitu hamba mohon undur diri."


Jihan tak membalas, hanya menyerahkan kunci pada salah satu pelayan dan memintanya untuk segera membuka rumah itu.


KLEK


Pintu terbuka, dan seketika aneka aroma tanaman herbal langsung menggelitik indra penciuman Jihan berikut para pelayan yang sedari tadi mengekorinya. Rumah yang aneh. Bagaimana bisa suasana di luar dan di dalam rumah jauh berbeda? Hawa yang selaras dengan musim, damai tanpa terdengar sedikit pun suara ombak, pun harum yang tidak tercemar ikan makerel yang sangat Jihan benci. Ternyata benar apa kata orang-orang taat di luar sana, selalu ada firdaus di balik jahanam.


"Putri, haruskah hamba menyalakan perapian?" Seorang pelayan mendekati Jihan, membuyarkannya yang terbawa suasana.


"Ya. Siapkan juga minuman hangat dan camilan."


"Sesuai perintah Anda, Putri."


Sementara para pelayan sibuk memenuhi perintahnya, Jihan kembali berkeliling. Rumah itu berlantai satu, tanpa gudang penyimpanan bawah tanah maupun kolam ikan makerel. Sebaliknya, ada kebun tanaman herbal di sebuah ruangan kecil yang dibuat seperti rumah kaca. Jihan mengenal beberapa jenis tanaman itu, berdasar pengalamannya menjadi "tabib" wakil pemimpin suku pengembara. Itu adalah tanaman yang biasa digunakan untuk penyakit ringan seperti demam, pilek, sakit perut dan luka bakar.


"Ternyata aroma tubuhnya berasal dari tanaman-tanaman itu." Jihan membuka kamar pertama.


Kosong. Tidak ada apapun di dalam kamar di samping perapian, begitu juga dengan kamar kedua. Tersisa satu kamar terakhir. Itu pasti kamar yang diklaim Murat bisa mengobati kerinduannya pada Firdoos Shyamali. Jihan pun bergegas memasuki kamar itu. Kamar yang sempit dengan perabotan yang bisa dihitung jari. Debu tebal yang menempel di sana-sini terutama lantai, membuat bekas jejak kaki tampak sangat jelas. Entah Murat atau Faakhir, yang pasti satu di antara mereka belum lama memasuki kamar itu.


"Bahkan sarang tikus saja lebih luas dari kamar ini." Jihan mengambil acak tumpukan buku di meja. "Cara menemukan belahan jiwa? Cih. Dasar tidak berguna."


Jihan meninggalkan meja seukuran setengah meja riasnya itu, dan beralih menuju lemari pakaian. Ada banyak pakaian pria yang tergantung rapi, pun pakaian wanita. Pasti pakaian wanita itu milik pelanggan Firdoos yang bosan bergelut di ranjang rumah bordil. Memang, tempat tak biasa seringkali mengundang sensasi bercinta yang berbeda, contohnya di kamar seukuran selokan itu. Jihan yang pernah bercinta di kandang kuda hingga di pusara mendiang ayah angkatnya, paham betul bagaimana sensasinya.


Jihan mengeluarkan salah satu pakaian wanita dari dalam lemari. "Sepertinya aku pernah melihat pakaian ini." Jihan mengamati pakaian berwarna putih metah itu, sambil berusaha mengingat. "Ah, benar. Di masa lalu yang palsu. Saat kami bertemu untuk yang kedua kalinya."


*FLASHBACK ON*


"Panjang umur, dan terbekatilah selalu, bulan Kumari Kandam." Firdoos membungkuk pada Jihan yang baru saja membukakan pintu.

__ADS_1


"Kau?"


"Benar, Yang Mulia. Ini hamba. Saat itu hamba tidak sempat memperkenalkan diri. Perkenalkan, hamba Firdoos Shyamali, penasihat raja sementara."


