TEARS OF KUMARI KANDAM

TEARS OF KUMARI KANDAM
CHAPTER 101


__ADS_3

Kepala Penyidik dan Menteri Pertahanan, Ghanzafer El-Amin, kompak menujukan pandangan bingungnya pada para pelayan Kerajaan Kumari Kandam yang tampak sangat sibuk. Jelas ada yang mereka lewatkan selama pergi mencari kebenaran yang bisa menguatkan pernyataan Sayee. Keduanya pun bergegas mengikuti gerak sibuk para pelayan yang berlari menuju Milaan*.


Milaan* adalah sebuah taman yang ditumbuhi ratusan bunga mawar liar berwarna hijau.


Terlihat di sana, tepatnya di tengah-tengah Milaan, ada Braheim yang tampak serius membicarakan sesuatu dengan Menteri Luar Benua, Menteri Sosial, Menteri Hukum dan Menteri Agama. Kepala Penyidik dan Ghanzafer pun langsung buru-buru mengambil kursi. Keduanya tidak segera menumpahkan semua rasa penasarannya, sebab memahami situasi jauh lebih penting.


Dan betapa terkejutnya Kepala Penyidik berikut Ghanzafer setelah berhasil memahami sedikit situasi saat ini. Baru empat jam keduanya pergi meninggalkan tempat masing-masing, tetapi masalah lain sudah menunggu di depan pintu. Vinder kembali menangis, Sayee mencoba bunuh diri, dan pemimpin suku pengembara bangkit dari kubur?


" ... Apa yang membuat Anda tidak percaya akan kebangkitan pemimpin suku pengembara, Yang Mulia?"


"Karena Sanjeev Rajak masih berkeliaran di luar sana," balas Braheim pada Menteri Luar Benua.


"Maksud Anda, Sanjeev Rajak membangkitkan pemimpin suku pengembara?"


"Dia harus masuk ke dalam portal untuk melakukan sesuatu pada jasad Daxraj Natesh. Jika yang hanya membunuh orang saja tidak bisa menyentuh portal itu, apalagi yang bersekutu dengan Gaana seperti Sanjeev Rajak?" Braheim berbalik menanyai Menteri Sosial.


"Tapi kenapa Tuan Putri Jihan bisa menyentuh portal dan bahkan menembusnya?"


Braheim diam sesaat, menimang jawaban untuk Menteri Hukum. "Dia menenangkan tangis Vinder dengan menyelamatkan nyawa Aryesh Farorz." Braheim menoleh pada Menteri Hukum. "Itu masih dugaan."


"Mohon izin berbicara, Yang Mulia."

__ADS_1


Braheim mengangguk pada Kepala Penyidik.


"Ini tentang kemunculan pemimpin suku pengembara yang sudah wafat. Sepertinya sama seperti kemunculan makhluk aneh di masa kelam."


Braheim mengubah posisi duduknya, menghadap Kepala Penyidik sepenuhnya. "Sepertinya kau menukar waktu istirahatmu dengan sesuatu yang akan membantu mengurai benang yang rumit ini. Lanjutkan."


"Terima kasih, Yang Mulia." Kepala Penyidik mengeluarkan buku catatannya dari dalam jubah. "Hamba bertemu dengan seorang Mausam* hari ini. Dia membenarkan pernyataan Sayee karena dia juga sudah hidup selama empat generasi ...."


Mausam* adalah pengendali cuaca dan musim.


Kepala Penyidik menyampaikan hasil percakapannya dengan si Mausam sedetail dan semudah mungkin. Dahulu, ada sesosok makhluk aneh yang tiba-tiba muncul di Kumari Kandam dan menghancurkan apa saja yang ditemuinya. Makhluk aneh itu muncul tak lama setelah penerus pemimpin suku pengembara dibunuh oleh sukunya sendiri. Saat itu dianggap masa yang paling kelam.


"Aryesh Farorz dan Sayee," gumam Braheim.


"Benar, Yang Mulia." Kepala Penyidik membalik buku catatannya. "Namun anehnya makhluk itu tidak melanjutkan serangannya setelah suku pengembara mati. Pun tidak menyerang suku pengembara yang tersisa. Makhluk itu pergi begitu saja ...."


Ya. Makhluk aneh itu pergi begitu saja seperti anjing yang sudah puas mengamuk setelah tuannya melemparkan tulang. Lalu di tengah tangis histeris Aryesh Farorz dan Sayee yang saat itu bahu-membahu mengebumikan satu per satu jasad saudaranya yang mati mengenaskan, seorang pria muncul. Pria misterius yang berpakaian serupa suku pengembara.


"Daxraj Natesh?"


"Benar, Yang Mulia. Daxraj Natesh adalah penerus pemimpin suku pengembara yang disembunyikan demi menghindari perebutan tahta. Beliau memiliki saudara kembar," balas Kepala Penyidik.

__ADS_1


"Tunggu. Jangan katakan jika yang muncul baru-baru ini adalah saudara kembar si tukang pamer itu?"


"Tidak, Yang Mulia. Saudara beliau sudah wafat." Kepala Penyidik kembali membalik buku catatannya. "Meski begitu Daxraj Natesh tidak mengambil tahta. Dia hanya mengajarkan penerus saudaranya untuk mengendalikan kekuatan dan kemudian menghilang ...."


Menghilang sampai masa kelam memanggilnya. Barulah saat itu Daxraj Natesh menduduki tahta, dan melanjutkan pengembaraan bersama Aryesh Farorz, Sayee, beserta segilintir suku pengembara yang melayaninya selama masa persembunyian. Jadi jika disimpulkan, kemunculan sosok serupa Daxraj Natesh saat ini adalah pertanda akan terulangnya masa kelam.


"Tunggu, Kepala Penyidik. Tetapi penerus pemimpin suku pengembara saat ini masih hidup, dan bukankah yang terjadi di masa kelam disebabkan penerus pemimpin suku pengembara yang akhirnya tewas?"


"Jika makhluk itu sudah muncul hanya karena penerus pemimpin suku pengembara yang hampir tewas, apa jadinya jika akhirnya benar-benar tewas?" tanya Kepala Penyidik pada Menteri Luar Benua.


Braheim menghela napas. "Kenapa masalah di Kumari Kandam ini tidak pernah ada habisnya? Tidak. Daripada itu, berapa usia si tukang pamer itu jika dia sudah hidup sejak masa pemerintahan Raja Bhaavesh I?"


Menteri Agama berdeham, "Yang Mulia, ada yang lebih penting dari itu. Pertama, sebaiknya kita hentikan pembongkaran liang lahad pemimpin suku pengembara karena sudah jelas yang ada di luar sana adalah Sanjeev Rajak atau iblis lainnya."


"Hamba setuju, Yang Mulia. Kita juga harus menambah penjagaan pada penerus pemimpin suku pengembara demi menghindari penyerangan seperti waktu itu." Menteri Hukum menimpali.


"Tapi dibandingkan menambah penjagaan, menurut hamba jauh lebih tepat jika menangkap suku pengembara yang berkeliaran di luar sa--"


Braheim mengangkat tangannya, membuat ucapan Menteri Sosial menggantung. "Ghanzafer El-Amin, kenapa wajahmu pucat?"


DEG DEG DEG

__ADS_1


__ADS_2