
Sejak Haala pergi untuk menjalankan perintah dari Braheim, hujan terus membasahi tanah Kumari Kandam. Awalnya semua orang menganggap itu hal yang lumrah. Namun seiring tahun berganti, mereka akhirnya menyadari jika hujan tersebut adalah air mata sang raja yang tak ikhlas memberikan wanitanya pada pemimpin suku pengembara.
Memang. Beberapa suratan takdir memang sekejam itu, jadi bisa apa lagi selain menerima? Jika dihadapkan pada masalah yang sama, siapa pun itu yang bernurani pasti akan melakukan hal yang sama pula dengan Braheim. Perihal perang melawan Gaana dan antek-anteknya di masa lalu, apa jadinya jika saat itu pemimpin suku pengembara tidak berubah pikiran?
Pun perang kebinasaan di masa depan yang diketahui melawan Tabib Kerajaan Kumari Kandam, Sanjeev Rajak. Jika penerus pemimpin suku pengembara yang digadang sebagai pemenang tidak lahir, maka Kumari Kandam harus bersiap akan gelar pemenang yang pada akhirnya berpindah tangan. Apa ada yang lebih mengerikan dari waktu kematian yang tepat ditebak?
"Kita harus semakin patuh pada Yang Mulia Braheim. Bayangkan jika bukan beliau yang memimpin kita, sudah pasti saat ini Kumari kandam sedang sibuk mempersiapkan pesta pernikahan yang megah."
"Benar. Tapi meski begitu tetap saja aku merasa sudah menghalangi kebahagiaan Yang Mulia Braheim." Penduduk lain menimpali.
"Bicara apa si bodoh ini. Jika tidak menghalangi beliau maka kita semua akan binasa sebelum sangkakala sempat ditiup."
"Aku tahu. Aku hanya berpikir, kenapa pemimpin suku pengembara harus mewariskan kekuatannya pada penerusnya? Kenapa tidak pada Yang Mulia Braheim saja? Beliau adalah raja, dan seorang raja sudah pasti lebih unggul dari manusia lain, bukan?"
"Kau pikir pemimpin suku pengembara itu manusia?"
"Tentu saja. Kudengar dia juga meminum teh dan memakan Laddu*."
Laddu* kue manis berbentuk bola-bola kecil. Laddu dibuat dari tepung dan gula yang dicampur dengan berbagai bahan seperti kacang mede, almond atau kismis. Beberapa jenis laddu juga dibuat dari kacang dan wijen lalu dicampur dengan sirup gula.
__ADS_1
"Memang ada manusia yang bisa memutar waktu dan mengalahkan Gaana hanya dengan dua buah kata? Yang benar saja."
"Kurasa dia ada benarnya. Jika pun pada akhirnya Yang Mulia Braheim tidak bisa menerima kekuatan pemimpin suku pengembara, bukankah dia dan Komandan Haala hanya perlu membuat pahlawan kita?"
"Lalu bagaimana jika pemimpin suku pengembara menolak dan Yang Mulia Braheim meninggal? Apa kau yang akan jadi pahlawan kita? Bahkan menggendong dua gulungan kayu bakar pun kau langsung jatuh sakit."
"Benar juga. Bisa gawat jika pemimpin suku pengembara sampai menolak."
"Daripada itu, benarkah Yang Mulia Ratu akan mundur dari tahta?"
"Entahlah. Karena Yang Mulia Braheim belum mengumumkan apapun bisa jadi itu hanya gosip."
"Mana mungkin. Hei, jangan terlalu memercayai gosip. Kalian bisa dijerat undang-undang baru. Sudahlah. Ayo pergi."
Mana mungkin Ratu Kumari Kandam melepaskan mahkotanya hanya karena seorang pria? Namun begitulah adanya. Jihan lebih memilih mencari Firdoos Shyamali, pria dari Svarg* yang tulus berada di pihaknya tanpa mengharap sekantong koin emas pun status. Hanya saja Braheim kesulitan menemukan waktu yang tepat untuk mengumumkannya.
Svarg* adalah tempat penampungan para budak pria berwajah rupawan. Sebagian dari mereka dikirim ke rumah bordil, dan sebagian lagi dikirim secara rahasia ke istana ratu atau harem.
Bagaimana tidak? Para raja dari empat benua terus datang secara bergantian menghadap Braheim, pun para menteri yang seolah bekerja sama mendesaknya agar segera mengadakan pemilihan calon ratu. Rasanya mahkota yang bertengger di kepala Braheim pun ikut mengeluarkan asap. Menjemukan, tetapi apa boleh buat, kesempatan mengelak sudah habis.
__ADS_1
"Raja Braheim, setidaknya Anda harus memberi alasan kenapa hanya Benua Chamakadaar, Lagaam, dan Shushk saja yang boleh mengirimkan calon ratu." Raja Hathelee bertanya dengan nada suara putus asa.
Raja Garjan menimpali, "Itu benar, Raja Braheim. Akan lebih baik jika Anda beralasan yang tidak masuk akal daripada tidak mengatakan apapun dan membuat kami seperti telah melakukan kesalahan."
"Mohon izin berbicara, Yang Mulia."
Braheim hanya mengganguk menanggapi Penasihatnya, Murat Iskender.
"Jika Anda ingin memandang mendung tanpa gangguan sekecil apapun, lebih baik Anda tidak merahasiakannya lagi, Yang Mulia," imbuh Murat.
Braheim memutar kursinya memunggungi meja pertemuan. "Selir Jasoda dari Jvaala, Selir Ghaaliya dari Garjan, Selir Hameeda dari Hatheele, dan Selir Praveena dari Padachihn, sudah melakukan kesalahan pada orang yang statusnya lebih tinggi. Aku menangguhkan hukuman mereka karena saat itu kita sedang berperang."
"Sudah kuduga. Seharusnya Anda memberi tahu kamu lebih awal, Raja Braheim."
"Aku hanya memberi kesempatan pada mereka. Tak kusangka mereka menyiakannya," balas Braheim pada Raja Garjan.
"Lalu bukankah tidak masalah jika kami mengirim yang lain untuk mengisi posisi ratu?"
Spontan Braheim memutar kursinya, menghadap Raja Hathelee. "Tentu saja. Tapi apa tidak masalah juga jika aku menjatuhi mereka hukuman mati sebelum yang lain itu dikirim?"
__ADS_1