Jihan berbalik, lalu melangkah menuju ruang tamu. "Bagaimana bisa pria yang bekerja di Svarg bisa diterima bekerja di posisi yang paling dekat dengan raja?"


"Sungguh tidak seperti yang Anda pikirkan, Yang Mulia. Hamba benar-benar menempuh ujian yang sulit untuk sampai di posisi ini da--"


"Buktikanlah jika dirimu bukan jelmaan iblis sialan itu," sela Jihan.


Firdoos mengurungkan niatnya menarik kursi. "Apa yang Anda ingin hamba lakukan untuk membuktikan?"


"Apapun."


Firdoos mengeluarkan sesuatu dari dalam jubahnya. "Baru-baru ini Kumari Kandam membuat senjata bernama Gandh*, dan iblis sialan yang Anda maksud cukup takut dengan itu. Meski dalam kondisi kuat, jika sedikit saja terkena Gandh, dia akan kesal dan terpaksa menampakkan diri."


Gandh* merupakan senjata baru yang baru-baru ini dibuat Kumari Kandam, berupa campuran garam dan air suci. Garam diketahui ampuh melemahkan Gaana yang setengah lintah, dan air suci memang sudah digunakan untuk mengusir iblis sejak ratusan tahun silam. Reaksi yang akan muncul jika Gandh mengenai tubuh Gaana adalah rasa perih yang perlahan berubah menjadi rasa seperti terbakar.


"Dari mana aku tahu itu Gandh yang asli?"


Firdoos tersenyum. "Gandh tidak akan bereaksi pada selain iblis sialan yang Anda maksud."


Jihan tak menjawab, hanya memerhatikan Firdoos yang tengah membasuh wajahnya dengan Gandh. "Apa ini sudah cukup, Yang Mulia?"


"Ya, untuk sekarang. Lalu, apa tujuanmu datang ke sini?"


"Untuk melindungi Anda, Yang Mulia," sahut Firdoos.


"Aku sudah dengar kabarnya dari surat yang dikirimkan Braheim pada Murat. Tapi aku masih tidak mengerti. Apa maksudnya dengan melindungiku?"


"Semua orang dievakuasi ke tempat aman, kecuali Anda, Yang Mulia."


"Ah, aku mengerti. Begitulah. Raja Kumari Kandam memang tidak memiliki belas kasih untuk para pendosa."


*FLASHBACK OFF*


"Bagaimana dia bisa mendapatkan pakaian yang sama persis? Pria yang aneh." Jihan mengeluarkan pakaian wanita yang lain. "Apa? Bukankah aku juga pernah mengenakan ini?"


*FLASHBACK ON*


"Anda tidak perlu khawatir, Yang Mulia. Para prajurit akan melindungi Anda sampai situasi kembali aman. Kalau begitu hamba mohon undur diri." Firdoos membungkuk pada Jihan.


"Tidak bisakah kau tetap tinggal?"


"Hamba harus pergi, Yang Mulia. Hamba harus bergabung dengan pasukan tempur Kumari Kamdam."


Jihan diam, tampak kecewa. "Mungkinkah Anda ingin ikut serta? Karena meskipun hanya satu orang, itu akan sangat membantu dalam memenangkan peperangan," imbuh Firdoos.


Jihan masih diam, masih kecewa. "Kalau begitu tetaplah di sini, Yang Mulia. Ini juga adalah tempat yang aman. Tapi jika Anda mendapati hujan mulai turun, pergilah ke tempat itu."


"Aku mengerti. Kembalilah dengan selamat. Aku akan menunggumu di mana pun itu."


Firdoos tersenyum, lalu kembali membungkuk. "Panjang umur, dan terberkatilah selalu bulan Kumari Kandam."


*FLASHBACK OFF*


"Cih. Menyebalkan. Bahkan sudah menjadi bangkai pun masih menyebalkan." Jihan mengusap air matanya cepat.


"Putri, minuman hangat dan camilan sudah siap."

__ADS_1


"Letakkan saja, dan kembalilah ke Sitaara," jawab Jihan tanpa menoleh pada pelayannya yang baru saja muncul di mulut pintu.


"Apakah Anda akan bermalam di sini?"


"Ya."


"Kalau begitu, haruskah hamba membersihkan kamar ini sebelum pergi?"


"Biarkan saja."


"Lalu kapan kami harus kembali, Putri?"


Jihan mengusap air matanya lagi. "Aku akan mengirim surat. Tinggalkan saja burung pengantar pesan."


"Sesuai perintah Anda, Putri. Kalau begitu hamba mohon undur diri."


Umpatan dua kuda jantan yang dipecut berkali-kali oleh kusir kian samar terdengar, digantikan tangis tertahan Jihan yang akhirnya tumpah. Jihan menangis sejadinya sambil memeluk pakaian terakhir yang dikenakannya di masa lalu yang palsu. Sakit. Demi apapun. Sakit ketika nyawa berada di ujung tanduk saja tidak seberapa sakitnya jika dibandingkan dengan sakit orang-orang yang mencintai belahan hati yang sudah mati. Langit sudah sepenuhnya dikuasai makhluk malam, namun sakit itu belum juga pergi.


KLEK


"Sudah?"


"Pergi."


Murat menghela napas. "Apa hanya kau satu-satunya orang yang tidak bersukacita di Kumari Kandam ini?"


"Aku tidak memiliki alasan untuk bersukacita."


"Bukankah kau menyukai festival? Kau selalu keluar diam-diam hanya untuk melihat kembang api, bukan?"


"Kau pikir aku benar-benar keluar untuk melihat kembang api?"


Murat melangkah mendekati Jihan yang duduk bersandar di bawah jendela. "Tidak. Kau keluar untuk bercinta dengan para pemain sirkus di kursi penonton. Aku hanya memilih kalimat yang santun."


Jihan mendecak menanggapi Murat, air matanya mulai berhenti menyesaki sudut-sudut matanya yang terlewat merah.


"Tak peduli meski kau menangis setiap hari, dia tidak akan kembali," imbuh Murat.


"Aku tahu."


"Maka kembalilah menjadi seperti dirimu yang dulu."


Jihan beranjak, dengan masih memeluk pakaiannya di masa lalu yang palsu. "Kau ingin aku menjadi kaki tangan Sanjeev Rajak?"


"Coba saja. Aku bersumpah akan langsung membunuhmu."


"Lalu kenapa aku harus kembali menjadi diriku yang dulu? Padahal aku baru saja terlahir kembali menjadi diriku yang lain."


"Yang Penasihat Murat maksud adalah kembali menjadi diri Anda yang kuat, Putri."


Spontan Jihan dan Murat menoleh ke mulut pintu.


"Semua orang mengenal Anda sebagai wanita yang kuat, cerdas, memiliki banyak keberuntungan dan tidak kenal luka. Penasihat Murat ingin Anda kembali menjadi diri Anda yang seperti itu," tambah Putri Chadna.


Jihan memandangi Putri Chadna dari ujung kepala hingga kaki. "Kau, Putri Chadna dari Chamakadaar?"


"Benar, Putri. Salam. Perkenalkan hamba Chadna Anaan."


"Seberapa jauh hubunganmu dengan si b*jat ini?" Jihan menunjuk Murat.

__ADS_1


"Hei, mulutmu itu benar-benar ha–"


"Kudengar tiga kandidat calon ratu berasal dari kerajaan yang bangkrut." Jihan berjalan menghampiri Putri Chadna. "Dia memang b*jat tapi harta kekayaannya termasuk yang paling banyak di antara bawahan Braheim Bhaavesh yang lain." Jihan memainkan rambut Putri Chadna yang terurai sebagian ke depan. "Jika kau berniat membuatnya menjadi gelandangan, bersiaplah untuk kujadikan kelinci percobaan."


__ADS_2